4 Februari 2018

Analisis Pola Kerja Sama Antara Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru Dalam Pencapaian Standar Nasional Pendidikan (SNP) di Kabupaten oleh Drs. Slamet Mamiek, M.Pd, MM

Abstraksi

Slamet dkk, Analisis Pola Kerja Sama antara Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru dalam Pencapaian Standar Nasional Pendidikan di Kabupaten Blora, Jarlit Pendidikan Blora, 2014.

Kata kunci : kerja sama – tenaga pendidik dan kependidikan – capaian SNP

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) penerapan regulasi standara kualifikasi dan kompetensi Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru, (2) Pola kerja sama dan persepsi guru tentang kinerja Pengawas dan Kepala Sekolah, (3) Pemberdayaan guru (teacher empowerment)  SD, SMP, dan SMA Kabupaten Blora.

Penelitian ini menggunakan metode survei melalui pendekatan deskriptif dan analisis statistik inferensial parametris. subyek penelitian sebanyak 186 responden menggunakan teknik cluster statified random sampling melibatkan 60 sekolah. Instrumen angket dipergunakan untuk mengumpulkan variabel standar kualifikasi dan kompetensi, Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru, serta persepsi guru dalam bekerja sama. Data-data sekunder dipergunakan untuk verifikasi dan melengkapi data primer.

Pengolahan data statistik deskriptif untuk menguraikan keberadaan variabel mandiri. Pengolahan data dengan statistik inferensial dipergunakan untuk mengetahui kamparatif dan keeratan hubungan antara ketiga variabel. FGD dilakukan untuk verifikasi data  dan implikasi pemberdayaan guru. Hasil analisis : (1) Analisis deskriptif menunjukkan bahwa standar kualifikasi masih ada yang belum  memenuhi kriteria indikator usia dan pendidikan. Kompetensi Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru termasuk kategori ‘sangat tinggi’, (2) Pola kerja sama diperoleh nilai kesesuaian 0,83 (sangat tinggi) dari yang diharapkan. Pengujian hipotesis peneitian pertama analisis komparatif one way anova hasilnya F hitung > F table (296.388 > 2.9359), kedua korelasi bivariat Hasilnya ada hubungan yang positif dan signifikan (µ = 0,05) antara Pengawas  dengan Guru  rxy sebesar 0,423, Kepala Sekolah dengan Guru  rxy sebesar 0,380, dan Pengawas dengan Kepala Sekolah rxy sebesar 0,667 (3) Pemberdayaan guru difokuskan pada bidang  kapasitas SDM, pemenuhan sarpras, dan  inovasi pembelajaran.

  1. Pendahuluan

Guru merupakan salah satu komponen yang secara langsung memberi kontribusi menentukan terselenggaranya proses pendidikan yang efektif. Keberadaan guru sebagai tenaga profesional diharapkan memiliki keahlian mentransformasi sesuai bidang keilmuannya dan mengembangkan potensi peserta didik. Oleh karena itu kualifikasi dan kompetensi guru sangat berpengaruh dalam mewujudkan program pendidikan nasional. Menurut Undang-Undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik (pasal 1 ayat 1).

Faktor yang menyebabkan masih rendahnya kinerja pendidikan sangat kompleks, misalnya ditinjau dari sisi internal dan eksternal. Lingkungan internal yang berpengaruh terhadap pendidikan terdiri dari siswa, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, metodologi, evaluasi, dan tujuan pembelajaran. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi antara lain peraturan/kebijakan, kebudayaan, ekonomi, politik. Pemerintah telah menetapkan regulasi untuk menentukan standar nasional pendidikan agar pelayanan pendidikan lebih bermutu (PP 19 tahun 2005). Diantara subyek penentu keberhasilan pendidikan bisa diketahui dari sisi sumberdaya manusia baik oleh penyelenggara pendidikan maupun pada tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Kecukupan tenaga pendidik secara kuantitatif diketahui bahwa ratio guru dan siswa termasuk baik SD 16 SMP 16 dan SMA 14 (profil pendidikan 2012). Namun secara kualitatif guru yang termasuk layak, jenjang SD masih rendah yaitu 65,1%, SMP 91,1%,  dan SMA relatif lebih tinggi mencapai 94,8%.

Indikator-indikator di atas menunjukkan masih rendahnya kinerja pendidikan utamanya kelayakan mengajar guru. Perbaikan kesejahteraan para pendidik telah mendapat porsi yang memadai sebagaimana tersurat dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang hak guru, bahwa sebagian besar guru di Blora telah tersertifikasi dan memperoleh tunjangan profesi. Patut dipertanyakan apakah dengan peningkatan kesejahteraan itu berkorelasi dengan peningkatan kinerja. Sekalipun guru sebagai agen pembelajaran bukan berarti semuanya menjadi beban dan tanggung jawabnya. Masih ada aktor yang ikut menentukan peningkatan mutu pendidikan di sekolah yaitu Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Ketiga komponen ini memiliki status yang sama yaitu guru namun karena tugasnya sehingga memiliki peran yang berbeda.

Kinerja guru merupakan konsep penting yang perlu diperhatikan oleh Kepala Sekolah sebagai Administrator Sekolah dan Pengawas Sekolah sebagai sumber pengembangan kompetensi guru. Terwujudnya kinerja yang tinggi dapat mendorong kinerja individu dan kelompok yang berdampak pada terwujudnya efektifitas organisasi. Setiap individu memiliki differensiasi dimensi nilai dan budaya kerja yang melekat pada diri sendiri secara spesifik. Hasil pengamatan di lapangan masih banyak guru belum menunjukkan kedisiplinnya, belum optimal menggunakan silabus dan RPP, proses pembelajaran terkesan monoton, kurang bervariatif menggunakan metode pembelajaran, rendahnya kemampuan menganalisis dan menindaklanjuti hasil evaluasi belajar. Kepala sekolah lebih cenderung terpusat energinya pada tugas-tugas adminisitrasi dibanding tugasnya sebagai manajer sekolah yang seharusnya memberikan pengarahan dan memotivasi kerja guru. Pengawas sekolah yang seharusnya mempunyai fungsi supervisor terhadap Kepala Sekolah dan Guru utamanya pengembangan kompetensi profesional dan pedagogik juga belum dilakukan secara optimal, penyampaian informasi lebih banyak dilakukan melalui kelompok kerja guru (KKG).

Selama ini telah dilakukan berbagai upaya oleh Pemerintah Daerah melalui penanggung jawab teknis cq Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan berbagai bentuk peningkatan kualitas pendidik melalui peningkatan kualifikasi akademik maupun profesionalitas Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru seperti penyelenggaraan pendidikan pelatihan, program PGIP, Pusat Kegiatan Guru, Kelompok Kerja Kepala Sekolah.baik yang dibiayai melalui APBD, APBD Provinsi, APBN maupun APBS. Media ini diharapkan mampu meningkatkan kualifikasi dan kompetensi serta sekaligus mengakomodir permasalahan yang berkembang. Pencapaian kinerja pendidikan dapat dikategorikan belum efektif dilihat dari parameter dan indikator pendidikan di Blora masih rendah disbanding daerah lain di Jawa Tengah.

Hal inilah yang mendorong peneliti untuk lebih mendalami penerapan standarisasi nasional pendidikan dan sistem kerjasama ketiga aktor pendidikan sehingga peneliti mengambil judul “Analisis Pola Kerja Sama antara Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru dalam Pencapaian Standar Nasional Pendidikan di Kabupaten Blora tahun 2014“.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah penerapan Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas di Kabupaten Blora ?
  2. Apakah Pola kerja sama antara Kepala Sekolah dan Pengawas berkontribusi terhadap Kompetensi Guru di Kabupaten Blora ?
  3. Bagaimana upaya pemberdayaan (empowerment)dalam pencapaian Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru guna mewujudkan tujuan pendidikan di Kabupaten Blora ?.

Ruang Lingkup

Memahami luasnya obyek penelitian dan subyek penelitian serta keterbatasan peneliti, maka ruang lingkup penelitian  standar nasional pendidikan dibatasi pada aspek, pertama standar pendidik dan kependidikan difokuskan pada standar kualifikasi dan kompetensi merujuk ketentuan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2007, Nomor 13 tahun 2007 dan Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Pengawas  Sekolah/Madrasah, Standar Kepala Sekolah/Madrasah dan Standar kualifikasi dan kompetensi Guru. Pola kerja difokuskan hubungan kerja sama antara Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru dalam perspektif peiningkatan kualifikasi dan kompetensi dalam proses pembelajaran. Keberhasilan prestasi siswa difokuskan pada hasil evaluasi prestasi belajar siswa atau Ujian Nasional. Adapun subyek penelitiannya adalah Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru  SD, SMP, dan SM di Kabupaten Blora tahun 2014.

  1. Kajian Pustaka
  2. Kajian Teori

Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

 Setiap Pemerintah Daerah bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional dan merumuskan serta menetapkan kebijakan bidang pendidikan di daerahnya yang dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah beserta dengan anggarannya setiap tahun. Hal ini harus disesuaikan dengan kebijakan nasional pendidikan seperti halnya peningkatan keprofesionalan pendidikan dan tenaga kependidikan, otonomi manajemen pendidikan, dan pelaksanaan pengawasan (PP 17 tahun 2010 ps 6 (1) tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

  1.  Standar Nasional Pendidikan

Secara garis besar ruang lingkup standar nasional meliputi : 1) Standar isi mencakup ruang lingkup dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. 2) Standar proses yang lebih mengedepankan penyelenggraan pendidikan yang interaktif, inspiratif, menyenangkan memotivasi peserta didik berpartisipatif aktif, 3) Standar kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup pengetahuan, sikap, dan ketrampilan peserta didik.  4) standar pendidik dan tenaga kependidikan mencakup persyaratan pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik dan mental serta pendidikan latihan dalam jabatan. 5) Sarana prasarana kependidikan mencakup ruang belajar, tempat berolah raga, tempat ibadah, perpustakaan, laboratirium, bengkel kerja tempat berkreasi dan sumber belajar lainnya yang menunjang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Selebihnya mencakup standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan.

  1.  Standar Kualifikasi dan Kompetensi

Mendasari Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) telah menetapkan peraturan tentang standar kualifikasi dan kompetensi bagi Pengawas, Kepala Sekolah melalui Peraturan Mendiknas Nomor 12 tahun 2007 mengatur tentang Standar Pengawas, Permendiknas Nomor 13 tahun 2007 berisi tentang Standar Kepala Sekolah, dan Permendiknas Nomor 16 tahun 2007 berkaitan dengan standar Guru. Permendiknas ini sebagai acuan pelaksanaan di daerah dalam rekruitmen, regulasi ini lebih dititikberatkan pada kemampuan akademik sebagai dasar konsep berpikir teoretis dan kemampuan terapan di lapangan sebagai pengalaman riil sesuai jenjang sekolah. Berikut adalah standar masing-masing ketiga aktor pendidikan secara lebih rinci :

Standar Pengawas.

Kualifikasi Pengawas dan kompetensi Pengawas sbb : (a) Berpendidikan sarjana (S1) atau Dipolama empat (D IV) untuk Pengawas SD dan Magister (S2) bagi Pengawas SMP/SM  kependidikan dari perguruan tinggi terakreditasi, (b) Pangkat/golongan serendah-rendahnya III/c, (c) Berasal dari Guru memiliki pengalaman kerja minimal 8 tahun.atau Kepala Sekolah berpengalaman 4 tahun, (d) Usia setinggi-tinggi 50 tahun sejak diangkat sebagai pengawas. (e) Lulus uji kompetensi atau telah mengikuti pendidikan fungsional pengawas, (f) Lulus ujian pengawas satuan pendidikan. Sedangkan kompetensi yang dipersyaratkan terdiri dari kompetensi kepribadian, supervise manajerial, supervise akademik, evaluasi pendidikan, penelitian dan pengembangan, serta kompetensi sosial.

Standar Kepala Sekolah.

Standar kualifikasi dan kompetensi Kepala Sekolah terdiri dari standar kuallifikasi Umum, Kualifikasi Khusus dan kompetensi sbb. :

Kualifikasi umum meliputi :

(1) Berpendidikan sarjana (S1) atau Dipolama empat (D IV) kependidikan atau non kependidikan dari perguruan tinggi terakreditasi, (2)  Pangkat/golongan serendah-rendahnya III/c bagi PNS dagi non PNS disetarakan dengan kepangkatan yang dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga yang berwenang, (3) Berasal dari Guru memiliki pengalaman kerja minimal 5 tahun, (4) Usia setinggi-tinggi 56 tahun sejak diangkat sebagai Kepala  Sekolah, (5) Lulus uji kompetensi Kepala Sekolah, dan (6) Lulus ujian Kepala Sekolah satuan pendidikan.

Kualifikasi khusus meliputi :

(1) berstatus sebagai guru, (2) Memiliki sertifikat pendidik, (3) Memiliki sertifikasi kepala sekolah yang diterbitkan oleh lembaga ynag ditetapkan Pemerintah.  Kompetensi yang dipersyaratkan terdiri dari kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervise dan kompetensi social.

Standar Guru.

Standar Guru terdiri dari standar kualifikasi akademik dan kompetensi yang harus dimiliki seorang Guru adalah sbb. :

-  Standar kualifikasi Guru.

Guru pada SD/ harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum  diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang  pendidikan SD/MI (D-IV/S1 PGSD/PGMI) atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi. Guru pada SMP/SM harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi. Kualifikasi Akademik Guru melalui Uji Kelayakan dan Kesetaraan.

-  Standar kompetensi Guru.

Standar kompetensi guru  dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. Standar kompetensi guru mencakup kompetensi inti guru yang dikembangkan menjadi kompetensi guru kelas dan guru mata pelajaran.

Manajerial Pendidikan.

  1.  Kepala Sekolah sebagai Administrator Pendidikan.

Administrasi pendidikan mengandung pengertian luas adalah proses kerja sama untuk mencapai suatu tujuan dengan memanfaatkan sumber daya manusia, sumberdaya material, dan spiritual berkaitan dengan seluk beluk pendidikan. Menurut Dadang Suhardan dkk (2009, 10) Adminisitrasi Pendidikan  didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan  yang membahas pendidikan dari sudut pandang proses kerja sama antar manusia dalam pengembangan potensi peserta didik melalui perubahan sikap  dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan, secara efektif dan efisien.

  1.  Pola kerja Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru.

Sekolah berperan menentukan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sebagai sub sistem tercapainya tujuan pendidikan nasional. Kinerja sekolah terukur dari pencapaian mutu pendidikan. Oleh karenanya diharapkan adanya perubahan  mindset sumberdaya manusia (SDM) yang erat dalam pembelajaran pengembangan potensi siswa yaitu terdiri dari tiga aktor Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru. Secara fungsional masing-masing telah memiliki tugas pokok dan fungsi, namun lebih efektif apabila ketiga unsur tersebut bisa saling bersinergi.

Era otonomi daerah yang memberikan keleluasaan daerah dan sekolah melakukan desentralisasi pendidikan berpeluang lebih berkreatif melakukan akselerasi dan inovasi proses pembelajaran. Sehinggga memiliki daya saing dalam rangka kerjasama membangun masyarakat yang demokratis (HAAR Tilar dalam Iskandar Agung dkk, 2013, 22). Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) memungkinkan keterlibaan pemangku kepentingan secara bersama menentukan masa depan sekolah. Sekiranya bisa dilakukan kerja sama antara Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru dalam uapaya meningkatkan mutu hasil pendidikan.

Identik pola ini juga dikembangkan dalam pelaksanaan Program Induksi Bagi Guru Pemula (PIGP) dan Lesson Study (LS). PIGP bertujuan mendorong guru pemula mampu beradaptasi dengan lingkungan kerjanya agar menjadi guru profesional melalui pembimbingan  dan penilaiaan secara bertahap yang dilakukan oleh Kepala Sekolah, Pengawas, dan Guru Pembimbing. Sedangkan LS bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengkajian proses pembelajaran dengan tahapan plan, Do, dan See yakni merencanakan, melaksanakan, dan merefleksi (Kemendikbud, PGIP, 2013, 14)

  1.  PemberdayaanGuru (Teacher Empowerment)

Menurut Syafarudin (2013, 140) salah satu aspek penting dalam pemberdayaan adalah  memberikan peluang kepada guru untuk berpartisipasi secara aktif, terbuka dan tanpa rasa takut mewujudkan  visi sekolah melalui diskusi aktif. Partisipasi aktif guru dalam proses dinamika kepemimpinan dapat memberikan kontribusi pengetahuan, pemahaman, dan gagasan mereka untuk membangun visi sekolah.

Kondisi terciptanya sekolah agar memiliki keunggulan, diperlukan operasional manajemen sekolah yang selaras dengan prinsip dan karakteristik keunggulan yang diinginkan. Oleh karena itu Kepala Sekolah dituntut  untuk memfungsikan manajemen yang mampu mengoptimalkan semua sumber daya sekolah secara otonomi, akuntabel, dan transparan.

Menurut Bafadal dalam Syafarudin (2008: 144), untuk mewujudkan wawasan keunggulan dalam konteks pendidikan, maka diperlukan upaya strategi mewujudkan sekolah unggulan, kelas unggulan, dan pembelajaran unggulan. Dukungan yang diharapkan tentunya apabila dipenuhinya tenaga profesional dan sumberdaya yang memadai.

Penelitian yang Relevan.

Hasil penelitian yang dilakukan Abdul Munir Universitas Muhammadiyah Prof Dr. Hamka Jakarta tahun 2011 yang berjudul Supervisi Pengawas dan Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah Hubungannya dengan Kinerja Guru SMP Negeri Kecamaran Putusibau Selatan dan Utara Kabupaten Kapauas Hulu, bahwa terdapat hubungan yang positif antara supervisi pengawas dengan kinerja guru sebesar 41,85%. Juga terdapat hubungan yang cukup bermakna dan positif antara kualitas kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru sebesar 44,19%. Secara bersama-sama supervisi Pngawas dan kualitas kepemimpinan Kepala Sekolah memiliki hubungan yang positif sebesar 44,25 % terhadap kinerja guru. Hasil penelitian tersebut dapat dipergunakan perbandingan dalam penelitian ini pada jenjang dan wilayah kerja yang lebih luas.

  1. Kerangka Berpikir

Definisi Operasional.

Pola kerja sama adalah bentuk aktifitas sekolompok orang untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan bersama dengan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki. Dalam penelitian ini difokuskan kerja sama antara Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa mengacu pada fungsi-fungsi manajemen sekolah.

Standar kualifikasi dan kompetensi adalah kriteria minimal mengenai pendidikan, kelayakan, serta seperangkat sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai. Dalam penelitian ini mendasari peraturan pemerintah dan peraturan Menter yang meliputi PP Nomor 19 tahun 2005 sebagaimana telah diamandemen dengan PP Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan, Permendiknas Nomor 12 tahun 2007 tentang standar Pengawas, Permendiknas Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah, dan Permendiknas Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Guru.

Indikator Variabel

Indikator Variabel standar kualifikasi yang harus dipernuhi sebagai seorang pendidik (Guru)  maupun tenaga kependidikan (Pengawas dan Kepala Sekolah) yang profesional terdiri dari aspek : a) kualifikasi akademik, b) usia, c) masa kerja menjadi guru, d) kelulusan uji sertifikasi atau keikutsertaan pendidikan dan pelatihan.

Standar kompetensi untuk Pengawas dilihat dari aspek : a) kepribadian, b) supervisi manajerial, c) supervisi akademik, d) evaluasi pendidikan, e) pemelitian pengembangan, dan f) sosial. Standar kompetnsi untuk Kepala Sekolah dilihat dari aspek : a) kepribadian, b) supervisi manajerial, c) kewirausahaan, d) supervisi dan e) sosial. Sedangkan kompetensi guru diukur dari aspek pedagogik, profesional, personal dan sosial.

Indikator pola kerja sama Kepala Sekolah terdiri dari aspek : a) fasilitasi penyusunan rencana kerja guru, b) pengembangan model pembelajaran, c) kecukupan fasilitas pembelajaran, d) kajian hasil evaluasi  siswa, e) pendampingan litbang guru, f) kewirausahaan. Sedangkan Pengawas terdiri dari aspek: a) fasilitasi penyusunan rencana kerja guru, b) pengembangan Model pembelajaran, c) input refleksi pembelajaran pembelajaran, d) penelitian dan pengembangan, e) interaksi sosial.

Pola hubungan antar Variabel

Keberhasilan pencapaian mutu pendidikan setiap sekolah ditentukan faktor internal dan faktor eksternal. Variabel dalam penelitian ini dilihat dari pola kerja sama antara Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru dan variabel keberhasilan prestasi siswa. Hasil penelitian ini akan diketahui deskripsi pola kerjasama dari ketiga aktor tersebut dan juga diketahui hubungan antara standar kualifikasi dan kompetensi.

III. Metode Penelitian

  1. Pendekatan dan Metode Penelitian.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian kebijakan dengan menggunakan pendekatan survey untuk menganalisa standar kualifikasi, kompetensi dan Pola Kerjasama antara Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru, serta keberhasilan pencapaian prestasi siswa. Lokasi penelitian di Kabupaten Blora tahun 2014.

  1. Populasi, Sampel, Responden, dan Sumber Data

 

- Populasi penelitian.

Populasi penelitian ini meliputi SD, SMP, dan SM yang ada di Kabupaten Blora terinci  SD 595, SMP 82. SM 62 sekolah.

- Sampel penelitian.

Sampel yang diambil berjumlah 60 sekolah. Diambil secara cluster di Wilayah Pembangunan I (Blora), II (Cepu), III (Randublatung), dan IV (Ngawen) masing-masing 15 sekolah terdiri dari 8 SD, 4 SMP, dan 3 SM.

- Responden penelitian.

Responden terdiri dari Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru sebagai faktor kunci dan para pengambil kebijakan terkait Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga, Bappeda, Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD).

- Sumber data primer.

Sumber yang digunakan merupakan hasil diskusi terfokus yang dikonfirmasikan stakeholders terkait dan didukung pengumpulan angket dari responden. Sumber data sekunder diambil dari BPS, Bappeda, Dikluspora, Sekolah dan Instansi terkait di tingkat Kabupaten Blora.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Teknik observasi dipergunakan untuk mengumpulkan data-data sekunder variabel standar kualifikasi dan kompetensi. Teknik quaesioner dipergunakan untuk mengumpulkan data variabel pola kerja sama Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru. Teknik  wawancara dan focus group discusion (FGD) dipergunakan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dan detail mengenai kondisi riil, sekaligus sebaga wahana konfirmasi hasil pengumpulan data sekunder. Teknik dokumentasi dipergunakan untuk mendukung validasi dan keabsahan data.

  1. Pengolahan dan Analisa Data

Penelitian ini menggunakan pendekatan statistik deskriptif untuk variabel mandiri dan statistik  inferensial untuk mengkomparatifkan antar variabel.

Analisis Deskriptif.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis statistik deskriptif yaitu mendeskripsikan variabel standar kualifikasi dan kompetensi; pola kerja sama; dan prestasi hasil belajar siswa. Untuk menguji ketiga variabel tersebut digunakan t-test satu sampel.

Analisis komparatif.

Analisis komparatif  dilakukan untuk mengukur perbandingan standar kualifikasi dan kompetensi serta Pola kerja sama dalam pencapaian hasil belajar siswa antara jenjang SD, SMP dan  SM dengan menggunakan analisis varians satu jalan (one way Anova).

  1. Hasil Penelitian dan Pembahasan
  2. Gambaran Umum.

Pendidikan Dasar dan Menengah.

Jumlah penduduk di Kabupaten Blora adalah 846.432 jiwa terdiri dari laki-laki 417.401 dan perempuan 429.031 jiwa. Dari jumlah tersebut sekitar 20% diantaranya merupakan penduduk usia sekolah, yaitu  85.986 jiwa berusia 7-12 tahun (10,2%), 13-15 tahun  sebanyak 42.235 jiwa (5%) dan usia 16-18 tahun sebanyak 37.126 jiwa (4,4%).

Perkembangan sekolah selama tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa untuk jenjang SD mengalami penurunan dari 636 sekolah menjadi 595 sekolah atau turun sekitar 6,4%, sedangkan untuk jenjang SMP dan SMA .relatif stabil. Sementara itu jumlah siswa SD, terdapat kecenderungan penurunan justru pada sekolah  negeri dan sebaliknya jumlah siswa sekolah swasta mengalami kenaikan. Secara keseluruhan jumlah siswa jenjang SD turun sekitar 4,36%, yakni dari  85.759 siswa menjadi 82.023 siswa, siswa jenjang SMP yang semula 30.851 siswa menjadi 29.161 siswa atau turun sebesar 5,48%. Sedangkan jenjang SMA mengalami kenaikan yang cukup tinggi, yaitu 7,77.%.

Rasio guru dan siswa selama tiga  tahun terakhir menunjukkan angka yang relatif stabil yaitu pada jenjang SD berkisar antara 1:16 dan 1:15, jenjang SMP juga hampir sama dari rasio 1:17 menjadi 1:16. Sedangkan jenjang SMA relatif sama 1:14. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat keseimbangan rasio mutasi guru dan siswa dengan rasio yang lebih baik. Walaupun secara agregat rasio guru dan siswa tahun 2010-1013 relatif stabil, namun secara faktual terdapat penyebaran yang belum merata. Akibatnya masih terdapat kekurangan di wilayah kecamatan tertentu dan kelebihan di wilayah kecamatan lainnya. Hal ini tentu berpengaruh juga penyebaran antar sekolah.

Sebagian besar sekolah (681 sekolah atau 91%) di Kabupaten Blora baik jenjang SD, SMP maupun SMA sudah terakreditasi, dimana persentase terbesar adalah sekolah dengan akreditasi B. Secara keseluruhan, jumlah sekolah yang  terakreditasi A sebanyak 151 sekolah, terakreditasi  B sebanyak 494 sekolah, dan terakreditasi C terdapat 36 sekolah. Sedangkan sekolah yang belum terakreditasi terdapat 19 sekolah (2,71%) dari 700 sekolah di Kabupaten Blora. Berdasarkan jenjangnya, untuk SD terdapat 587 sekolah yang telah terakreditasi dimana 19% diantaranya telah terakreditasi A,  71% sekolah memiliki akreditasi B, dan 4% lainnya terakreditasi C. Pada jenjang SMP, secara keseluruhan terdapat 72 sekolah yang telah terakreditasi, dengan rincian 40% terakreditasi A, 39% sekolah memiliki akreditasi B dan 9% sekolah terakreditasi C, selanjutnya pada jenjang SMA terdapat 22 sekolah yang terakreditasi denan rincian 26% sekolah terakreditasi A,  52% sekolah terakreditasi B dan 17% lainnya memiliki akreditasi C.

Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru

Pengawas

Selain sebagai supervisor akademik Pengawas mempunyai tugas sebagai supervisor manajerial. Sehingga keeratan emosional antara Guru dan Kepala Sekolah secara berjenjang menentukan keberhasilan pendidikan. Bila dibandingkan dengan jumlah sekolah yang ada maka secara keseluruhan jumlah pengawas pada jenjang SMA sudah memadai, namun lainnya masih kurang. Rasio antara Pengawas dengan Sekolah untuk jenjang SD 11,44, SMP 16,6 SMA 7,6 dan SMK 16,5. Idealnya berdasarkan regulasi dan hasil wawancara dengan beberapa pengawas bahwa secara efektif kinerja seorang Pengawas sebagai supervisor adalah  5-10  sekolah.

Kepala Sekolah

Komposisi kepala sekolah baik formasinya maupun status sertifikasinya diketahui bahwa  dari ketiga jenjang pendidikan, hanya jenjang SMA saja yang seluruh kepala sekolahnya sudah tersertifikasi. Sedangkan untuk tingkat pendidikan dasar yakni SD dan SMP masih terdapat kepala sekolah yang belum tersertifikasi, dimana terdapat 190 kepala sekolah atau sekitar 32% untuk jenjang SD dan sebanyak 23 kepala sekolah atau sebesar 28% untuk jenjang SMP. Kondisi tersebut tentu akan berpengaruh terhadap pencapaian kinerja kepala sekolah, khususnya pada jenjang SD dan SMP.

Guru 

Status kepegawaian guru dilihat dari statusnya sebagai PNS dan non PNS, secara total, sebagian besar (62%) guru di Kabupaten Blora berstatus PNS dan 38% lainnya non PNS.  Berdasarkan jenjang pendidikannya, untuk jenjang SD dan SMP, persentase guru PNS lebih besar dibandingkan dengan guru non PNS, dimana masing-masing sebesar 65% untuk jenjang SD dan   59% untuk jenjang SMP. Sedangkan jenjang SMA, persentase guru non PNS relatif lebih besar, hal ini dikarenakan pada jenjang SMA memang jumlah sekolah swasta lebih banyak dibandingkan dengan jumlah sekolah negeri, yakni hampir 2 kali lipat dari jumlah sekolah negeri.

Perkembangan formasi guru dari tahun ke tahun meskipun secara agregat pada semua jenjang jumlah guru mengalami peningkatan, namun terdapat kecenderungan penurunan jumlah guru PNS dan sebaliknya terdapat kenaikan jumlah guru non PNS. Hal ini dimungkinkan terdapat guru PNS yang telah pensiun dan terjadi peningkatan jumlah guru swasta atau guru honorer.  Kecenderungan tersebut terlihat khususnya untuk jenjang SD, dimana pada tahun 2012 terdapat 3.639 guru PNS dan turun menjadi 3.563 guru pada tahun 2013, sebaliknya untuk guru non PNS terjadi peningkatan dari 1.679 guru pada tahun 2012 menjadi 1.926 guru pada tahun 2013. Sementara itu untuk jenjang SMP dan SMA, jumlah guru PNS relatif seimbang dari tahun ke tahun, dan terdapat pula kecenderungan peningkatan jumlah guru non PNS dalam 3 tahun terakhir.

Kualitas pendidikan prestasi siswa

Hasil Ujian Sekolah SD

Merujuk  Ujian Sekolah SD Tahun 2013/ 2014 yang terdiri dari 3 mata pelajaran diketahui bahwa secara akumulasi rerata tertinggi adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu 8,15 kemudian IPA sebesar 7,29 dan Matematika sebesar 7,27 dan rata-rata jumlah nilai sebesar 22,71. Dilihat dari keragamannya (standar deviasi), nilai matematika memiliki keragaman yang paling besar dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya, hal ini juga ditunjukkan rentang nilai siswa untuk pelajaran matematika yang cukup lebar dimana nilai terendah sebesar 1,25 dan tertinggi sebesar 10.

Hasil Ujian Nasional SMP Tahun 2012/2013

Hasil ujian nasional SMP meliputi 4 mata pelajaran rerata terendah adalah mata pelajaran Matematika yakni 2,62 sedangkan tertinggi Bahasa Indonesia mencapai rerata 8,19.

Hasil Ujian Nasional SMA Tahun 2013/2014

Dari enam mata pelajaran yang diujikan pada jenjang SMA program IPA rata-rata tertinggi adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu 7,17 sedangkan terendah mata pelajaran Kimia yakni 5,55. Peringkat rerata sekolah terendah adalah mata pelajaran Fisika dengan nilai 2,79 dan tertinggi mata pelajaran Bahasa Indonesia 8,28.

Sementara untuk program IPS, dari enam mata pelajaran yang diujikan rerata tertinggi ditempati mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan dinlai 6,48 dan terendah mata pelajaran Matematika dengan nilai 4,59. Adapun rerata sekolah mata pelajaran yang memperoleh nilai tertinggi adalah Bahasa Indonesia dengan nilai 7,97 dan terendah mata pelajaran Matematika dengan nilai 1,73. Baik program IPA maupun SMA mata pelajaran Bahasa Indonesia sama-sama memperoleh nilai tertinggi.

  1. Hasil Penelitian

Profil Responden

Sekolah sampel penelitian

Sampel dalam penelitian ini dikelompokkan dalam 4 kluster wilayah kecamatan terdiri dari Kecamatan Blora, Cepu, Randublatung, dan Ngawen yang masing-masing diambil 15 sekolah negeri terdiri dari jenjang Sekolah Dasar dan Menengah. Secara keseluruhan sampel penelitian sebanyak 60 sekolah terdiri dari 38 sekolah jenjang SD, 16 sekolah jenjang SMP dan 6 sekolah jenjang SMA. Adapun distribusi sampel pada masing-masing wilayah adalah sebagai berikut:

- Kecamatan Blora terdiri dari jenjang SD 9 sekolah, SMP 4 sekolah dan SMA 2 sekolah;

- Kecamatan Cepu terdiri dari jenjang SD 9 sekolah, SMP 4 sekolah dan SMA 2 sekolah;

- Kecamatan Randublatung meliputi 10 sekolah jenjang SD, 4 sekolah jenjang SMP dan 1 sekolah jenjang SMA;

- Kecamatan Ngawen meliputi 10 sekolah jenjang SD, 4 sekolah jenjang SMP, dan 1 sekolah jenjang SMA.

Responden

Responden dalam penelitian ini adalah pengawas (8%), kepala sekolah (32%) dan guru (60%).

Hasil Analisis Standar Kualifikasi Administrasi dan Akademik

Dilihat dari tingkat pendidikannya, pengawas di Kabupaten Blora 50% berpendidikan Strata Satu (S1) dan 50% Strata Dua (S2). Dikaitkan dengan persyaratan bahwa Standar Kualifikasi Pendidikan sebagai Pengawas, dimana pengawas SD minimal berpendidikan S1 dan pengawas SMP/ SMA minimal berpendidikan S2 dari perguruan tinggi terakreditasi, pengawas di Kabupaten Blora sudah memenuhi kualifikasi tersebut. Selanjutnya untuk kualifikasi usia, dimana kualifikasi yang dibutuhkan adalah usia minimal 50 tahun, juga telah terpenuhi karena pengangkatan pengawas yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah pada rentang usia 45 sampai 50 tahun. Sementara itu untuk kualifikasi kepangkatan, diperoleh data bahwa pengawas yang berpangkat Pembina atau IV/A sebanyak 13% dan Pembina Tingkat I atau IV/B sebanyak 87%. Secara umum seluruh pengawas juga telah mengikuti tahapan uji kelulusan, dan telah mengikuti pendidikan fungsional serta sudah tersertifikasi sebagai pendidik. Kemampuan profesional juga ditunjang dengan keikutsertaan mengikuti diklat yang frekuensinya bervariasi untuk tiap pengawas.

Standar Kualifikasi Kepala Sekolah terdiri dari standar kualifikasi umum dan khusus. Standar kualifikasi umum meliputi pendidikan, kepangkatan, usia, pengalaman sebagai guru, dan uji kelulusan. Kualifikasi pendidikan Kepala Sekolah dari 60 responden terinci berpendidikan S1 sebanyak 41 orang (68%) dan S2 19 orang (32%). Sementara itu berdasarkan jenjangnya, dalam penelitian ini seluruh kepala sekolah SMA telah berpendidikan S2 dan untuk jenjang pendidikan SD masih didominasi oleh kepala sekolah lulusan S1. Sedangkan untuk jenjang pendidikan SMP, terdapat 65% kepala sekolah yang telah berpendidikan S2 dan 35% lainnya berpendidikan S1. Selanjutnya berdasarkan kepangkatannya, kepala sekolah dalam penelitian ini memiliki pangkat/ golongan Penata Tingkat I (III/D) sebanyak 1 orang (2%), Pembina (IV/A) sebanyak 53 orang (88%), dan Pembina Tingkat I (IV/B) 6 orang (10%).

Menurut kepangkatannya, sebagian besar telah memiliki kepangkatan IV/ A dan IV/ B pada masing-masing jenjang pendidikan. Hanya terdapat 3% kepala sekolah untuk jenjang pendidikan SD yang golongannya masih III/ D.  Pengalaman sebagai Guru ketika diangkat sebagai Kepala Sekolah melebihi dari masa kerja yang dipersyaratkan minimal 5 tahun, dimana masa kerja sebagai guru pada awal diangkat kepala sekolah yakni di atas 15 tahun sampai dengan 25 tahun sebanyak 31 orang (52%) dan di atas 25 tahun 29 orang (48%). Sedangkan masa kerja sebagai kepala sekolah hingga sekarang yang ≤5 sebanyak 31 orang (52%) dan antara 6-25 tahun sebanyak 29 orang (48%. Hal ini menunjukkan bahwa rerata mereka telah memiliki pengalaman kerja sangat memadai sebagai guru senior. Usia pada saat diangkat sebagai kepala sekolah sesuai standar kualifikasi dipersyaratkan maksimal adalah 50 tahun. Meskipun demikian terdapat 8 orang yang telah melebihi usia yang tidak memenuhi standar kualifikasi, dengan demikian terdapat 52 orang atau 87% yang memenuhi.

Selanjutnya mengenai stadar kualifikasi guru, pada jenjang SD harus memiliki standar kualifikasi akademik pendidikan minimum Diploma IV (D-IV) atau Sarjana (S1) dalam bidang pendidikan SD/ MI program studi PGSD/ PGMI. Jenjang SMP dan SMA minimum Diploma IV (D-IV) atau Sarjana (S1) dalam bidang pendidikan yang sesuai.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat 9 atau 8% guru yang belum memenuhi standar akademik pendidikan dan selebihnya 91% memenuhi. Berkaitan dengan standar akademik pendidikan kemudian bila dilihat kesesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan tugas guru kelas maupun mapel sebagaimana dipersyaratkan maka diperoleh data bahwa masih didapati guru yang tidak layak yakni pada jenjang SD terdapat 36 orang (54%) dan SMP 6 orang (19%). Secara keseluruhan masih terdapat 62% guru yang dinyatakan layak.

Hasil Analisis Standar Kompetensi dan Prestasi.

Uji Validitas Indtrumen.

Instrumen Pengawas, Kepala Sekolah, Guru menggunakan program SPSS 17.0 diketahui nilai korelasi antara skor item dengan skor total masing-masing, kemudian dibandingkaan dengan nilai r tabel para signifikansi 0,05 dengan uji 2 sisi. Sehingga diketahui bahwa item yang r hitung < r tabel dianggap tidak valid atau  tidak dimasukkan dalam analisa data.Hasilnya terdapa 6 item instrument Pengawas dan 5 item instumen Kepala Sekolah tidak valid. Sedangkan instrument guru semua item valid.

Uji Reliabilitas.

Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur/instrumenapakah memiliki sifat keajegan. Penelitian ini menggunakan pendekatan untuk uji reliabilitas adalah metode Cronbach’s Alpha karena memiliki kecocokan dengan skala pengukuran rentangan 1-5. Nilai reliabilitas yang ditunjukkan oleh nilai Cronbach’s Alpha untuk instrument pengawas sebesar 0,869, untuk instrument kepala sekolah sebesar 0,847 dan untuk instrument guru sebesar 0,909. Ketiga nilai tersebut di atas 0,7 maka dapat disimpulkan bahwa alat ukur dalam penelitian reliabel.

Analisis Deskriptif.

Kompetensi Pengawas.

Kompetensi Pengawas diukur dari 6 indikator, yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi supervisi manajerial, kompetensi supervisi akademik, kompetensi evaluasi pendidikan, kompetensi penelitian dan pengembangan dan kompetensi sosial. Selanjutnya skor diperoleh dari penjumlahan penilaian yang diberikan terhadap masing-masing kompetensi tersebut. Hasil perhitungan menunjukkan rata-rata skor untuk kompetensi pengawas adalah 62,62, dimana nilai tersebut apabila dikonsultasikan pada tabel interprestasi berada pada interval 55-70 atau terkategori “Sangat Tinggi”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kompetensi pengawas di Kabupaten Blora dinilai sangat tinggi.

Kompetensi Kepala Sekolah.

Indikator Kompetensi Kepala Sekolah diukur dari 5 kompetensi terdiri dari kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial. Hasil pengumpulan data melalui angket telah didistribusikan pada Tabel 4.20. Rerata skor diperoleh nilai 66,9. Apabila dikonfirmasikan pada Tabel Interprestasi maka berada diantara 61-75 atau “Sangat tinggi”. Secara akumulasi terdapat sebanyak 28% score responden di bawah kelas  rerata. Secara partial kompetensi Pengawas dan Kepala Sekolah masing-masing memiliki kompetensi dibidangnya dengan kategori ‘Sangat Tinggi. Sekalipun demikian berdasarkan hasil wawancara terdapat kecenderungan bahwa Pengawas kurang dilibatkan dalam penentuan kebijakan. Sementara Kepala Sekolah menurut observasi lebih berkonstrasi pada bidang administrasi sekolah

Pola Kerja Sama Pengawas – Kepala Sekolah – Guru dan Kompetensi Guru

Secara keseluruhan instrumen untuk Guru yang meliputi 3 sub variabel yakni persepsi guru terhadap kinerja Pengawas, persepsi guru terhadap kinerja Kepala Sekolah, serta kompetensi guru. Diketahui bahwa skor ideal untuk melihat pola kerja sama antar pengawas, kepala sekolah dan guru yang diharapkan adalah sebesar 110 x 5 x 50 = 27.500. Selanjutnya hasil skor hitung yang diperoleh sebesar 0,83 yang artinya sebesar 83% pola kerja sama sesuai dengan yang diharapkan berdasarkan indikator penelitian yang digunakan. Selanjutnya bila dikonsultasikan pada tabel interpretasi maka pola kerja sama termasuk “Sangat Baik”. Lebih lanjut diketahui pula bahwa item tertinggi adalah item 48 bahwa guru selalu menjunjung tiggi kode etik profesi guru sedangkan terendah item 12 terkait dengan persepsi guru terhadap Kepala Sekolah dalam memberikan masukan tentang topik rencana penelitian. Secara parsial dijelaskan Pola Kerja sama antara Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru sebagai berikut :

Kerja sama dengan Pengawas.

Persepsi Guru terhadap Pengawas dalam peningkatan dan pengembangan pendidikan mencapai 61,09, bila dikonsultasikan pada tabel interprestasi berada diantara 61-75 atau “Sangat Tinggi”. Secara akumulasi terdapat 39% Responden yang memberikan persepsi di bawah rerata.

Pola Kerja sama dengan Kepala Sekolah.

Persepsi Pola Kerjasama Guru dengan Kepala Sekolah dalam peningkatan dan pengembangan pendidikan utamanya terkait dengan kompetensinya rerata (mean) mencapai 59,11. Selanjutnya  bila dikonsultasikan pada tabel interprestasi berada diantara 46-60 atau “Tinggi”. Secara akumulasi terdapat 34% Responden yang memberikan persepsi di bawah kelas rerata.

Kompetensi Guru.

Hasil angket Kompetensi Guru terdiri dari 4 sub variabel kompetensi meliputi kompetensi pedagogik, profesional, personal, dan sosial diketahui bahwa rerata (mean) sebesar 87,336 atau dapat diinterprestasikan “Sangat Tinggi”

Analisis Statistik.

Uji beda kompetensi Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru

Uji homogenitas.

Sebagai prasyarat statistik inferensial parametrik maka data yang diolah harus homogen. Oleh karena itu sebelum melakukan uji One Way ANOVA maka terlebih dahulu dilakukan uji kesamaan varian (homogenitas) dengan levene test, uji ini digunakan untuk mengetahui apakah ketiga varian sama atau subyek berasal dari kelompok yang homogen. Diperoleh nilai Levene Statistic sebesar 2,594 dan signifikansi sebesar 0,077 dimana criteria pengujian yang digunakan adalah Ho diterima jika signifikansi > 0,05. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, maka keputusan yang diperoleh adalah terima Ho.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa  ketiga varian adalah sama (varian kelompok Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru sama).

Tahapan untuk uji  One Way ANOVA

Hipotesis.

Ho : Tidak ada perbedaan antara kompetensi Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru.

Ha : Ada perbedaan antara kompetensi Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru.

Hasil pengujian melalui program SPSS diperoleh nilai F hitung sebesar 296.388, dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95%, α = 5%, df 1 (jumlah kelompok data -1) atau 3-1 = 2, dan df 2 (n-3) atau 186-3 = 183, hasil diperoleh untuk F tabel sebesar 2,9359.  Oleh karena F hitung ≥ F tabel (298,388 > 2,9359) maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara Kompetensi Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru. Secara deskriptif didapatkan rata-rata (mean) untuk Kompetensi Pengawas adalah 62,50, untuk Kepala Sekolah 66,56 dan Guru 87,36, artinya  bahwa rata-rata kompetensi paling tinggi adalah Guru, kemudian Kepala Sekolah dan paling rendah adalah Pengawas.

Analisa Uji Korelasi Pola Kerja Sama antara Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru.

Pola hubungan antara ketiga variabel antara Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan melalui pendekatan program SPSS.

Dari hasil analisis korelasi bivariate (r) di atas diketahui bahwa terdapat korelasi antara Kepala Sekolah dengan Kompetensi Guru (r) adalah 0,380. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan “Rendah” Pola kerja sama antara Kepala Sekolah dan Guru karena ada pada rentang 0,200 – 0,399. Sedangkan antara Pengawas dan Guru (r) adalah 0,423, hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan “Sedang” antara Pengawas dengan Guru berada antara 0,400 – 0,599. Selanjutnya diketahui pula hasil analisis korelasi antara Pengawas dan Kepala Sekolah ( r) adalah 0,667, hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan “Kuat”

Uji signifikansi.

Uji signifikansi koefisien korelasi dengan tingkat signifikansi 5% menggunakan uji t dan diperoleh hasil seperti sebagai berikut: 1 – Ada hubungan secara signifikan Pola kerja sama antara Kepala Sekolah dan Guru berhubungan positif dan signifikan pada jenjang SD, SMP dan SMA di Kabupaten Blora, 2 – Ada hubungan secara signifikan Pola kerja sama antara Pengawas Sekolah dan Guru berhubungan positif dan signifikan pada jenjang SD, SMP dan SMA di Kabupaten Blora, 3 – Ada hubungan secara signifikan Pola kerja sama antara Pengawas dan Kepala Sekolah berhubungan positif dan signifikan pada jenjang SD, SMP dan SMA di Kabupaten Blora.

Persepsi Guru mengenai Kendala Kerjasama.

Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh pendapat guru mengenai hambatan atau kendala yang selama ini terjadi dan mengganggu kelancaran kerjasama baik dengan kepala sekolah maupun dengan pengawas. Hal-hal tersebut antara lain:

Kemampuan SDM guru masih kurang:

- Terkait dengan pengoperasian teknologi, misalnya penguasaan komputer.

- Belum sepenuhnya menguasai model pembelajaran sesuai materi sehingga inovasi guru terbatas.

- Guru tidak menggunakan RPP pada waktu proses pembelajaran.

- Penyusunan RPP dan pengembangan silabus serta pembuatan PTK

Hubungan antara guru dan kepala sekolah:

- Banyak ide atau gagasan serta rencana dalam meningkatkan pencapaian keberhasilan siswa, tetapi belum bisa terealisasi karena kurangnya kerjasama antar tim guru maupun dengan kepala sekolah.

- Masih terdapat kepala sekolah yang belum sepenuhnya memahami Kurikulum 2013 meskipun sudah mendapatkan pelatihan.

Hubungan antara guru dan pengawas:

- Kehadiran pengawas ke sekolah masih kurang (satu pengawas membina beberapa sekolah), waktu diskusi dengan guru terbatas sehingga proses komunikasi kurang efektif.

-Latar belakang pengawas pada satu mata pelajaran (mapel) tertentu sehingga kurang menguasai mapel lainnya (khususnya untuk SMP dan SMA).

- Penyebaran jumlah pengawas belum merata

Kelengkapan sarana prasarana:

- Sarana prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar, seperti ketersediaan buku-buku referensi penunjang KBP, alat peraga, LCD, laptop.

- Anggaran sekolah untuk kegiatan siswa, terutama untuk sekolah yang secara geografis terletak di daerah pinggiran/ pedesaan.

Jenis Pemberdayaan Guru (teacher empowerment)

Keterlibatan para pihak dalam proses pembelajaran memungkinkan tercapainya tujuan sekolah mengembangkan pendidikan akan tercapai. Hasil menunjukkan bahwa sangat diperlukan sinergitas fungsi-fungsi manajemen. Mulai dari perencanaan, implementasi program, monitoring dan evaluasi.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi seperti yang telah dipaparkan dalam penelitian ini, maka diperoleh rekomendasi untuk meningkatkan pola kerja sama antara Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Blora.

  1. Kesimpulan dan Rekomendasi.

Kesimpulan.

 

Berdasarkan hasil pengumpulan data setelah dilakukan analisis dan pembahasan, maka dapat  disimpulkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a.Standar kualifikasi Kepala Sekolah dan Pengawas telah memenuhi persyaratan ditinjau dari kualifikasi pendidikan, kepangkatan, serta pengalaman baik untuk jenjang SD, SMP dan SMA. Khusus kualifikasi usia untuk Kepala Sekolah SD didapati sudah melebihi persyaratan walaupun jumlahnya relatif kecil. Sedangkan Standar Kompetensi Pengawas mencapai 0,89 atau 89 %  dari yang diharapkan dan Kepala Sekolah.mencapai 89% dari yang diharapkan. Rerata kompetensi Pengawas dan Kepala Sekolah termasuk kategori “Sangat Tinggi”. Standar kompetensi guru belum sepenuhnya memenuhi kualifikasi, dimana terdapat guru yang masih memiliki pendidikan kurang dari Diploma (1%), sebesar 22,7% guru belum mengikuti UKG dan masih terdapat guru yang mengajar mata pelajaran tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya (54% guru SD tidak sesuai dan 19% guru SMP tidak sesuai.

b.Pola kerja sama antara Kepala Sekolah, Pengawas dan Guru mencapai 83% dari yang diharapkan terkategori ‘sangat tinggi’ Hasil analisis statistik: 1- Kompetensi ketiga subyek melalui analisa uji beda ANOVA didapati nilai F hitung 296.388 lebih besar dari nilai F tabel 2,9359 (296.388 > 2,9359). Hal ini diinterprestasikan bahwa Ho ditolak pada taraf signifikansi 0,05 dan Ha diterima. Artinya terdapat perbedaaan antara kompetensi Kepala Sekolah, Pengawas, dan Guru. 2 – Hubungan kinerja ketiga subyek hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan secara sifnifikan antara Pengawas dengan Guru rxy = 0,423 kategori ‘sedang’, Kepala Sekolah dengan Guru rxy  = 0,380 kategori ‘rendah’. Sedangkan Pengawas dengan Kepala Sekolah rxy = 0,667 kategori ‘kuat’. Varians keeratan hubungan ketiga subyek selaras dengan hasil temuan (a) bahwa ada perbedaan kompetensi diantara Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru.

c.Terdapat empat poin utama permasalahan yang dihadapi terkait dengan pola kerjasama guru, kepala sekolah dan pengawas, diantaranya: (1) Kemampuan guru yang masih kurang, dimana selain masih terdapat guru yang belum memenuhi standar kualifikasi guru juga terdapat guru yang belum memiliki kapasitas memadai dalam penguasaan IT, penyusunan RPP dan pemahaman mengenai proses pengajaran dan pembelajaran; (2) hubungan guru dengan kepala sekolah, dimana banyak ide-ide dari guru yang belum terakomodasi dengan baik oleh kepala sekolah akibat komunikasi yang kurang efektif; (3) hubungan guru dengan pengawas, dimana intensitias kehadiran  pengawas yang dirasa masih kurang mengakibatkan komunikasi tersendat dan proses diskusi tidak dilakukan secara mendalam dan (4) kelengkapan sarana prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar di beberapa wilayah yang belum tersedia secara lengkap.

d.Terdapat tiga kelompok upaya pemberdayaan yang diperoleh dari hasil pembahasan penelitian ini, yakni (1) Peningkatan kapasitas SDM guru; (2) Pemenuhan kebutuhan sarana prasarana dan (3) Inovasi proses pengajaran dan pembelajaran. Model dan jenis pemberdayaan guru terdapat kecenderungan bahwa kenyamanan dan fasilitas pembelajaran merupakan kebutuhan mendasar, kemudian keterlibatan secara langsung oleh Kepala Sekolah dalam penyusunan perencanaan, implementasi dan evaluasi program lebih intensif. Sedangkan media KKG atau meting internal sekolah dimanfaatkan untuk media berbagi informasi dan inovasi para guru dengan nara sumber Kepala Sekolah dan Pengawas utamanya berkaitan dengan pengembangan dan inovasi pendidikan.

Rekomendasi

a.Meningkatnya standar kualifikasi dan kompetensi Kepala Sekolah, Pengawas, dan Guru hendaknya diimbangi dengan pemenuhan fasilitas pembelajaran dan sarana prasarana yang representatif utamanya yang berkenaan dengan proses pembelajaran.

b.Pemenuhan kelayakan guru utamanya pada jenjang Sekolah Dasar secara bertahap disesuaikan terutama standar linieritas pendidikan, dengan memberikan bea siswa dan kerja sama antara Pemerintah Daerah dengan perguruan tingggi penyelenggara pendidikan agar ada penyetaraan Strata satu (S1) PGSD.

c.Pelaksanaan bintek pengembangan kurikulum pendidikan dilakukan secara terstruktur dan berjenjang mulai dari Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru sehingga meminimalisasikan kendala implementasi di sekolah.

d.Mengakselerasi penyelenggaraan workshop tentang “Implementasi Pola kerja sama antara Pengawas, Kepala sekolah dan Guru dikitkan dengan pengembangan Kurikulum 2013”. di setiap wilayah kecamatan agar sesuai kondisi lapangan.

Penulis adalah

Pembantu Ketua III

STAI Al Muhammad Cepu

 

 

 

 

 

Bibliografi:

Agung Iskandar dan Yufridawati, Peengembangan Pola Kerja antara Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas, Jakarta: Bestari Buana Murni, 2013.

Aqib Zaenal, Pengembangan Profesi Guru dan Pengawas Sekolah, Bandung: Yrama Widya, 2009.

  1. Uno Hamzah dan Lamatenggo, Nina, Teori Kinerja dan Pengukurannya, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Blora, Indek Pembangunan Manausia Kabupaten Blora 2011.

_____________, Blora dalam Angka Kabupaten Blora 2013.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Model Implementasi Program Induksi bagi Guru Pemula (PIGP), 2013.

Departemen Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Blora, Profil Pendidikan 2010 – 2013.

Hidayat, Syarif, Profesi Kependidikan, Tangerah: Pstaka Mandiri, 2012

Himpunan Peraturan Perundang-undangan, Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, Bandung: Fokus Media, 2010.

____________, Guru dan Dosen, Bandung: Fokus Media, 2009

Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 sebagaimana telah diamandemen PP 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Sinar Grafika, 2013.

Sanjaya H. Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standa Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2011.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, Bandung: Alfabeta, 2010.

Suhardan, Dadang dkk, Manajemen Pendidikan, Bandung: Alfabeta 2009.

Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2010.

Sutikno, Sobry, Metode dan Model-model Pembelajaran, Lombok: Holistika, 2014

Syafarudin, Efektifitas Kebijakan Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

UU RI Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025,

UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung: :Fkusmedia, 2003.

Komentari berita ini, atau sebarkan melalui : 
Facebook
 Agenda
Sabtu
10
Maret
Bakti sosial PIKMa
Bakti sosial PIKMa

Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIKMa) STAI Al Muhammad salah satu UKM-BEM Cepu menggandeng Komunitas Masyarakat Cepu (KMC) dan PMI Kabupaten Blora, menyelenggarakan even Donor Darah, pentas seni, dan bazar lintas perbatasan.

Acara ini digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kemanusiaan dan ajang unjuk kebolehan para siswa dan mahasiswa.

Sponsor: Dinas Dalduk KB-Pertamina EP-BNI 46 dan Simpatisan.


Agenda tersebut di atas akan digelar pada:
Hari/tanggal : Sabtu,  10  Maret  2018
Jam : 12.00 sampai selesai
Bertempat di : Pendopo Kecamatan Cepu,  Jalan RonggoLawe No 1 Cepu
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Sabtu
03
Maret
Seminar Proposal Skripsi
Seminar Proposal Skripsi

Seminar Proposal skripsi 2018

Seminar proposal bagi mahasiswa semester akhir TA 2017/2018 akan dilaksanakan mulai hari Sabtu tgl 3 Maret 2018.

Mahasiswa angkatan di bawahnya bisa mengikuti sebagai pesérta dengan terlebih dahulu mendaftar ke BAAK.


Agenda tersebut di atas akan digelar pada:
Hari/tanggal : Sabtu,  03  Maret  2018
Jam : 09.00
Bertempat di : Kampus I,  Jalan Blora No.151 Cepu Kota.
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Rabu
31
Januari
Akreditasi AIPT
Akreditasi AIPT

Cepu (22 Feb 2018)

Pasca penguatan akreditasi Prodi PAI dan Ahwal Al Syakhsiyah di penghujung Tahun 2017, untuk meningkatkan status telah diagendakan awal tahun 2018 mengajukan Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT).

Kesungguhan para dosen dan tenaga kependidikan nampak antusias mempersiapkan Borang AIPT yang menyangkut 7 Standar dan Evaluasi Diri. Ditargetkan akhir bulan ini bisa diupload setelah disempurnakan usai dievaluasi melalui pendampingan pada hari Minggu yll dengan menghadirkan DR. Sodiq dosen UIN Walisongo yang juga sebagai Asesor BAN PT. Jelas Drs. Mamik Slamet,  MM, MPd selaku Ketua Tim. (pk3)

 


Agenda tersebut di atas akan digelar pada:
Hari/tanggal : Rabu,  31  Januari  2018
Jam :
Bertempat di : KAMPUS I,  Jalan Blora 151 Cepu Kota
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook

 Pengumuman
Tugas Akhir/SKRIPSI TAHUN 2016
Ditujukan kepada :  Mahasiswa Semester Akhir 2015/2016

Isi Pengumuman
PROSES PENYELESAIAN TUGAS AKHIR/SKRIPSI SARJANA S1 TA 2015/2016. Tahapan penyelesaian Tugas Akhir / Skripsi telah sampai pada tahap SEMINAR PROPOSAL PENELITIAN. Seminar Proposal terselenggara mulai tanggal 5 sampai dengan 20 Maret 2016 diikuti sebanyak 155 mahasiswa yang terdiri dari tiga Prodi yaitu Prodi Pendidikan Agama Islam, Ahwal Al Syahsyiah, dan Perbankan Syariah. Selanjutnya diberikan waktu hingga 10 Mei 2016 untuk menyelesaikan perijinan, pengumpulan data dan penyusunan laporan penelitian. Dalam penyusunan Tugas Akhir/Skripsi setiap Mahasiswa difasilitasi 2 (dua) Dosen Pembimbing dan diwajibkan minimal harus bertatap muka 5 (lima) kali pada masing-masing Dosen Pembimbing. Berdasarkan hasil evaluasi Seminar Proposal secara umum Judul penelitian sudah sesuai dengan bidang keimuan yaitu Pendidikan Agama Islam, Perbankan Syariah, dan Ahwal al Syahsyiah. Hasil evaluasi Kepala Biro Skripsi Drs. Mamiek Slamet, MM, M.Pd. menekankan bahwa mahasiswa harus lebih banyak mendalami kajian teoritis sebagai landasasan dan penyusunan kerangka pikir penelitiannya. Hal ini sangat penting karena dengan memahami kerangka pikir akan memberikan arah peneliti untuk mengumpulkan data secara induktif maupun deduktif, mereduksi data, menganalisis, serta menarik kesimpulan dan rekomendasi. Tentunya secara konsisten simpulan peneitian merupakan jawaban atas permasalahan dan hipotesa yang diajukan. Lebih lanjut Biro Skripsi menjelaskan bahwa sesuai Agenda UJIAN KOMPREHENSIP akan diselenggarakan tanggal 21-25 Mei 2016. Diharapkan mahasiswa sudah mendaftarkan Komprehensip tgl 14-17 Mei 2016. Komprehensip sebagai salah satu prasyarat untuk bisa mengikuti UJIAN AKHIR/MUNAQOSAH SKRIPSI yang akan diselenggarakan tanggal 11-18 Juni 2016. Berkaitan dengan hal itu maka mahasiswa hendaknya lebih pro aktif berkomunikasi dengan sesama teman maupun BAAK agar tidak ketinggalan informasi.
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Kepala Biro Skripsi
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
KTM semester genap 2015/2016
Ditujukan kepada :  mahasiswa aktif tahun akademik 2015/2016

Isi Pengumuman
Pengambilan KTM semester 8 dilayani tanggal 23-30 Maret 2016 di staf admin rektorat
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
staf admin rektorat
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Training Racana-Mapala
Ditujukan kepada :  1. Pengurus Racana Maulana Malik Ibrahim dan Campa Putri. 2. UKM Mapala Gibaltar STAI AMC

Isi Pengumuman
Training anggota baru dan implementasi program kerja disleenggarakan awal bulan Mei dibersamakan kegiatan rekruitmen calon anggotan Mapala Gibaltar. Proposal sudah diterima Waka 3 tanggal 15 april 2016.
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Waka 3 Bidang Kemahasiswaan
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
PENGUMUMAN KEGIATAN PERKULIAHAN
Ditujukan kepada :  mahasiswa STAI AL MUHAMMAD CEPU

Isi Pengumuman
Assalamu’alaikum Wr.Wb Diumumkan kepada seluruh mahasiswa STAI Al Muhammad Cepu, bahwa sehubungan dengan pelaksanaan UN SMA/SMK/MA Tahun Pelajaran 2015/2016 yang dilaksanakan tanggal 4 s/d 7 April 2016, maka kegiatan perkuliahan daari 3 s/d 6 April 2016 ditiadakan. Demikian pengumuman ini atas perhatiannya diucapkan terima kasih. Wassalamua’alaikum Wr.Wb
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
admin
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Bantuan skripsi dan tesis.
Ditujukan kepada :  Mahasiswa semester akhir

Isi Pengumuman
Diberikan kesempatan bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir (skripsi/tesis) memperoleh stimulan bantuan dg syarat: a. Status mahasiswa aktif (bukti NIM). b. Copy KTP c. Proposal penelitian.*) d. Foto 4x6 e. No telp HP Masing2 dibuat rangkap 3 sebelum tgl 20 April 2016 *) tema kependudukan dan KB
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
admin waka3
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Pendaftaran Munaqosah 2017
Ditujukan kepada :  Mahasiswa semester akhir 2017/2017

Isi Pengumuman
Pendaftaran Usulan mengikuti Ujian Skripsi (Munaqosah) diberikan dispensi sampai dengan tanggal 5 AGUSTUS 2017. Persyaratan selengkapnya dapat menghubungi BAAK pada jam kerja. (mm-biro skripsi)
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Biro Skripsi
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Pengambilan KTM Tahun Ajaran 2017/2018 Semester 3-5
Ditujukan kepada :  Di Infokan Kepada Mahasiswa Semester 3-7 semua Jurusan di STAI Al Muhammad Cepu

Isi Pengumuman
Assalammualaikum. Wr.wb Ditujukan untuk seluruh mahasiswa STAI AL MUHAMMAD CEPU semester 3 s/d 7 semua jurusan. KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) Semester Ganjil tahun ajaran 2017/2018 bisa di ambil di Siti Lutfiatul Ummah, SH. Pengambilan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) bisa di lakukan pada jam kerja, 13.30 s/d 17.00. Pengambilan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) bisa mulai di ambil hari ini 09 Oktober 2014 s/d 31 Oktober 2017. Jika dalam tenggang waktu tersebut KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) tidak di ambil. Maka jika ada KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) yang hilang, bukan tanggung jawab kami. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Wassalammualaikum. Wr.wb
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Haji Kaswari, S.Pd.I
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
 Berita Lainnya
12 Maret 2018
4 Maret 2018
27 Februari 2018
25 Februari 2018
21 Februari 2018