10 Februari 2018

Akselerasi Kinerja Penyelenggaraan Pendidikan Non Formal Kabupaten Blora ( Studi kasus pendidikan keaksaraan dan pendidikan kesetaraan ) Oleh Drs. Slamet, M.Pd, MM

Abstraksi

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis komponen-komponen pendidikan; (2) menganaisis kinerja penyelenggaraan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan; (3) menganalisis strategi akselerasi penyelenggaraan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan. Untuk tujuan tersebut digunakan metode survey dengan teknik analisis statistik deskriptif dan asosiatif. Terdapat dua Variabel penelitian yaitu Komponen-komponen pendididkan sebagai variabel independen dan Kinerja Penyelenggaran PNF sebagai variabel dependen.Teknik sampling cluster menetapkan sampel sebanyak 10 (sepuluh) Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dan 1 (satu) Sanggar Kegiatan Belajar di 11 kecamatan.

Hasilnya diketahui bahwa dari 8 dimensi Komponen Pendidikan yang memiliki kontribusi tinggi menunjang pendidikan adalah dimensi lingkungan (13,71%), dimensi tujuan (13,68%), dan dimensi kurikulum (12,74%). Variabel Kinerja Penyelenggara ditopang dari dimensi kemampuan kerja (20,90%, dimensi kualitas kerja (20,36), dan  dimensi komunikasi kerja ( 19,72%). Hubungan asosiasi antar variabel dipergunakan analisis dan uji korelasi dan uji komparatif. analisis Uji komparatif ketiga subyek penelitian hasilnya Fhitung < Ftabel atau 0,111< 3,316) untuk Variabel Komponen Pendidikan dan Variabel kinerja Fhitung < Ftabel atau 0,557 <  3,316). Kedua Variabel memberikan simpulan bahwa tidak ada perbedaan secara signifikan. Hasil analisis korelasi product moment antara kedua variabel diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,785 dan uji thitung > ttabel (7,059 > 2,037), disimpulkan ada hubungan secara signifikan. Secara parsial 8 dimensi komponen pendidikan juga berkorelasi secara sisfnifikan terhadap kinerja penyelenggaraan PNF utamanya dimensi metode, lingkungan belajar, dan penilaian.

Kata kunci : kinerja – pendidikan – keaksaraan dan kesetaraan.

 

  1. Pendahuluan

Beberapa permasalahan yang berkembang program pendidikan keaksaraan dan kesetaraan di Blora dapat dilihat dari berbagai  komponen a.l. masih tingginya para penyandang buta aksara usia 15-59 tahun mencapai 30.080 dari 530.686 orang atau 7,66% (susenas 2010-hasil observasi 65% perempuan), didapati anak-anak yang putus sekolah atau belum/tak pernah bersekolah. Kompetensi Pendidik/Tutor berkaitan dengan peserta didik yang heteroginitas fisik dan non fisik tidak bisa disamakan dalam proses pembelajaran seperti pendidikan formal akibatnya proses pembelajaran tidak tuntas. Materi/kurikulum,  tuntutan materi sesuai standar isi pencapaiannya sulit diwujudkan mengingat keterbatasan sarana prasarana dan kemampuan peserta didik. Keterbatasan penganggaran menjadi hambatan keterjangkauan layanan kebutuhan masyarakat. Terbatasnya satuan pendidikan yang menangani baik dari pemerintah maupun PNF berbasis masyarakat dan pengelolaan manajerial masih konvensional.

Kondisi capaian kinerja masih terdapat 35,4 % yang belum bersekolah setara SMP dan 54,8 % setara SMA (RKP Blora 2014). Pencapaian IPM 72,10 di bawah rerata Jateng 74,05 (IPM Blora 2013), rendahnya kualitas pembangunan manusia dipengaruhi masih rendahnya indikator penunjang dari Angka Melek Huruf (Lit) 85,46, rerata lama sekolah (MYS)  6,55. Sementara itu juga masih terdapat Angka Putus Sekolah (drop out) jenjang SD, SMP, dan SMA sebanyak 314 orang (BDA 2014).

Salah satu kebijakan yang perlu mendapatkan perhatian disamping perbaikan kinerja melalui pendidikan formal, maka pendidikan non formal diharapkan dapat berkontribusi mengatasi persoalan tersebut, asalkan dilakukan dengan strategi yang efektif. Berdasarkan latar belakang di atas maka pentingnya dilakukan penelitian tentang Akselerasi kinerja Penyelenggaraan Pendidikan Non Formal (Studi kasus pendidikan keaksaraan dan kesetaraan) di Kabupaten Blora.

Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

  1. Komponen-komponen apa yang mempengaruhi penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan dan kesetaraan di Kabupaten Blora ?
  2. Bagaimanakah capaian kinerja pelaksanaan penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan dan kesetaraan di Kabupaten Blora ?
  3. Bagaimanakah Strategi akselerasi kinerja penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan dan kesetaraan di Kabupaten Blora ?

 

  1. Kajian Pustaka
  2. Kajian Teori.
  3.  Kebijakan program pendidikan keaksaraan dan kesetaraan.
  4. Pendidikan Keaksaraan.

Pendidikan keaksaraan adalah pendidikan yang ditujukan kepada warga masyarakat yang buta aksara Latin usia 15 tahun ke atas agar mereka dapat membaca, menulis, berhitung, berbahasa Indonesia dan berpengetahuan dasar sehingga memiliki peluang untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. Jenis pendidikan keaksaraan meliputi pendidikan keaksaraan dasar, pendidikan keaksaraan  lanjutan, dan pendidikan keaksaraan mandiri. Untuk menjamin mutu akhir pendidikan keaksaraan peserta didik mengikuti uji kompetensi keaksaraan dan bagi yang memenuhi syarat akan memperoleh surat keterangan melek aksara.

Program pendidikan keaksaraan dilakukan dengan mekanisme sebagaimana berikut: Tahap pertama, mempersiapkan penyelenggaraan pendidikan dengan melakukan pendataan warga masyarakat berusia 15 tahun ke atas yang belum bisa membaca, menulis, berhitung, dan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, mempersiapkan tutor yang memiliki kompetensi, kurikulum/materi, dan komponen lain terkait. Kedua, proses pendidikan dilakukan dalam tiga program meliputi program keaksaraan dasar, keaksaraan lanjut, dan keaksaraan mandiri. Secara terintergrasi dapat dilaksanakan program pendidikan kecakapan hidup. Ketiga, hasil pendidikan keaksaraan sesuai jenjang. Tahap keempat, untuk penjaminan mutu pendidikan keaksaraan dilakukan uji kompetensi keaksaraan. Peserta didik yang lulus uji kompetensi diberikan Surat keterangan “melek aksara”.

  1. Pendidikan Kesetaraan.

Pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA yang mencakup program Paket A, Paket B, dan Paket C, serta pendidikan kejuruan setara SMK/MAK yang berbentuk Paket C kejuruan.

Peserta didik program Paket A adalah anggota masyarakat yang memenuhi ketentuan wajib belajar setara SD/MI melalui jalur pendidikan non formal. Program paket B bertujuan membekali peserta didik dengan keterampilan fungsional, sikap dan kepribadian profesional yang memfasilitasi proses adaptasi dengan lingkugan kerja. Peserta didik porgram Paket B dipersyaratkan lulus SD/MI, program Paket A, atau yang sederajat. Peserta didik Paket C adalah anggota masyarakat yang menempuh pendidikan menengah umum melalui jalur pendidikan non formal. Sedangkan peserta didik Paket C Kejuruan adalah anggota masyarakat yang menempuh pendidikan menengah kejuruan melalui jalur pendidikan non formal.

Mekanisme proses pendidikan kesetaraan melalui pentahapan seperti berikut: Tahap  pertama adalah satuan penyelenggara pendidikan melakukan persiapan pada tahapan raw input meliputi mendaftaran calon peserta didik bersyarat, tutor, dan penunjang lain. Kedua proses pembelajaran sesuai jenjang pendidikan untuk Paket A diperuntukkan bagi peserta didik yang putus sekolah atau telah mengikuti program keaksaraan, Paket B bagi peserta didik yang telah tamat SD/MI atau DO SMP, dan paket C bagi yang tamat dan memiliki Jazah SMP/MTs sederajat atau DO SMA. Secara bersamaan program pendidikan kecakapan hidup, pemberdayaan perempuan, dan pendidikan kepemudaan juga berproses. Tahap ketiga adalah out put atau hasil proses pendidikan. Keempat tahap uji kesetaraan untuk Paket A, B, dan C bagi peserta yang lulus diberikan Tanda Tamat Belajar/Ijazah setara dengan pendidikan formal. Sedangkan hasil belajar program pendidikan kecakapan hidup untuk memperoleh pengakuan kesetaraan dengan mata pelajaran vokasi pada jenjang pendidikan menengah dilakukan uji kesetaraan yang diselenggarakan oleh SMK berakreditasi BAN S/M minimal B. Sedangkan untuk memperoleh pengakuan kesetaraan dengan mata kuliah vokasi pada jenjang pendidikan tinggi dapat dilaksanakan Perguruan Tinggi yang berakreditasi minimal B dari BAN PT.

  1. Kinerja Pengelolaan dan Penyelenggaraan Program Pendidikan Non Formal Program Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan.

Pencapaian kinerja pendidikan tidak terlepas dari kemampuan para pengelola dan penyelenggara pendidikan dalam menyusun perencanaan, pelaksanaan, pemotivasian, dan pengawasan.  Untuk mengetahui kinerja satuan pendidikan dapat diukur dari totalitas fungsi manajerial. Faktor yang berpengaruh dalam penyelengaraan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan dikelompokkan pada dimensi Input – Proses – Out put – Out come. Komponen-komponen yang mempengaruhi pencapaian kinerja sebagai raw input sangat berpengaruh dalam proses dan hasil pendidikan. Menurut Hamzah  B. Uno dan Nina Lamatinggo (2012: 71) bahwa pengukuran kinerja memiliki lima dimensi, yaitu kualtas kerja, kecepatan/ketepatan, inisiatif dalam kerja, kemampuan kerja, dan komunikasi.

  1.  Penelitian yang Relevan

Riset yang dilakukan Prof. Dr. Tri Joko Raharjo dalam penelitian  “Model Pemberdayaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Dalam Pengelolaan Program Pendidikan Kesetaraan Berbasis Life Skills dan Kewirausahaan” (Edukasi, 2010) ia merekomendaiskan pendekatan andragogi karena lebih efektif. Proses pembelajaran pada pendidikan tersebut harus melaksanakan prinsip 4 pilar, yakni belajar untuk tahu, belajar menjadi diri sendiri, belajar untuk melakukan, belajar untuk mencapai tujuan kehidupan bersama. Metode belajar kontekstual yang mengkaitkan kehidupan nyata  dengan menggunakan potensi lingkungan sekitar, memperluas wawasan dan memiliki akses untuk memenuhi standar hidup yang layak.

Studi tentang Implementasi Program Belajar Sepanjang Hayat di Indonesia hasi penelitian  Achmad Hufad, Jhoni R Pramudia, Sardien Supariatna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa belajar sepanjang hayat merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan pendidikan di Indonesia. Temuan ini terungkap dalam beberapa produk kebijakan pendidikan yang mengkonseptualisasi belajar sepanjang hayat menjadi prinsip dan asas penyelenggaraan pendidikan, baik pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal dalam berbagai jenis, jenjang dan program pendidikan. Konseptualisasi dan pengungkapannya dapat dicermati dalam beberapa produk kebijakan pendidikan di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Kajian teoritis dan hasil penelitian yang relevan tersebut sebagai pijakan dan mendasari penelitian ini.

III. Metode Penelitian.

  1. Pendekatan dan Metode Penelitian.

Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian kebijakan dengan menggunakan pendekatan survey untuk menganalisis variabel komponen-komponen pendidikan kesetaraan dan keaksaraan sebagai variabel independen dan capaian kinerja pendidikan keaksaraan dan kesetaraan sebagai variabel dependen di Kabupaten Blora.

  1. Populasi,  Sampel, Responden dan Sumber Data.

Populasi penelitian ini adalah lembaga penyelenggara pendidikan kesetaraan dan keaksaraan di lingkungan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Blora. Sampel penelitian dilakukan berjumlah 11 Lembaga Penyelenggara Pendidikan Keaksaraan dan Pendidikan Kesetaraan tersebar di 11 wilayah kecamatan. Responden penelitian ini terdiri dari Penyelenggara/Ketua lembaga/kursus, Sumber Belajar/Tutor, Warga Belajar, Kepala Desa, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga, BPS Kabupaten Blora. Sumber data primer yang digunakan merupakan hasil wawancara dan diskusi terfokus yang dikonfirmasikan stakeholders terkait dan didukung pengumpulan angket dari responden. Sumber data sekunder diambil dari BPS, Bappeda, Dindikpora, Lembaga Penyelenggara, dan Instansi terkait di tingkat Kabupaten Blora.

  1. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik observasi dipergunakan untuk mengumpulkan data-data sekunder variabel penyelenggaraan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan.

Teknik quesioner dipergunakan untuk mengumpulkan data variabel komponen yang mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan, serta kinerja Penyelenggaraan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan.

Teknik  wawancara dan focus group discusion (FGD) dipergunakan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dan detail mengenai kondisi riil, sekaligus sebaga wahana konfirmasi hasil pengumpulan data sekunder.

Teknik dokumentasi dipergunakan untuk mendukung validasi dan keabsahan data.

  1. Teknik Analisa Data

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif yaitu mendeskripsikan variabel pendidikan keaksaraan dan pendidikan kesetaraan, serta capaian kinerja penyelenggara. Sedangkan untuk mengetahui hubungan kedua variabel menggunakan pendekatan analisis statistik inferensial. Untuk menguji kedua variabel tersebut digunakan analisis komparatif dan korelasi bivariat dengan terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan. Uji signifikansi korelasi dilakukan dengan uji t dengan rumus Rumus t hitung :

t hitung  =

keterangan :

r = koefisien korelasi

n = jumlah data

Program yang digunakan dalam pengolahan data dilakukan melalui pendekatan program SPSS.

 

  1. Hasil Penelitian dan Pembahasan.
  2. Gambaran Umum Kabupaten Blora.
    1. Letak Geografis.

Kabupaten Blora secara geografis terletak diantara 111o 16’ s.d. 111o 338’ Bujur Timur dan diantara 6o 528’ s.d. 7o 248’Lintang Selatan, jarak terjauh dari baraat ke timur  sepanjang 87 km dan dari utara ke selatan sejauh 58 km. Luas wilayah sebesar 1.820,59 km2, dengan ketinggian  terendah 25 m dpl dan tertinggi 500 m dpl  Secara administrasi Kabupaten Blora terletak di ujung paling timur provinsi Jawa Tengah, berbatasan sebelah utara Kabupaten Rembang, Timur Kabupaten Bojonegoro (provinsi Jatim), selatan Kabupaten Ngawi (provinsi Jatim), sebelah Barat (Kabupaten Grobogan). Jarak dengan ibukota provinsi 127 km.

  1. Data Penduduk dan Penduduk Usia Sekolah.

Jumlah penduduk di Kabupaten Blora menunjukkan bahwa jumlah penduduk adalah 846.432 jiwa terdiri dari laki-laki 417.401 jiwa atau 49,31% damn perempuan 429.031 atau 50,69% jiwa. Dari jumlah tersebut 85.986 jiwa dirinci menurut usia sekolah adalah berusia 7-12 tahun (10,16%), 13-15 tahun 42.235 jiwa (4,99%) dan usia 16-18 tahun 37.126 jiwa (4,39%).

  1. Sektor Usaha.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Blora pada tahun terakhir sebesar Rp 2.472.179,81 Milion (ADHK 2000) atau Rp 5.972.604,56 Milion (ADHB). Sektor pertanian yang terdiri dari sub sektor : tanaman pangan, tanaman perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan, memberikan kontribusi tinggi dibanding sektor-sektor usaha lainnya yaitu 49,22%. Selaras dengan sektor ini penduduk yang bekerjapun banyak di sektor pertanian yaitu 43,97% dari total penduduk. Sektor usaha listrik dan air memberikan konstribusi yang paling rendah yaitu 0,91%. Sektor usaha perdagangan/hotel memberikan kontribusi 16,46% lebih besar dari sektor lain setelah sektor pertanian. Melihat kondisi riil dengan semakin perkembangnya eksploitasi minyak dan gas bumi di wilayah pertambangan Blok Cepu (terdiri dari Kabupaten Blora dan Bojonegoro), menarik para pemilik modal secara atrakatif besar-besaran berinvestasi membangun property perumahan dan perhotelan.

  1. Penduduk Berdasarkan Pendidikan.

Pendidikan penduduk usia 10 tahun ke atas 81,69 % masih pada level pendidikan dasar, pendidikan menengah 13,19 %dan pendidikan tinggi 5,12 % termasuk kategori cukup tinggi.

  1. Jumlah Anak Putus Sekolah (APS).

Data Siswa Putus Sekolah tingkat pendidikan dasar relative sama selama tiga tahun terakhir, ada kecenderungan APS meningkat setelah duduk di kelas V dan kelas VI. Demikian pula pendidikan menengah kecenderungan APS meningkat setelah duduk di kelas II dan kelas III. Pada tahun 2014 rata-rata APS jenjang SD+MI 0,75 %, SMP+MTs 1,64, dan SM+MA 2,10.

  1. Data APK dan APM Menurut Jenjang Sekolah.

APK SD+MI termasuk Paket A sudah mencapai di atas 100 % kecuali tahun 2014 menurun dari 101,77 menjadi 98,50 dibanding tahun sebelumnya. SMP+MTs+Paket B dan SM+MA+Paket C mengalami peningkatan selama 4 tahun. Pada tahun 2014 APM SD+MI+Paket A 82,31, SMP+MTs+Paket B 66,54, dan SM+MA+Paket C 48,35.

  1. Penduduk Buta Aksara.

Data penduduk usia 15 s.d. 59 tahun sebagai sasaran program keaksaraan relatif tinggi terdapat 30.084 warga. Dikaitkan dengan pengelompokan sebagaimana program sekarang 1 kelompok ada 10 orang maka ada 3.008 yang masih perlu penanganan. Proporsi penduduk buta aksara perempuan sebanyak 65,91% lebih banyak dari pada penduduk laki-laki sebesar 34,09% dan tersebar di seluruh kecamatan.

  1. Hasil Penelitian
  2.  Deskripsi Program Keaksaraan

Ruang Lingkup Program Pendidikan Keaksaraan Dasar yaitu : a. Peserta didik usia 15-59 tahun; b. Pendidik/Tutor yang memiliki kompetensi dalam proses pembelajaran keaksaraan dan memiliki standar kualifikasi pendidikan minimal SLTA;  c. Sarana dan prasarana pembelajaran, administrasi sekolah, dan administrasi keuangan;. d. Mengacu pada standar kompetensi kelulusan dan standar kompetensi dasar; e. Bahan ajar menggunakan bahan cetak maupun bahan ajar kontekstual sesuai lingkungan belajar; f. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan tematik, terpadu, dan fungsional dapat menggunakan metode pembelajaran secara paedagogis (pembelajaran untuk anak), andragogis (pembelajaran orang dewasa), dan/atau heutagogis (pembelajaran secara mandiri). Upaya percepatan penuntasaan buta aksara dilakukan secara bersamaan antara pemerintah dan pemerintah daerah. Pada Tahun Anggaran 2015 pendanaannya bersumber dari pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten.

Apabila dibandingkan dengan target sasaran tampak sudah ada upaya mempercepat penuntasan buta aksara dasar tahun ini 215 kelompok (7,2 %) atau 2.150 warga belajar berarti tersisa  2.793 kelompok (92,8 %). Secara bersamaan juga diselenggarakan program pendidikan keaksaraan fungsional (lanjutan) sebanyak 15 kelompok yang dananya dari APBD Kabupaten.

  1. Program Kesetaraan.
  2. Penyelenggara.

Terdapat 2 PKBM yang menyelenggarakan Paket A, B, dan C dan 7 PKBM yang hanya memiliki Paket B dan Paket C, lainnya hanya menyelenggarakan Paket B/Paket C saja. Ketersediaan bahan ajar (modul/buku teks/buku penunjang) masing-masing telah tersedia, namun kelengkapannya belum merata. Untuk Paket A tersedia 25%, paket B ada 67%, dan Paket C tersedia 50%. Buku administrasi yang terdiri dari administrasi sekolah dan administrasi kegiatan belajar mengajar hasil temuan menunjukkan bahwa untuk Paket A tersedia dan dimanfaatkan 17%, paket B ada 67%, dan Paket C 50%.

Hasil temuan pendidikan Orang tua warga belajar pendidikan non formal mayoritas berpendidikan tidak tamat SD/MI atau putus sekolah sangat tinggi yakni 67%, SD 22%, dan SLTP 11% sebagaimana Gambar 4.4. Pekerjaan orang tua sebanyak 69% orang tua warga belajar bekerja sebagai petani, 15% buruh tani dan 15% pedagang kaki lima.

  1. Analisis Statistik.

Guna mempertajam kedua variabel yang secara deskriptif di atas, perlunya dijelaskan secara kuantitatif hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen, dan juga untuk menganalisis apakah ada perbedaan persepsi antara para pelaku utama, serta seberapa besar pengaruh peningkatan variabel dependen apabila setiap satu-satuan dari variabel independen mengalami peningkatan.

Sebelum dilakukan analisis data terhadap kedua variabel maka masing-masing dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas menggunakan uji validitas item soal terhadap total skore.

  1. Uji Beda.

Untuk mengetahui adakah perbedaan antara sumber data yang diperoleh dari 3 kelompok yaitu kelompok Penyelenggara, kelompok Tutor Keaksaraan, dan kelompok Tutor Kesetaraan penelitian ini menggunakan metode Uji Varian Satu Jalur (one way ANOVA). Sebelum dilakukan uji one way ANOVA terlebih dahulu dilakukan uji kesamaan varian (homoginitas) sebagai syarat statistic parametric dengan Levene test untuk mengetahui apakah varaian ketiga kelas sama.

  1. Analisis Korelasi Bivariat.

Analisa korelasi bivariat dipergunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (komponen-komponen pendidikan) dengan variabel dependen (capaian kinerja penyelengara) dengan tujuan untuk mengetahui seberapa kuat hubungan antar variabel. Analisa korelasi dilakukan dua tahap. Pertama antara komponen pendidikan secara keseluruhan dengan capaian kinerja penyelenggara. Kedua masing-masing sub varaiabel komponen pendidikan dengan capaian kinerja pendidikan.

Berdasarkan hasil analisis korelasi bivariat  ( r ) tahap pertama diperoleh korelasi antara komponen-komponen pendidikan dengan capaian kinerja penyelenggara pendidikan keaksaraan dan kesetaraan  ( r ) adalah 0,785. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang “kuat” karena berada di rentang 0,60 – 0,799. Dilihat arah hubungan adalah positif karena nilai r positif, berarti semakin tinggi komponen-komponen pendidikan, maka semakin tinggi.

Analisis korelasi bivariat tahap kedua untuk mengetahui ada tidaknya  hubungan antara sub variabel komponen-komponen pendidikan dengan capaian kinerja penyelenggara pendidikan keaksaraan dan kesetaraan. Terdapat 8 komponen yang mempengaruhi pendidikan keaksaraan dan kesetaraan, yaitu komponen tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, kurikulum, pendanaan, metode, evaluasi dan lingkungan.

Nilai korelasi antara masing-masing komponen pendidikan keaksaraan dan kesetaraan dengan capaian kinerjanya. Tahapan selanjutnya adalah mengambil keputusan hasil statistik uji di bawah ini dengan membandingkan nilai r tabel, dimana dengan menggunakan toleransi kesalahan (α) sebesar 5% dan dengan sampel sebanyak 33, diperoleh nilai rtabel sebesar 0,334. Keputusan tolak Ho didapat apabila nilai rhitung lebih besar dari  rtabel. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh nilai rhitung setiap komponen pendidikan dengan capaian kinerja memiliki nilai lebih besar dari r tabel. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara parsial, masing-masing komponen pendidikan keaksaraan dan kesetaraan memiliki hubungan linier yang signifikan.

Pembahasan.

Hasil pengumpulan data kuantitatif kedua variabel diketahui distribusi masing-masing dimensi adalah sebagai berikut :

Variabel komponen yang berpengaruh terhadap pendidikan.

Variabel ini meliputi 6 dimensi dan berdasarkan peringkat  3 tertinggi adalah dimensi lingkungan berpengaruh 13,71% , dimensi tujuan 13,68%, dan dimensi kurikulum 12,74%. Sedangkan dimensi di bawah rerata adalah : pendidik, peserta didik, pendanaan,  metode, dan evaluasi-penilaian.

Distribusi dimensi masing-masing variabel capaian kinerja penyelenggara pendidikan keaksaraan dan kesetaraan berdasarkan tiga peringkat tertinggi adalah dimensi kemampuan kerja 20,90%, kualitas kerja 20,36%, dan komunikasi 19,72%. Adapun capaian kinerja rata-rata 82,06%.

Guna mengetahui keberhasilan Kinerja Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan penelitian ini mengambil dua variabel yakni pertama, variabel Komponen-Komponen yang berpengaruh sebagai Variabel Independen dengan 2 (dua) sub variabel ditinjau dari dimensi internal dan dimensi eksternal. Kedua, variabel Kinerja Penyelenggaraan sebagai variabel dependen dengan sub variabel 6 dimensi : kualitas kerja, ketepatan kerja, inisiatif kerja, kemampuan kerja, dan komunikasi. Sebagai responden utama ada 3 (tga) kelompok yakni kelompok Penyelenggara, kelompok Tutor Keaksaraan dan kelompok Tutor Kesetaraan. Apakah kedua variabel di  atas dipersepsikan sama atau justru berbeda oleh kelompok responden maka dilakukan uji beda (comparative).

Uji Beda terhadap Variabel Independen dengan Hipotesa:

Hasil Uji Beda didapat nilai F hitung adalah 0,111 dengan menggunakan tingkat signifikansi 0,5 (tingkat kepercayaan 95%),  df 1 (jumlah kelompok data – 1) atau 3-1=2, dan df 2 (n-3) atau 33-3=30 hasil diperoleh untuk Ftabel 3,316 (lihat lampiran). Oleh karena nilai Fhitung  lebih kecil dari Ftabel (0,111 < 3,316) maka Ho diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara kelompok Penyelenggara,  kelompok Tutor Keaksaraan, dan kelompok Tutor Kesetaraan pada Variabel independen. Lebih lanjut dijelaskan bahwa merujuk pada table Discriptives terdapat rata-rata (mean) untuk kelompok Penyelenggara adalah 107,55, kelompok Tutor Keaksaraan adalah 105,64, dan kelompok Tutor Kesetaraan adalah 106,00, artinya bahwa rata persepsi Penyelenggara paling tinggi dan terendahnya adalah Tutor Keaksaraan.

Uji Beda terhadap Variabel Dependen:

Merujuk hasil uji beda di atas diperoleh out put di atas nilai F hitung adalah 0,557 dengan menggunakan tingkat signifikansi 0,5 (taaraf keperayaan 95%), df 1 (jumlah kelompok data – 1) atau 3-1=2, dan df 2 (n-3) atau 33-3=30 hasil diperoleh untuk Ftabel 3,316 (lihat lampiran). Oleh karena nilai Fhitung  lebih kecil dari  Ftabel  atau (0,557 < 3,316) maka Ho diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara kelompok Penyelenggara,  kelompok Tutor Keaksaraan, dan kelompok Tutor Kesetaraan pada Variabel dependen. Sehingga dapat diinterprestasikan bahwa ketiga kelompok memiliki persepsi yang sama bahwa Capaian Kinerja Penyelenggaraan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan ditentukan dalam 6 dimensi yang meliputi : 1) kualitas kerja, 2) ketepatan kerja, 3) inisiatif kerja, 4) kemampuan kerja, dan 5) komunikasi. Selanjutnya pada table Discriptives terdapat rata-rata (mean) untuk kelompok Penyelenggara adalah 99,18, Tutor Keaksaraan adalah 97,64, dan Tutor Kesetaraan adalah 96,27, artinya bahwa rata-rata persepsi kelompok Penyelenggara paling tinggi, kemudian kelompok Tutor Keaksaraan dan terendahnya adalah kelompok Tutor Kesetaraan.

Uji Signifikansi koefisien korelasi Bivariat (Uji t).

Uji t ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen (komponen-komponen pendidikan) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (kinerja penyelenggara pendidikan keaksaraan dan kesetaraan).

Rumus t hitung :

t hitung  =

keterangan :

r = koefisien korelasi

n = jumlah data

 

kriteria :

Ho diterima jika t table ≤ t hitung ≤ t table

Ho ditolak jika t hitung < t table atau t hitung > t table.

Pada taraf tingkat signifikan 0,05 (tingkat kepercayaan 95%) t hitung  akan diuji dengan t table . Tabel distribusi t diperoleh dari ơ = 5% : 2 = 2,5 % (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) n-2 = 33-2 = 31 diperoleh t table  =  2,

 Tabel 4.11 : Uji t antara variabel independen dengan variabel dependen:

Independen Dependen korelasi sig 0,05 t hitung t tabel
komponen pendidikan (X) capaian kinerja (Y) 0,785 signifikan 7,059 2,037
tujuan (x1) capaian kinerja (Y) 0,413 signifikan 2,523 2,037
pendidik (x2) capaian kinerja (Y) 0,532 signifikan 3,498 2,037
peserta didik (x3) capaian kinerja (Y) 0,389 signifikan 2,350 2,037
kurikulum (x4) capaian kinerja (Y) 0,470 signifikan 2,964 2,037
pendanaan (x5) capaian kinerja (Y) 0,516 signifikan 3,352 2,037
metode (x6) capaian kinerja (Y) 0,766 signifikan 6,641 2,037
evaluasi (x7) capaian kinerja (Y) 0,636 signifikan 4,588 2,037
lingkungan (x8) capaian kinerja (Y) 0,704 signifikan 7,771 2,037
Sumber : data diolah spss.

Analisis t hitung dengan t table sebagaimana berikut : t hitung  antara komponen pendidikan dengan kinerja penyelenggara dibanding t tabel adalah t hitung  > t table atau 7,059 > 2,037 maka Ho ditolak. Demikian pula secara partial menunjukkan masing-masing sub variabel komponen pendidikan dengan kinerja penyelenggaraan juga menunjukkan t hitung > t table. Atinya ada pengaruh secara signifikan antara komponen pendidikan dengan kinerja penyelenggara pendidikan keaksaraan dan kesetaraan. Semakin tinggi peningkatan komponen pendidikan semakin meningkatkan capaian kinerja penyelenggara pendidikan keaksaraan dan kesetaraan.

Oleh karena seluruh sub variabel komponen pendidikan dengan kinerja penyelenggara diperoleh t hitung  > t table, maka Ha diterima berarti ada pengaruh secara signifikan antara semua sub variabel komponen pendidikan (x1, x2, x3, x4, x5, x6, x7, x8) dengan kinerja penyelenggara (Y). Kecenderungan hubungan semua sub variabel komponen pendidikan dengan capaian kinerja penyelenggara adalah positif.

Besarnya kekuatan hubungan antara variabel dijelaskan bahwa sub variabel metode, lingkungan dan penilaian memiliki hubungan yang lebih besar dibanding dengan variabel lainnya.

  1. Stategi Akselerasi Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaaraan dan Kesetaraan.

Berdasarkan hasil survey yang diperoleh dari data primer dan data sekunder dengan memperhatikan kondisi existing serta hasil analisis statistik, maka untuk menyusun alternatif strategi akselerasi penyelenggaraan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan dilakukan identifikasi factor internal dan factor eksternal. Faktor internal untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan program dan factor eksternal untuk mengidentifikasi peluang dan tantangan. Keterkaitan keempat kuadran dimaksud untuk memudahkan dalam penentuan alternatif strategi.

Alternatif Strategi.

Indikator penentu diambil dari hasil identifikasi dan validasi melalui focus group discution para pemangku kepentingan ke dalam matrik internal ekstrnal berikut:

Eksternal (EFAS)

 

 

 

 

 

 

Internal (IFAS)

 

Peluang (opportunity)

1. Terdapat lembaga lain yang bersedia bekerja sama

2. Adanya instansi pendidikan yang dapat diajak bekerja sama terutama dalam penyediaan tutor yang memenuhi kualifikasi

3. Adanya program keaksaraan dan kesetaraan dari pemerintah yang  memberikan dukungan penuh.

 

Tantangan  (threats)

1. Kemajuan teknologi sebagai media belajar

2. Warga belajar memiliki kegiatan lain sehingga sulit mengatur waktu.

3. Ketergantungan dana pemerintah

 

Kekuatan (strengths)

1.   Semangat warga belajar cukup tinggi.

2. memiliki visi, misi dan tujuan        pembelajaran yang jelas.

 

3. Tutor telah memenuhi standar kualifikasi

 

 

 

 

 

 

 

 

Kekuatan yang dimiliki dapat disinergikan dengan peluang yang ada,strategi SO :

a. memanfaatkan motivasi warga yang tinggi dan keinginan belajar hal baru dapat dikembangkan lebih luas dengan diakomodirnya minat warga terutama yang berkaitan dengan kegiatan peningkatan ekonomi, misalnya pendidikan keterampilan. Keterlibatan lembaga lain bisa diperluas terutama kepada BUMN yang memiliki dana CSR.

b. Meningkatkan kemampuan pengajar/ tutor dengan mengikutsertakan dalam program pelatihan yang diadakan oleh Dindikpora.

c. Penyusunan program akselerasi PNF bersama pemerintah/pemda

 

Strategi ST :

a. Motivasi warga yang tinggi terhalang kegiatan warga terutama kegiatan ekonomi (bekerja), untuk itu perlu ada edukasi bagi warga belajar untuk bisa mengelola waktu supaya tetap fokus belajar di waktu yang telah ditetapkan. Hal tersebut bisa dilakukan melakukan penyuluhan atau menjadi salah satu materi pembelajaran bagaimana membagi waktu dengan tepat. Selain itu juga perlu ada kesepakatan bersama sejak awal mengenai waktu belajar yang paling memungkinkan bagi warga belajar.

b. pengenalan IT dimasukkan sebaga materi stimulant program PNF lain.

 

 

Kelemahan (weakness)

 

1. Pelayanan, sumber dan bahan ajar terbatas.

2. Kemampuan warga belajar berbeda-beda, pada umumnya yang sudah berusia lanjut lebih susah menerima pelajaran.

3. Keterampilan yang diberikan juga terbatas sehingga kemampuan warga belajar belum benar-benar bisa dimanfaatkan untuk membuka usaha.

 

 

Strategi :

a. Perlu ada penambahan kelas untuk pendidikan keaksaraan dan kesetaraan supaya cakupan warga belajar lebih luas.

b. Menjalin kerjasama misalnya dengan perusahaan atau lembaga pendidikan untuk mendapatkan lokasi belajar yang memadai dan meningkatkan kesejahteraan pengajar.

c. Menjalin kerjasama dengan pihak lain untuk membuka program ketrampilan terapan bagi warga belajar sesuai potensi lokal

 

Strategi :

a. Secara selektif memprioritaskan warga belajar yang berpotensi dan produktif sesuai quota pendanaan yang tersedia.

b. Melibatkan tenaga pendidik yang professional dari perusahaan ikut meningkatkan pembangunan masyarakat di lokasi industri

 

 

 

 

 

  1. Kesimpulan dan Saran / Rekomendasi.
  2. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian setelah dilakukan analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan dalam penelitian ini sebagai berikut:

  1. Faktor-faktor yang memiliki pengaruh tertinggi di atas rata-rata terhadap pendidikan keaksaraan dan kesetaraan meliputi dimensi lingkungan (13,71%), dimensi tujuan (13,68%), dan dimensi kurikulum (12,74%). Peserta didik yang berpotensi dikembangkan membutuhkan pendidikan ketrampilan agar mampu berusaha secara mandiri. Sehingga dukungan tenaga pendidik yang telah memiliki standar kualifikasi perlu dikembangkan kompetensi pedagogiek terutama ranah psychomotorik terapan sesuai kebutuhan peserta didik.
  2. Capaian Kinerja Penyelenggara pendidikan keaksaraan dan kesetaraan rata-rata 82,06%. Dimensi kemampuan kerja dan kualitas kerja memberikan kontribusi tertinggi dan di atas rata-rata dibanding 3 dimensi lainnya masing-masing sebesar 20,90% dan 20,36%. Dimensi inisiatif yang rendah dipengaruhi kondisi keragaman usia peserta didik keaksaraan dan kesetaraan yang berusia tua dan belum tercukupinya sarana prasarana pembelajaran yang mendukung kemudahan berinteraksi dalam proses pembelajaran. Terdapat hubungan yang “kuat” antara variabel komponen pendidikan dengan capaian kinerja penyelenggara pendidikan keaksaraan dan kesetaraan sebesar 0,785 pada taraf signifikansi 0,05. Hasil uji signifikansi korelasi (uji t) menunjukkan bahwa thitung> ttabel atau (7,059 > 2,037).  . Sehingga semakin tinggi peningkatan variabel komponen pendidikan akan meningkatkan capaian kinerja penyelenggaraan pendidikan yang tinggi pula. Secara partial 8 dimensi komponen pendidikan menunjukkan hubungan signifikan terhadap capaian kinerja penyelenggaraan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan.
  3. Strategi akselerasi capaian kinerja penyelenggaraan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan dilakukan secara sinergi dengan kebijakan pemerintah dan pemerintah daerah, perbaikan muatan materi keterampilan terapan sesuai kebutuhan warga belajar disertai penguatan kompetensi tenaga pendidik khususnya pengembangan keterampilan para tutor. Prioritas sasaran terhadap peserta didik potensial produktif lebih diutamakan dalam pengembangan ketrampilan berwirausaha. Untuk mewujudkan penuntasan program keaksaraan dan meningkatkan lama sekolah masyarakat melalui pendidikan paket A, paket B, dan paket C yang mampu menunjang program pemerintah wajib belajar 12 tahun baru mencapai 6,3% dari sasaran. Hal ini karena ketersediaan pendanaan yang masih relative kecil dan masih ada ketergantungan pendanaan dari pemerintah.

  1. B. Rekomendasi

  1. Pemerintah Daerah menyusun program aksi jangka menengah dengan melibatkan Swasta terutama BUMN yang memiliki operasional pembiayaan CSR, dan SKB atau PKBM sebagai penyelenggara satuan pendidikan non formal dengan target dan sasaran disertai pendanaannya.
  2. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Blora melalukan validasi data peserta didik, tenaga pendididik dan kependidikan bekerja sama dengan pihak terkait disertai penyiapan rencana program riil selama 5 (lima) tahun sebagau program akselerasi. Pembinaan dan Pengarahan terhadap Penyelenggara dan Pengelola pendidikan non formal lebih intensif terutama wilayah kecamatan yang memiliki indek pembangunan manusia (IPM) di bawah rerata meliputi Kecamatan Kradenan, Randublatung, Jati, Ngawen, Todanan, Japah, dan Bogorejo.
  3. Perbaikan managerial bagi pengelola dan penyelenggara pendidikan non formal di tingkat Kabupaten sesuai tugas pokok dan fungsinya dalam satu bagian atau bidang, sehingga memudahkan koordinasi. Di tingkat satuan pendidikan pengaturan tata kelola lembaga disesuaikan 8 standar pendidikan nasional. Perencanaan program memasukkan multiragam kompetensi kewirausahaan agar peserta didik yang telah selesai mengikuti program keaksaraan dan kesetaraan secara mandiri maupun kelompok memperoleh manfaaat yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup layak.

Peningkatan koordinasi antara pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat lebih diintesifkan secara riil yang didukung komitmen satuan kerja perangkat daerah (SKPD) agar memiliki program lintas sektoral. Untuk ini harus disusun program prioritas bebas buta akasara dan wajib belajar 12 tahun baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Menjadikan program pendidikan keaksaraan sebagai gerakan masal untuk menyusun target 50% (1.450 kelompok) dari sasaran masyarakat rentan keaksaraan sebanyak 2.793 kelompok ke dalam RPJMD. Pendanaan  yang dibutuhkan sebesar Rp 11,172 milyar selama 5 tahun atau Rp 2,234 milyar per tahun. Sedangkan Pemerintah menyediakan pendanaannya untuk program keaksaraan fungsional lanjutan dan program kesetaraan.

Penulis adalah

Pembantu Ketua III

STAI Al Muhammad Cepu Blora

 

 

 

Bibliografi:

Fattah Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011.

Hufad Ahmad dkk, Studi tentang Implementasi Program Belajar Sepanjang Hayat Indonesia” disampaikan dalam Seminar Internasiona; Pendidikan Luar Sekolah, Bandung: 2010.

Joko Tri Raharjo dalam penelitian  “Model Pemberdayaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Dalam Pengelolaan Program Pendidikan Kesetaraan Berbasis Life Skills dan Kewirausahaan”, Edukasi: 2010.

Kemendikbud, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, Petunjuk Teknis BOS Penyelenggaraan Kegiatan Pendidikan Keaksaraan Dasar, Jakarta: Kemendikbud RI, 2015.

Kemendikbud, Dindikpora Blora, Profil Pendidikan Kabupaten Bloraa 2011/2012 – 2013/2014, Blora: Dindikpora, 2015.

Komar, Oong, Filsafat Pendidikan Non Formal, Bandung: Pustaka Setia, 2006.

Kuntoro Sodik. A, Makalah Strategi Percepatan Pemberantasan Buta Aksara Bagi Kelompok Masyarakat, Temu Nasional Gerakan Keaksaraan Intensif di Graha Depdiknas dan Hotel Century Park 21-23 November 2005.

Marzuki, Saleh. Prof, HM, Pendidikan Non Formal, Dimensi dalam Keaksaraan Fungsional, Pelatihan dan Andragogi, Universitas Negeri Malang dan PT Remaja Rosdakarya, 2010.

Pemerintah Kabupaten Blora, Data Blora dalam Angka Kabupaten Blora 2014, Blora:  Bappeda, 2014.

Pemerintah Kabupaten Blora, Tinjauan Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Blora 2013, Blora:  Bappeda, 2014.

Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Rohman Arif, Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan, Yogyakarta: LoksBang Mediatama. 2009.

Rangkuti Freddy, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Jakarta: Grameda Pustaka Utama, 2004.

Suwarno Wiji, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Jogyakarta: Ar-Ruzz, 2006.

Tim Dosen Admini UPI, Manajemen Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2009.

Umiarso dan Imam Gojali. Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan. Jogjakarta:IRCiSoD, 2011.

Undang -Undang No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025.

Undang -Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).

Undang-Undang Dasar 1945 dan Perubahannya (Amandemen ke-4).

Uno Hamzah dan Lamatenggo Nina, Teori Kinerja dan Pengukurannya, Jakarta, 2012.

Komentari berita ini, atau sebarkan melalui : 
Facebook
 Agenda
Sabtu
10
Maret
Bakti sosial PIKMa
Bakti sosial PIKMa

Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIKMa) STAI Al Muhammad salah satu UKM-BEM Cepu menggandeng Komunitas Masyarakat Cepu (KMC) dan PMI Kabupaten Blora, menyelenggarakan even Donor Darah, pentas seni, dan bazar lintas perbatasan.

Acara ini digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kemanusiaan dan ajang unjuk kebolehan para siswa dan mahasiswa.

Sponsor: Dinas Dalduk KB-Pertamina EP-BNI 46 dan Simpatisan.


Agenda tersebut di atas akan digelar pada:
Hari/tanggal : Sabtu,  10  Maret  2018
Jam : 12.00 sampai selesai
Bertempat di : Pendopo Kecamatan Cepu,  Jalan RonggoLawe No 1 Cepu
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Sabtu
03
Maret
Seminar Proposal Skripsi
Seminar Proposal Skripsi

Seminar Proposal skripsi 2018

Seminar proposal bagi mahasiswa semester akhir TA 2017/2018 akan dilaksanakan mulai hari Sabtu tgl 3 Maret 2018.

Mahasiswa angkatan di bawahnya bisa mengikuti sebagai pesérta dengan terlebih dahulu mendaftar ke BAAK.


Agenda tersebut di atas akan digelar pada:
Hari/tanggal : Sabtu,  03  Maret  2018
Jam : 09.00
Bertempat di : Kampus I,  Jalan Blora No.151 Cepu Kota.
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Rabu
31
Januari
Akreditasi AIPT
Akreditasi AIPT

Cepu (22 Feb 2018)

Pasca penguatan akreditasi Prodi PAI dan Ahwal Al Syakhsiyah di penghujung Tahun 2017, untuk meningkatkan status telah diagendakan awal tahun 2018 mengajukan Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT).

Kesungguhan para dosen dan tenaga kependidikan nampak antusias mempersiapkan Borang AIPT yang menyangkut 7 Standar dan Evaluasi Diri. Ditargetkan akhir bulan ini bisa diupload setelah disempurnakan usai dievaluasi melalui pendampingan pada hari Minggu yll dengan menghadirkan DR. Sodiq dosen UIN Walisongo yang juga sebagai Asesor BAN PT. Jelas Drs. Mamik Slamet,  MM, MPd selaku Ketua Tim. (pk3)

 


Agenda tersebut di atas akan digelar pada:
Hari/tanggal : Rabu,  31  Januari  2018
Jam :
Bertempat di : KAMPUS I,  Jalan Blora 151 Cepu Kota
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook

 Pengumuman
Tugas Akhir/SKRIPSI TAHUN 2016
Ditujukan kepada :  Mahasiswa Semester Akhir 2015/2016

Isi Pengumuman
PROSES PENYELESAIAN TUGAS AKHIR/SKRIPSI SARJANA S1 TA 2015/2016. Tahapan penyelesaian Tugas Akhir / Skripsi telah sampai pada tahap SEMINAR PROPOSAL PENELITIAN. Seminar Proposal terselenggara mulai tanggal 5 sampai dengan 20 Maret 2016 diikuti sebanyak 155 mahasiswa yang terdiri dari tiga Prodi yaitu Prodi Pendidikan Agama Islam, Ahwal Al Syahsyiah, dan Perbankan Syariah. Selanjutnya diberikan waktu hingga 10 Mei 2016 untuk menyelesaikan perijinan, pengumpulan data dan penyusunan laporan penelitian. Dalam penyusunan Tugas Akhir/Skripsi setiap Mahasiswa difasilitasi 2 (dua) Dosen Pembimbing dan diwajibkan minimal harus bertatap muka 5 (lima) kali pada masing-masing Dosen Pembimbing. Berdasarkan hasil evaluasi Seminar Proposal secara umum Judul penelitian sudah sesuai dengan bidang keimuan yaitu Pendidikan Agama Islam, Perbankan Syariah, dan Ahwal al Syahsyiah. Hasil evaluasi Kepala Biro Skripsi Drs. Mamiek Slamet, MM, M.Pd. menekankan bahwa mahasiswa harus lebih banyak mendalami kajian teoritis sebagai landasasan dan penyusunan kerangka pikir penelitiannya. Hal ini sangat penting karena dengan memahami kerangka pikir akan memberikan arah peneliti untuk mengumpulkan data secara induktif maupun deduktif, mereduksi data, menganalisis, serta menarik kesimpulan dan rekomendasi. Tentunya secara konsisten simpulan peneitian merupakan jawaban atas permasalahan dan hipotesa yang diajukan. Lebih lanjut Biro Skripsi menjelaskan bahwa sesuai Agenda UJIAN KOMPREHENSIP akan diselenggarakan tanggal 21-25 Mei 2016. Diharapkan mahasiswa sudah mendaftarkan Komprehensip tgl 14-17 Mei 2016. Komprehensip sebagai salah satu prasyarat untuk bisa mengikuti UJIAN AKHIR/MUNAQOSAH SKRIPSI yang akan diselenggarakan tanggal 11-18 Juni 2016. Berkaitan dengan hal itu maka mahasiswa hendaknya lebih pro aktif berkomunikasi dengan sesama teman maupun BAAK agar tidak ketinggalan informasi.
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Kepala Biro Skripsi
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
KTM semester genap 2015/2016
Ditujukan kepada :  mahasiswa aktif tahun akademik 2015/2016

Isi Pengumuman
Pengambilan KTM semester 8 dilayani tanggal 23-30 Maret 2016 di staf admin rektorat
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
staf admin rektorat
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Training Racana-Mapala
Ditujukan kepada :  1. Pengurus Racana Maulana Malik Ibrahim dan Campa Putri. 2. UKM Mapala Gibaltar STAI AMC

Isi Pengumuman
Training anggota baru dan implementasi program kerja disleenggarakan awal bulan Mei dibersamakan kegiatan rekruitmen calon anggotan Mapala Gibaltar. Proposal sudah diterima Waka 3 tanggal 15 april 2016.
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Waka 3 Bidang Kemahasiswaan
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
PENGUMUMAN KEGIATAN PERKULIAHAN
Ditujukan kepada :  mahasiswa STAI AL MUHAMMAD CEPU

Isi Pengumuman
Assalamu’alaikum Wr.Wb Diumumkan kepada seluruh mahasiswa STAI Al Muhammad Cepu, bahwa sehubungan dengan pelaksanaan UN SMA/SMK/MA Tahun Pelajaran 2015/2016 yang dilaksanakan tanggal 4 s/d 7 April 2016, maka kegiatan perkuliahan daari 3 s/d 6 April 2016 ditiadakan. Demikian pengumuman ini atas perhatiannya diucapkan terima kasih. Wassalamua’alaikum Wr.Wb
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
admin
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Bantuan skripsi dan tesis.
Ditujukan kepada :  Mahasiswa semester akhir

Isi Pengumuman
Diberikan kesempatan bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir (skripsi/tesis) memperoleh stimulan bantuan dg syarat: a. Status mahasiswa aktif (bukti NIM). b. Copy KTP c. Proposal penelitian.*) d. Foto 4x6 e. No telp HP Masing2 dibuat rangkap 3 sebelum tgl 20 April 2016 *) tema kependudukan dan KB
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
admin waka3
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Pendaftaran Munaqosah 2017
Ditujukan kepada :  Mahasiswa semester akhir 2017/2017

Isi Pengumuman
Pendaftaran Usulan mengikuti Ujian Skripsi (Munaqosah) diberikan dispensi sampai dengan tanggal 5 AGUSTUS 2017. Persyaratan selengkapnya dapat menghubungi BAAK pada jam kerja. (mm-biro skripsi)
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Biro Skripsi
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Pengambilan KTM Tahun Ajaran 2017/2018 Semester 3-5
Ditujukan kepada :  Di Infokan Kepada Mahasiswa Semester 3-7 semua Jurusan di STAI Al Muhammad Cepu

Isi Pengumuman
Assalammualaikum. Wr.wb Ditujukan untuk seluruh mahasiswa STAI AL MUHAMMAD CEPU semester 3 s/d 7 semua jurusan. KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) Semester Ganjil tahun ajaran 2017/2018 bisa di ambil di Siti Lutfiatul Ummah, SH. Pengambilan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) bisa di lakukan pada jam kerja, 13.30 s/d 17.00. Pengambilan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) bisa mulai di ambil hari ini 09 Oktober 2014 s/d 31 Oktober 2017. Jika dalam tenggang waktu tersebut KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) tidak di ambil. Maka jika ada KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) yang hilang, bukan tanggung jawab kami. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Wassalammualaikum. Wr.wb
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Haji Kaswari, S.Pd.I
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
 Berita Lainnya
12 Maret 2018
4 Maret 2018
27 Februari 2018
25 Februari 2018
21 Februari 2018