27 Februari 2018

Bahasa Arab pada Masa Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah Oleh: Umi Robi’atin Musfa’ah

Abstraksi

Sejarah peradaban Islam mengajarkan kepada Islam bagaimana bahasa Arab pada masa-masa Islam yang pertama telah mampu menjawab tuntutan zaman dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan peradabannya. Ekspansi politik Islam, terutama pada masa Umayyah tidak hanya berimplikasi pada proses Islamisasi, melainkan juga Arabisasi bahasa yang mengubah kehidupan sosial dalam tubuh masyarakat Islam. Orang-orang Arab (pendatang) mulai berasimilasi dan bersosialisasi dengan pribumi karena kelompok sosial ini semakin hari semakin bercampur. Pada saat yang bersamaan, penduduk asli (pribumi) pun kemudian merasa butuh dan berkepentingan untuk mempelajari bahasa Arab. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab di masa Daulah Umayyah menjadi bahasa teologi, bahasa komunikasi dan bahasa administrasi negara yang berkembang sejalan dengan perluasan wilayah. Keilmuan pada masa ini tidak berkembang luas karena Daulah Umayyah lebih fokus dalam perluasan wilayah dengan strategi perang.

Pada masa Daulah Abbasiyah, agama Islam berkembang luas dan bersentuhan dengan peradaban lain, kiprah kultural dan intelektual menjadi masak di kota Baghdad di bawah pengayoman para Khalifah Daulah Abbasiyah. Salah seorang daripada para penguasa Daulah Abbasiyah, Mansur, mendirikan sebuah departemen terjemahan guna upaya mengalihkan kitab-kitab ilmiah ke dalam bahasa Arab dan mempelajarinya dari bahasa-bahasa lain. Bahasa Arab berperan sebagai jembatan penghubung keilmuan melalui gerakan penerjemahan. Gerakan ini mendapat momentum yang tepat, tidak hanya dari kalangan ulama, tetapi juga dukungan politik dan finansial dari umara, sehingga sinergi kekuasaan dan pengetahuan menjelma menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Implikasi dari gerakan ini adalah lahirnya fase kreasi ilmu (marhalah al-ibdā’ al-‘ilmī).

Kata kunci : Bahasa Arab, Pendidikan Bahasa Arab.

 

 

  1. Pendahuluan

Bahasa Arab merupakan bahasa yang paling banyak menyandang atribut dan memiliki kesatuan yang utuh dan kuat. Biasanya, akar satu kata akan melahirkan banyak kata yang lain. Ini menunjukkan bahwa bahasa Arab dinamis, namun di balik itu tersimpan kekuatan yang menampakkan bahwa bahasa Arab berdiri kokoh, tidak mudah tergoyahkan. Dinamika dan kekuatan bahasa Arab ditopang oleh standar yang keabsahannya dapat dipertanggungjawabkan sampai saat ini. Standar itu tiada lain al-Qur’an. Selain merupakan bahasa kitab suci al-Qur’an dan Hadis, bahasa Arab adalah bahasa agama dan umat Islam, bahasa resmi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), bahasa nasional lebih dari 25 negara di kawasan Timur Tengah (lughah al-dhâd), dan bahasa warisan sosial budaya (lughah al-turâts). Jabir Qumaihah, misalnya, menegaskan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang mendapat garansi dan proteksi Ilahi (al-himâyah al-Ilâhiyyah), seiring dengan digunakannya sebagai wadah ekspresi al-Qur’an (wiʻâ’al-Qur’ân). Sebagai bahasa yang sangat orisinal bahasa Arab tidak memiliki masa kanak-kanak sekaligus masa renta (lughah ashîlah, laisa lahâ thufûlah wa laisa lahâ syaikhûkhah). Bahasa Arab juga merupakan fakta sejarah yang digunakan sebagai media pengajaran dan bahasa lisan masyarakat Arab sejak awal Islam hingga sekarang.

Pendidikan Bahasa Arab pada hakikatnya tidak terlepas dari sejarah Islam. Umat Islam generasi awal sangat serius dan intens dalam upaya memahami al-Qur’an dan Sunnah Nabi, sehingga mereka senantiasa saling belajar, berdiskusi dan bertanya jawab mengenai makna-makna (tafsir) berbagai kata atau ayat al-Qur’an. Setelah Islam berkembang luas ke berbagai daerah bekas hegemoni sosial politik dan intelektual Persia di sebelah timur Jazirah Arab dan hegemoni Romawi di sebelah barat, masyarakat non-Arab beradaptasi dan mempelajari bahasa Arab. Keinginan untuk mempelajari bahasa Arab terutama didorong oleh semangat untuk mengetahui isi al-Qur’an dan memahami ajaran Islam pada umumnya.

Sejarah perkembangan bahasa Arab dan pendidikan bahasa Arab dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang pada awalnya berlangsung secara learning cultures, di mana penyebaran bahasa Arab masih dilakukan secara lisan, tidak resmi, menyatu dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi masyarakat Arab pada waktu itu. Pada masa pra Islam, yaitu pada masa Jahiliyah, selain bahasa Arab berkembang secara learning cultures, yang berkembang secara alami dalam komunikasi sehari-hari, ada sedikit perkembangan penyebaran bahasa Arab ke arah teaching cultures, yaitu dengan munculnya pengajaran bahasa Arab semi formal melalui fesival syair Arab sebagaimana yang ada di pasar Ukaz. Dengan adanya festival syair ini, bahasa Arab fusha senantiasa terjaga dan berkembang luas di kalangan masyarakat Arab pada waktu itu.

Perkembangan bahasa Arab ke wilayah-wilayah lain seiring dengan perkembangan, kemajuan, dan perluasan wilayah kekuasaan Islam sejak masa Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, Daulah Umayyah hingga Daulah Abbasiyah. Penyebaran bahasa Arab beriringan dengan perluasan wilayah Islam yang menyebabkan orang-orang Arab bercampur dengan penduduk asli (luar Arab). Mereka mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa agama dan pergaulan.

Salah satu dinasti penting yang ikut mewarnai sejarah peradaban Islam adalah Dinasti Umayah. Dinasti ini berdiri pada tahun 661 M sampai dengan tahun 750 M. Masa pemerintahan Daulah Umayyah terkenal sebagai suatu era agresif, di mana perhatian tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan, melanjutkan misi yang terhenti sejak zaman kedua Khulafaur Rasyidin terakhir. Disamping keberhasilan tersebut, Daulah Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan berbagai bidang, baik politik (tata pemerintahan) maupun sosial kebudayaan. Begitu juga pengembangan bidang ilmu baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan dengan bahasa Arab sebagai media utamanya.

Menurut Jurji Zaidan (George Zaidan) dalam pengembangan Bahasa Arab para Penguasa Dinasti Umayyah telah menjadikan Islam sebagai Daulah (negara), kemudian dikuatkannya dan dikembangkanlah bahasa Arab dalam wilayah kerajaan Islam. Upaya tersebut dilakukan dengan menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi dalam tata usaha negara dan pemerintahan, sehingga pembukuan dan surat-menyurat harus menggunakan bahasa Arab, yang sebelumnya menggunakan bahasa Romawi atau bahasa Persia di daerah-daerah bekas jajahan mereka dan di Persia sendiri.

Pada masa kekuasaan Daulah Umayyah inilah terjadi perubahan sosial yang sangat dramatis dalam tubuh masyarakat Islam. Orang-orang Arab pendatang mulai berasimilasi dan bersosialisasi dengan masyarakat pribumi, karena kelompok sosial ini semakin hari semakin bercampur. Pada saat yang bersamaan penduduk asli pun merasa butuh dan berkepentingan untuk mempelajari bahasa Arab. Pembelajaran bahasa Arab pada masa ini bersifat teacher oriented, bukan institution oriented. Kualitas suatu pendidikan bergantung kepada guru bukan kepada lembaga, meskipun lembaga pendidikan telah dibangun. Salah satu kebijakan penting dalam dinasti ini adalah penetapan bahasa Arab sebagai bahasa negara. Hal ini karena bahasa ini merupakan bahasa penguasa dalam mengeksternalisasikan diri mereka dalam bentuk ungkapan, dan juga sebagai bahasa agama Islam yang begitu diagungkan.

Kemudian, pada abad ke-4 Hijriyah, yaitu pada masa Daulah Abbasiyah, bahasa Arab fusha sudah menjadi bahasa tulisan untuk keperluan administrasi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan yang diajarkan di madrasah-madrasah. Bahasa Arab mulai dipelajari melalui buku-buku sehingga bahasa fusha semakin berkembang dan meluas. Berkembangnya bahasa Arab fusha didukung oleh teaching cultures. Seluruh Khalifah Daulah Abbasiyah memberikan perhatian serius pada bahasa Arab. Kecintaan terhadap bahasa Arab didasarkan pada kecintaan mereka terhadap Islam. Doktrin-doktrin al-Qur’an dan hadis tentang pentingnya bahasa Arab betul-betul mengisi dada dan otak mereka sehingga  mengalahkan cinta kesukuan premordialitas dan hal-hal lain di luar motif agama. Pada masa ini, hampir tidak ada lagi orang yang belajar bahasa Arab dengan mengunjungi guru-guru bahasa Arab Badui. Bahasa Arab sudah cukup dipelajari dari buku-buku yang setiap saat bertambah dan dipublikasikan.

Selama zaman Khilafah Abbasiyah bahasa Arab telah mencapai kedudukan sebagai bahasa ilmu pengetahuan yang dipergunakan untuk menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani, sehingga mendorong ke arah perubahan dan perkembangan ilmu kaum muslimin, demikian pula pada zaman berikutnya buku-buku hasil terjemahan tersebut beserta tafsiran dan penjelasannya yang dibuat oleh para ilmuwan muslim merupakan buku-buku pegangan (references) yang sangat diperlukan oleh dunia Barat pada zaman kebangkitan  dunia Kristen di Barat yang dihadapkan kepada kebutuhan untuk memahami soal-soal keagamaan yang tidak cukup hanya bersifat dogmatis semata-mata, akan tetapi perlu pemahaman secara rasional.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut diatas jelaslah betapa besar peranan bahasa Arab dalam menyimpan dan menyelamatkan khazanah pelbagai cabang ilmu pengetahuan. Oleh karena pembelajaran bahasa Arab dalam kedua masa ini masih belum banyak diungkap, mengingat metode pengajaran bahasa selalu mengikuti tren perkembangan linguistik. Peran bahasa Arab pada dua masa itu begitu besar, maka sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut tentang pembelajaran bahasa Arab dan perkembangannya.

  1. Bahasa Arab di masa Daulah Umayyah (661-749 M)dan Daulah Abbasiyah (749-1258 M).

Pada kedua zaman ini, pendidikan Islam sudah mengalami perkembangan melebih, dari zaman-zaman sebelumnya. Pergaulan antar bangsa semakin menguat. Islam telah bertapak di tiga benua: Asia, Afrika dan Eropa. Berbagai bangsa telah menjadi penguat Islam. Pada masa ini semakin intensiflah kontak peradaban. Dalam kontak peradaban ini tentu kaum muslimin telah semakin mengenal peradaban-peradaban yang telah maju di daerah-daerah yang ditaklukkan seperti negara Syam, Irak, Persia, Mesir, Afrika, Andalusia, dan sampai ke bagian Timur wilayah Transsoksiana dan juga sampai ke India. Kontak peradaban inilah merupakan cikal bakal bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Dunia Islam.

Kebijakan Khalifah Daulah Umayyah dalam Pengembangan Bahasa Arab, antara lain:

Pada masa Khalifah Malik bin Marwan, bahasa Arab ditetapkan sebagai bahasa negara Daulah Umayyah, khususnya sebagai bahasa administrasi pemerintahan yang sebelumnya dari bahasa Yunani dan Persia pada tahun 704. Meskipun Arabisasi ini memang sedikit bernuansa politis, karena Daulah Umayyah sangat fanatik terhadap kesukuan dan kearabannya, dampaknya cukup luas dan signifikan. Pengaruh bahasa Persia sebagai bahasa administrasi di masa lalu (sebelum khilafah Umawiyah) menjadi tergantikan oleh bahasa Arab.

Setelah kebijakan Arabisasi pemerintahan, bahasa Arab adalah syarat mutlak untuk bekerja di kantor-kantor. Orang-orang non-Arab dapat bekerja sebagai pejabat-pejabat administrasi setelah mereka mempelajari dan menguasai bahasa Arab. Hal tersebut mendorong masyarakat non-Arab yang lain meniru dan mengikuti jejak mereka. Dari masyarakat non-Arab banyak yang mempelajari bahasa Arab semata-mata untuk keperluan berkomunikasi (sehubungan dengan kepentingan-kepentingan hidup sehari-hari), tetapi juga untuk mengangkat dirinya mencapai status sosial yang tinggi, setaraf dengan golongan aristokrat.

Kekhalifahan Umayyah Damaskus memang mengembangkan politik Arabisme, namun formalitas politik kebudayaan itu tidaklah serta merta menjadikan komunitas berbasis monokultur, melainkan kebudayaan etnis lokal, sehingga komunitas muslim berkembang dalam fenomena kebudayaannya yang bercorak multikultur pada lingkup hegemoni politik Arab.

Seperti dijelaskan Gerald Hawting dalam bukunya The First Dynasty of Islam: The Umayyad Caliphate AD 661-750, bahwa arus Arabisasi tidak lebih dari sekedar konstruksi dan ekspansi kebudayaan yang ditandai dengan penggunaan bahasa Arab di seluruh wilayah kekuasaan Islam (Daulah Umayyah) saat itu. Meskipun Arabisasi seringkali diasosiasikan dengan arus Islamisasi, tetapi dalam banyak hal antara keduanya berbeda. Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa beberapa komunitas, seperti golongan Yahudi dan Kristen tetap menjadi bagian penting dari kota Damaskus sejak dikuasai Daulah Umayyah. Baik golongan Yahudi maupun Kristen tetap mempertahankan tradisi keagamaan mereka meskipun mereka meninggalkan bahasa sehari-hari yang mereka gunakan sebelum kedatangan Islam, dan menggantikannya dengan bahasa Arab.

Sejarah juga mencatat bahwa kebudayaan Arab sendiri mengalami berbagai perubahan, adaptasi, dan akomodasi terhadap budaya lain ketika Islam semakin tersebar di wilayah-wilayah kebudayaan non-Arab. Oleh karena itu, masyarakat non-Arab yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-harinya juga ikut mempengaruhi dialek dan pengucapan bahasa Arab itu sendiri secara signifikan. Bahasa Arab yang telah dipengaruhi dialek masyarakat non-Arab ini dikenal sebagai Middle Arabic, untuk membedakannya dengan Classical Arabic, yaitu bahasa Arab yang berasal dari bahasa al-Qur’an dan bahasa yang digunakan dalam penulisan syair Arab pra-Islam. Kemunculan dan karakter Classical Arabic sendiri merupakan topik yang masih dalam perdebatan para sejarawan. Faktor-faktor yang mendorong penerimaan (adoption) dan penolakan (rejection) terhadap bahasa Arab oleh penduduk non-Arab merupakan hal yang kompleks. Sebab melibatkan faktor-faktor sosio-politis; tidak sekedar persoalan kebahasaan semata.

Namun demikian, sebagian besar masyarakat non-Arab mempelajari bahasa Arab karena motivasi Agama. Terdorong oleh motivasi mempelajari al-Qur’an untuk memahami dan mengamalkan hukum-hukum serta ajaran-ajaran Islam, mereka yang sudah memeluk Islam dengan tekun mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an dan bahasa peribadatan.

Dengan demikian penggunaan bahasa Arab memasuki bidang baru, yaitu menjadi bahasa administrasi tetapi sebagai bahasa sya’ir, karang mengarang dan bahasa kebudayaan. Karya-karya sastra (sya’ir) yang bernuansa kearaban banyak bermunculan.

Mata uang diarabkan dalam bentuk dinar yang semula berbahasa Persia atau Romawi -Yunani. Berbagai transaksi sosial- ekonomi di hampir seluruh wilayah Dinasti Umawi juga menggunakan bahasa Arab. Dengan demikian, pada masa itu bahasa Arab tidak lagi sekedar bahasa Agama, melainkan juga sebagai bahasa negara: bahasa administrasi, birokrasi, diplomasi dan transaksi sosial ekonomi.

Di antara diwan (semacam kantor kementrian, departemen) yang diarabisasikan saat itu adalah Departemen Perpajakan, Departemen Pos dan Telekomunikasi dan Departemen Keuangan. Berbagai Arabisasi istilah dan tradisi juga terjadi dalam berbagai instansi pemerintah lainnya.

Prestasi Daulah Umayyah yang juga perlu dicatat adalah melakukan penyatuan mata uang. Khalifah Abdul Malik membuat mata uang sendiri sebagai alat transaksi keuangan seluruh Daulah Umayyah. Sebelumnya mata uang yang dipakai sebagai alat transaksi adalah mata uang Romawi (drachma, dirham) dan mata uang Persia (denarius, dinar). Mata uang dirham bergambar kaisar-kaisar Romawi, sedang mata uang Persia bergambar khosru-khosru Persia. Khalifah Abdul Malik mengganti gambar kaisar dan khosru dengan hiasan tulisan Arab di bagian muka dan belakang. Mata uang Romawi dan Persia akhirnya tidak digunakan lagi dan diganti dengan mata uang sendiri. Penyatuan mata uang ini berdampak positif terhadap kedaulatan Daulah Umayyah karena dapat menciptakan kesatuan mata uang dalam bertransaksi keuangan dan memperkuat kesatuan ekonomi dan kesatuan nasionalisme.

  1. Marbad Kota Pusat Kegiatan Ilmu.

Daulah Umayyah juga mendirikan sebuah kota kecil sebagai kota pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pusat kegiatan ilmu dan kebudayaan itu dinamakan Marbad, kota satelit dari Damaskus. Di kota Marbad inilah berkumpul para pujangga, penyair bahasa Arab dan cendekiawan lainnya, sehingga kota ini diberi gelar ukadz-nya Islam.

Untuk kepentingan pembinaan dakwah Islamiyah, pada masa Daulah Umayyah dimulai pula penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa-bahasa lain ke dalam bahasa Arab.

Ketertarikan umat Islam terhadap kebudayaan Yunani dilanjutkan dengan penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Dengan demikian, jelaslah bahwa gerakan penerjemahan telah dimulai pada zaman ini, hanya baru berkembang secara pesat pada zaman Daulah Abbasiyah. Adapun yang mula-mula melakukan usaha penerjemahan yaitu Khalid bin Yazid, seorang pangeran yang sangat cerdas dan ambisius. Ketika gagal memperoleh kursi kekhalifahan, ia menumpahkannya dalam ilmu pengetahuan, antara lain mengusahakan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa lain ke dalam bahasa Arab. Ia mendatangkan para ahli ilmu Pengetahuan ke Damaskus untuk melakukan penerjemahan dari berbagai bahasa. Maka diterjemahkan buku-buku tentang kimia, ilmu astronomi, ilmu falak, ilmu fisika, kedokteran dll. Khalid sendiri adalah ahli dalam ilmu astronomi.

Transmisi keilmuan non-Islam yang dilakukan oleh umat Islam pada zaman klasik sebagian besar berupa pemikiran warisan Yunani. Walaupun ada juga pemikiran dari India, tetapi kebudayaan Yunanilah yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan peradaban Islam. Adapun pemikiran warisan Yunani yang diterjemahkan dalam bahasa Arab bukan hanya literatur-literatur di masa Yunani kuno, tetapi juga literatur-literatur di masa sesudahnya atau Hellenistik, yaitu masa sesudah meninggalnya Alexander Agung sampai berkuasanya Romawi atas wilayah-wilayah Hellenistik. Pemikiran Yunani yang ditransfer ke dalam Islam di samping warisan Hellenis, juga warisan intelektual Hellenistik, yang keduanya di sini disebut dengan Hellenisme. Pemikiran Hellenistik pertama kali menjadi perhatian umat Islam setelah mereka tetarik kepada teologi. Perdebatan antara umat Islam dan Kristen yang dilaksanakan di majelis-majelis oleh khalifah-khalifah Daulah Umayyah, menyebabkan umat Islam mengenal kebudayaan Hellenistik, seperti istilah-istilah dalam Hellenistik, argumen-argumen rasional dan ilmu sastra.

Kontak intelektual dengan Hellenisme membawa pengaruh yang sangat dalam bagi peradaban Islam, khususnya di bidang pemikiran Islam. Penerjemahan terhadap karya-karya Hellenisme tidak hanya meninggalkan karya-karya terjemahan saja, namun pada masa awal penerjemahan ini banyak bermunculan karya-karya Muslimin yang berasal dari Yunani. Selanjutnya, lahirlah generasi penulis-penulis Muslim orisinil. Mereka tidak lagi hanya menerjemahkan, membuat ikhtisar, komentar, atau sekedar mengutip, tetapi juga telah mengembangkannya dengan ajaran-ajaran Islam sehingga karya-karya tersebut oleh Lapidus dan Bernard Lewis dikatakan sebagai karya umat Islam murni dan asli. Mendukung pendapat kedua ahli sejarah di atas, Nurcholis Madjid menegaskan bahwa mustahil karya-karya tersebut dianggap sebagai carbon copy Hellenisme.

  1. Gerakan Pemurnian Bahasa Arab.

Di tengah situasi perkembangan yang menimbulkan efek negatif terhadap kefasihan dan kesahihan bahasa Arab seperti pengaruh dialek bahasa-bahasa non-Arab, pada masa menjelang berakhirnya kekuasaan Daulah Umayyah, muncullah gerakan pemurnian bahasa Arab yang dilancarkan oleh sebagian cendekiawan Arab yang didukung oleh cendekiawan non-Arab. Banyak diantara cendekiawan non-Arab yang menguasai bahasa Arab dan bersemangat untuk mempertahankan kemurnian bahasa Arab. Bahkan mereka – dengan segenap cinta terhadap bahasa Arab – meninggalkan banyak karya yang amat berharga yang menjadi bukti atas andil dan kontribusi mereka bagi usaha pemeliharaan kemurnian bahasa Arab.

Salah satu peran besar – berkenaan dengan perkembangan bahasa Arab dalam periode ini – yang diukir dan dicatat oleh Daulah Umayyah adalah penggunaan bahasa Arab sebagai media bahasa karang mengarang (karya tulis). Banyak buku berkualitas tinggi dengan kedalaman ilmu yang luar biasa berhasil diterbitkan pada masa itu. Padahal, sebelum Daulah Umayyah berkuasa, bahasa Arab hanya digunakan sebatas untuk syair dan peribahasa (amtsal) selain dalam al-Qur’an. Ibnu al-Muqaffa’ (wafat 142 H) adalah salah seorang ulama terkemuka yang termasuk pertama kali menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa karang-mengarang dalam buku-buku yang ia tulis. Dengan demikian, penggunaan bahasa Arab memasuki babak dan bidang baru, yakni dunia pustaka karena bahasa Arab tidak lagi sebatas bahasa syair, tetapi juga berkembang menjadi bahasa karang-mengarang dan bahasa kebudayaan.

Pendidikan pada Daulah Umayyah meliputi: (a) Ilmu agama: al-Qur’an, Hadis, dan fikih. Sejarah mencatat, bahwa pada masa khalifah Umar ibn Abdul Aziz (99-10H) dilakukan proses pembukuan hadis, sehingga studi hadis mengalami perkembangan yang pesat; (b) ilmu sejarah dan geografi, yaitu segala ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah dan riwayat; (c) ilmu pengetahuan bidang bahasa, yaitu segala ilmu yang mempelajari bahasa, nahwu, sharaf dan lain-lain; dan (d) filsafat, yaitu segala ilmu yang pada umumnya berasal dari bangsa asing, seperti ilmu mantiq kimia, astronomi, ilmu hitung dan ilmu yang berhubungan dengan hal tersebut, serta ilmu kedokteran.

Pada zaman ini , dapat disaksikan adanya gerakan penerjemahan ilmu-ilmu dari bahasa lain ke bahasa Arab, tetapi penerjemahan ini terbatas pada ilmu-ilmu yang mempunyai kepentingan praktis, seperti ilmu kimia, kedoteran, falak, ilmu, tata laksana, dan seni bangunan. Pada umumnya, gerakan penerjemahan ini terbatas pada orang-orang tertentu dan atas usahanya sendiri, bukan atas dorongan negara dan tidak dilembagakan. Yang pertama kali melakukan penerjemahan adalah Khalid bin Yazid.

Pada masa Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah pola pendidikan bersifat desentralisasi, tidak memiliki tingkatan dan standar umur. Kajian keilmuan yang ada pada periode ini berpusat di Damaskus, Kuffah, Mekkah, Madinah, Mesir, Cordova dan beberapa kota lainnya, seperti; Basrah dan Kuffah (Irak), Damsyik dan Palestina (Syam), Fistat (Mesir). Di antara ilmu-ilmu yang dikembangkannya, yaitu: kedokteran, filsafat, astronomi atau perbintangan, ilmu pasti, sastra, seni baik itu seni bangunan, seni rupa, maupun seni suara. Ilmu pengetahuan telah mengalami ekspansi seiring dengan ekspansi teritorial.

Dasar-dasar ilmu pengetahuan yang diterapkan ilmu naqliyah dan ‘aqliyah. Ilmu-ilmu naqliyah meliputi: fikih, tafsir, hadits, tauhid dan bahasa Arab. Adapun dalam ilmu ‘aqliyah meliputi: filsafat, kedokteran, ilmu kimia, dan astronomi. Dalam bidang ilmu naqliyah, maka muncul para mujtahid, dan timbullah dengan subur semangat berijtihad berarti suasana alam pikiran umat islam menjadi dinamis.

  1. Ilmu-ilmu Naqliyah.

Pada zaman kemajuan, berkembang dengan suburnya ilmu kalam, fikih, tafsir, hadis, tasawuf, dan bahasa Arab. Bahasa Arab sebagai bahasa agama dan kebudayaan mendapat tempat istimewa pada saat itu. Untuk mendalami berbagai macam ilmu pengetahuan di kala itu baik ‘aqliyah maupun naqliyah pastilah memahami bahasa Arab.

Materi yang diajarkan adalah baca tulis secara umum diambil dari syair atau sastra Arab. Metode pengajaran yang paling utama adalah membaca, menghafal al-Qur’an dan puisi-puisi kuno. Adapun metode pengajaran bahasa Arab di masa Daulah Umayyah sebagai berikut:

  • Ceramah (al-muhaḍarah).

Dalam metode ini, guru menyampaikan materi kepada semua murid dengan diulang-ulang sehingga murid hafal terhadap apa yang dikatakannya. Metode ini sebagaimana yang diterapkan dalam kuttab, yaitu murid duduk dalam lingkaran besar dan guru menjelaskan materi diantara mereka. Kemudian menunjuk salah satu dari mereka untuk mengulangi penjelasan yang telah diberikan.

  • Diskusi (al-munaẓarah).

Metode ini digunakan untuk menguji argumentasi-argumentasi yang diajukan sehingga dapat teruji. Metode ini oleh kalangan mu’tazilah menjadi salah satu pilar yang sangat penting dalam sistem pendidikannya.

  • Imla’(metode dikte).

Strategi Imla’ atau dikte yang pertama, guru memberikan materi khusus yang sekiranya dapat ditangkap oleh pendengaran si murid. Dengan demikian dibutuhkan waktu yang sesuai dengan daya kemampuan penyerapan materi yang diberikan. Metode yang kedua dengan penyampaian syawafi, guru tanpa memperkirakan waktu sesuai materi, guru langsung memberikan kepada murid materi-materi dan murid dengan cepat menulisnya kemudian membahas kesalahan-kesalahan tulisannya.

  • Qira’ah (membaca) dan ‘Arḍ (presentasi).

Metode ini disebut dengan metode pengajuan guru. Guru membaca kitab sedangkan murid menulis dalam bentuk ringkasan materi kemudian membacakannya di depan guru dan murid yang lain mentashih kesalahan-kesalahan dari penjelasan guru. Al-‘Arḍ atau presentasi ini murid membacakan hasil ringkasan dan pemahamannya di depan guru.

  • Pengulangan dan Hafalan.

Metode pengulangan dan hafalan ini digunakan pada jenjang pendidikan dasar. Guru mengulang-mengulang bacaan al-Qur’an di depan murid dan murid mengikutinya yang kemudian diharuskan hafal bacaan-bacaan itu. Bahkan, hafalan ini tidak terbatas pada materi-materi al-Qur’an atau hadis, tetapi juga pada ilmu-ilmu lain. Tak terkecuali untuk pelajaran syair, guru mengungkapkan syair dengan lagu (wazn) yang paling mudah sehingga murid mampu menghafalkannya dengan cepat.

  • Qiṣah(cerita).

Metode yang diawali dengan presentasi pembelajaran. Guru membawakan cerita-cerita menarik yang darinya dapat diambil hikmah dalam setiap kejadian. Metode ini sudah sangat terkenal digunakan di kota Syam di masa Umayyah.Sebagai persiapan untuk belajar ilmu-ilmu agama dan fiqih, mempelajari bahasa Arab merupakan suatu kebutuhan, mencakup mempelajari gramatika dan komposisi serta pengenalan dasar-dasar prosa dan puisi. Studi-studi pendahuluan ini dapat ditempuh dengan tutor pribadi atau dengan menghadiri halaqah seorang ahli bahasa Arab. Dalam pembelajaran ini menekankan latihan-latihan yang membantu perkembangan kemahiran berbahasa dan dikembangkan dengan Seni pidato yang merupakan bagian penting dari pendidikan ilmu-ilmu agama, sebab kemampuan untuk menyampaikan ceramah yang menggugah dan ceramah ilmiah adalah salah satu peran inti seorang ulama dalam pendidikan dan kehidupan beragama masyarakat. Kemahiran berbicara menggunakan bahasa Arab di tengah publik mengandung semua aspek pendidikan dan pengalaman. Dalam hal materi gramatika telah memperoleh dorongan besar setelah diperkenalkannya pengetahuan Hellenistik ke dalam budaya Islam. Meskipun para ulama menerima anggapan bahwa gramatika bergantung pada logika Yunani sebagai metode, tetapi mereka juga mengkhawatirkan kekaguman kepada ilmu aqliyah Yunani lainnya. Tidak mengherankan kalau mereka selalu berusaha menempatkan kajian gramatika sebagai studi pendukung terhadap ilmu-ilmu agama dan terus mencoba membatasi pengaruh ahli-ahli gramatika bahasa Arab atas generasi muda Muslim.

  1. Ilmu-ilmu ‘Aqliyah

Yang dimaksud dengan ilmu-ilmu ‘aqliyah, yaitu ilmu-ilmu yang tidak dikategorikan ke dalam ilmu lisaniyh dan naqliyah. Yang termasuk dalam bidang ‘aqliyah yaitu: filsafat, ilmu pasti, ilmu falak, ilmu bumi, ilmu sejarah, fisika, kimia, kedokteran, ilmu musik, dan arsitektur.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pola pendidikan pada Daulah Umayyah ini telah berkembang jika dilihat dari aspek pengajarannya, meskipun sistemnya masih sama seperti pada masa Nabi dan Khulafaur rasidin. Pada masa ini peradaban Islam sudah bersifat internasional yang meliputi tiga benua, yaitu sebagian Eropa, sebagian Afrika dan sebagian besar Asia yang kesemuanya itu dipersatukan dengan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara.

  1. Perkembangan di Masa Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah
  2. Perkembangan Bahasa dan Sastra Arab

Sejarah perkembangan bahasa dan sastra Arab merupakan suatu proses yang paling mengagumkan dalam perkembangan bahasa-bahasa utama dunia. Bahasa ini memiliki perkembangan dan kelestariannya yang sangat baik. Dalam waktu yang singkat, bahasa Arab berhasil menduduki tempat yang terhormat di kawasan yang amat luas di Timur Tengah, Afrika Utara, dan untuk jangka waktu yang singkat di Spanyol dan Sicylia walaupun tidak sedikit masalah dan tantangan yang menghadang kemajuannya.

Hal yang paling mengesankan mengenai bahasa ini adalah perkembangannya yang amat cepat sebagai bahasa fusha yang mempunyai arti religius dan budaya, dikarenakan bahasa Arab tetap memperlihatkan sebagai bahasa fusha yang berkembang dinamis, sanggup mengikuti perkembangan zaman disebabkan oleh berbagai keunggulan morfologis, sintaksis, semantik dan sosiologis. Faktor linguistik inilah yang dikatakan oleh cendikiawan Barat sebagai keajaiban hakiki dari ekspansi Arab.

  1. Ilmu Bahasa.

Struktur gramatikal dasar dari bahasa Arab sedemikian jauh masih tidak tersentuh oleh perubahan. Resistensi terhadap perubahan ini secara khusus mencolok jika dibandingkan dengan perkembangan bahasa-bahasa Eropa. Salah satu penjelasan untuk hal ini adalah komitmen yang selamanya valid dari bahasa Arab terhadap al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan yang terakhir dan definitif, yang dengan itu bentuk linguistiknya juga mencapai status yang definitif dan tidak berubah di antara Muslim.

Keinginan umat Islam untuk mengetahui agama secara mendalam terutama yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadis membutuhkan ilmu bahasa sebagai alatnya. Ilmu bahasa memerlukan suatu ilmu yang menyeluruh. Di antara ilmu bahasa yang paling penting adalah Ilmu Arud (ilmu sastra Arab klasik), ilmu mu’jam dan ilmu nahwu.

Ilmu Arud merupakan ilmu yang khusus tentang syair Arab, yaitu ilmu yang menentukan dasar yang diketahui sahih tidaknya sebuah syair, atau ilmu yang membahas dasar-dasar wazan yang ditetapkan, atau ilmu tentang mizan syair yang diketahui kesalahannya dari kebenarannya. Di antara tokoh ilmu ini adalah al-khalil bin Ahmad al-Farahidi. Jelaslah bahwa objek ilmu ini adalah syair-syair Arab. Manfaat ilmu ini adalah untuk membedakan antara syair dari prosa, atau untuk menjalin aturan percampuran yang melimpah sebagian dengan sebagian yang lain, karena adanya penyerupaan.

Adapun ilmu Mu’jam atau apa yang kita sebut sebagai kamus merupakan kitab yang meliputi beberapa bilangan mufradah bahasa, dengan susunan dan aturan tertentu, disertai dengan melafazkannya, penjelasannya, penafsiran maknanya, yang dimutlakkan sebagai nama kamus. Tokoh dalam ilmu ini antara lain ‘Abdullah bin ‘Abbas (18 H/687 M), menjawab berbagai pertanyaan dari Nafi’ bin Azraq (65 H/684 M) salah seorang khawarij yang dinamakan dengan; masalah-masalah Nafi bin Azraq dalam Garib al-Qur’an. Kemudian berkembanglah risalah-risalah dalam bidang ini, seperti garib oleh Abu Sa’id Aban bin Taglab, tafsir garib al-Qur’an oleh imam Malik, dan lain-lain.

Hingga sekarang, mu’jam atau kamus merupakan rujukan primer terhadap berbagai persoalan dalam ilmu pengetahuan, baik untuk mengetahui arti suatu kalimat (kata), mengetahui penjelasan atas makna kata tersebut, atau untuk mengetahui pengucapan lafadz tersebut. Perkembangan kamus sebagai sumber rujukan otoratif terhadap bahasa terus berlanjut, karena bahasa adalah pengantar atau alat untuk menjelaskan ilmu tertentu dan juga sebagai alat menyebarkan informasi kepada khalayak umum. Bahasa baik itu yang tertulis atau tidak adalah sarana mutlak dalam proses perkembangan keilmuan pada masa kapan pun sepanjang sejarah kehidupan.

Pada masa Daulah Umayyah karena wilayahnya berkembang secara luas, khususnya ke wilayah di luar Arab, maka ilmu nahwu sangat diperlukan. Hal tersebut disebabkan pula bertambahnya orang-orang Ajam (non-Arab) yang masuk Islam, sehingga keberadaan bahasa Arab sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, dibukukanlah ilmu nahwu dan berkembanglah satu cabang ilmu yang penting untuk mempelajari berbagai ilmu agama Islam.

Ilmu Nahwu digunakan untuk mengetahui susunan bahasa Arab yang benar dan salah. Sehingga dalam memahami al-Qur’an dapat menghindari kekeliruan fatal yang menyebabkan al-Qur’an salah ditafsirkan. Pada masa itu Abul Aswad Ad-Duali (w.681) menyusun gramatika Arab dengan memberi titik pada huruf-huruf hijaiyah yang semula tidak bertitik. Usaha ini besar artinya dalam mengembangkan dan memperluas bahasa Arab, serta memudahkan orang membaca, mempelajari, dan menjaga barisan yang menentukan gerak kata dan bunyi suara serta ayunan iramanya, hingga dapat diketahui maknanya. Kemudian diikuti para ahli ilmu setelahnya sampai berakhir pada Khalil bin Ahmad al-Farahidi pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid.

Dalam masa Abbasiyah, ilmu bahasa tumbuh dan berkembang dengan suburnya karena bahasa Arab yang semakin dewasa dan menjadi bahasa internasional. Disebutkan dalam The Cultural Atlas of Islam, banyaknya orang-orang non-Arab yang masuk Islam kemudian mempelajari bahasa Arab dengan sungguh-sungguh dan akhirnya memberi sumbangan besar untuk tata bahasa, sintaks, leksikografi, dan kritikisme sastra Arab.

  1. Sastra Arab.

Sastra Arab dalam kedua masa ini  mengalami perkembangan pesat. Ada beberapa aspek yang bisa menjadi petunjuk terhadap perkembangan kebudayaan literer secara umum pada periode ini, diantaranya pidato, korespondensi dan puisi. Ketiga aspek itu merupakan bagian dari jenis sastra yang berkembang saat itu. Sastra Arab secara umum terbagi dua jenis, yaitu prosa (natsr), dan puisi (syi’ir). Pidato di depan publik, dalam berbagai bentuknya, telah berkembang dan mencapai puncaknya selama masa Daulah Umayyah dan berlanjut pada masa Daulah Abbasiyah.

Syair-syair berbahasa Arab mampu memenuhi kebutuhan estetis bangsa Arab. Syair-syair itu menyenangkan rasa, menghibur dan mengilhami tindakan kepahlawanan mereka. Syair berkembang dengan berbagai macam tujuan, dimasukkan di dalamnya keahlian baru yang berkaitan dengan akidah Islamiyah dari sela-sela perhatian khalifah dan hakim dari berbagai arah syair.

Syair pada masa Daulah Umayyah digunakan sebagai sarana pujian para penguasa, menguatkan kekuasaannya, menyerang para musuh khususnya Syi’ah, Khawarij dan Jabariyah. Kemajuan paling penting selama periode Daulah Umayyah terjadi dalam bidang penulisan puisi. Puisi bernuansa politis pertama dibuat oleh Miskin al-Damiri yang diminta untuk menggubah dan membacakan di depan publik bait-bait puisi untuk merayakan pengangkatan Yazid sebagai khalifah. Nama-nama penyair yang terkenal antara lain adalah Ghayyats Taglibi al-Akhtal, Jurair dan al-Farazdak (penyair istana).

Pada masa Umayyah tugas utama penyair istana (pourt of court) adalah menggubah puisi yang berkisah tentang prestasi yang telah dicapai oleh para pembesar kerajaan dan mengabadikan nama mereka di dalamnya. Tentu saja, muncul beragam macam suara yang tidak sependapat dengan fenomena ini. Bagi mereka, ini adalah sesuatu yang tidak relevan dan absurd menerapkan model puisi zaman praIslam dalam kehidupan modern.

Perkembangan bidang sastra pada masa keemasan ‘Abbasiyyah terjadi seiring dengan perkembangan ilmu lain yang pada dasarnya semuanya bermuara pada sumber ajaran agama Islam. Perkembangan menarik terlihat dari wilayah taklukan Islam yaitu Persia sebagai tempat yang sejak awal memang terkenal dengan pengetahuan dalam bidang sastranya. Pada masa Daulah ini para ahli sastra diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menuliskannya. Karya sastra sebagiannya mengandung uraian tentang sanjungan terhadap para khalifah dan bangsawan.

Perkembangan sastra mempunyai dukungan yang jelas, baik oleh pengaruh taklukan Islam yaitu Persia yang semenjak awal memiliki peradaban pengetahuan, salah satunya yang terpenting adalah sastra dan seni, juga memiliki dukungan dari khalifah yang notabene adalah penggemar dan sekaligus ahli puisi.

Pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid hadir beberapa penyair terkenal  sebagai penyair bagi khalifah. Ia adalah Abu al-‘Aṯaiyyah dan Abū Ishāq bin Ismā’il bin al-Qāsim(130 H/748 M- 211 H/828 M) lahir di Ain Tamr, Irak dari kabilah Anazah. Sesudah namanya mulai terkenal, ia pindah ke Baghdad ditemani oleh penyayi kenamaan, Ibrāhim al-mausuli. Pada masa mudanya, ia menulis syair-syair cinta. Namun menjelang akhir hayatnya, ia cenderung menjadi zahid. Kumpulan puisinya, az-Zuhdiyyāt (syair-syair zuhud), membuatnya terkenal. Kumpulan sajak ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa jerman oleh O. Rescher, Der Diwan des Abu’i Atahija: Teil 1. Zuhdiyyāt (1928), yang kebanyakan berisi pengamatan kehidupan biasa dan hidup dunia akhirat yang bernada pesimistis.

Lebih-lebih dengan adanya perluasan wilayah Abbasiyyah bersamaan dengan tingkat kehidupan dan peradaban yang telah mengalami kemajuan. Si penyair udik, Abu Nawas adalah satu dari mereka itu. Ia adalah penyair yang biasa membaca puisi sambil minum khamr (anggur), Puisi-puisinya banyak menggambarkan tentang indahnya minuman keras (khamriyāt) yang sebenarnya mencerminkan kehidupan bangsawan di istana. Melalui syair-syairnya pula Abu Nuwas terkenal sebagai penyair yang jenius, lincah, dan kadang sinis dan kasar. Hingga sekarang tokoh Abu Nuwas sebagai seorang penyair cerdas dan lincah masih terus dikenal di dunia Arab. Ia merupakan sastrawan terbesar pada masanya. Puisi Gazal karya Abu Nuwas, sebuah puisi pendek tentang cinta yang berkisar mulai dari lima hingga lima belas bait, mengikuti model penyair Persia. Antologinya, Diwān Abi Nuwas, diterbitkan di Kairo (1277 H/ 1898 M) dan beberapa tempat lain. A. Von Kremer menerjemahkannya ke dalam bahasa Jerman, Diwan des Abu Nowas des Grossten Lyrischen Dichters der Araber (Wina, 1885). Walaupun sesungguhnya, menurut Dr. Syauqy Dhayf, ia bukanlah penyair pertama Arab yang suka melakukan hal itu.

Melalui karya terjemahan al-Muqaffa’ yang menerjemahkan karya orisinil India berjudul Kalila wa Dimna, yang diperoleh dari bahasa Pahlavi (Persia tengah), dan kemudian diterjemahkannya ke dalam bahasa Arab, maka sastra begitu mendapat perhatian dari bangsa Arab Islam. Sebuah karya yang memuat kumpulan fabel binatang untuk mengajari para pangeran mengenai pemerintahan. Isi Kalila wa Dimnah adalah pelajaran mengenai akhlak sebagai salah satu cara mengajar seorang pangeran yang malas yang tidak dapat diajar dengan cara lain hingga ayahnya putus asa dan mengambil seorang brahmana sebagai guru yang mengajar dengan cara mendongeng.

Tidak perlu diragukan lagi bahwa pengaruh terbesar sastra Islam dimainkan oleh  Alf Laila wa Laila  (Seribu Satu Malam) yang ditulis pada masa Daulah Abbasiyah oleh Jahsyiyari (wafat 942) berdasarkan kumpulan cerita Hazar Afsama (Seribu Malam) dalam bahasa Parsi yang asalnya juga merupakan saduran dari sastra India. Al-Jahsyiyari menambahnya dengan berbagai cerita Arab, Yahudi, dan sebagainya, serta mengubahnya menjadi suatu paduan yang indah dan serasi. Keseluruhan cerita terdiri dari 264 kisah di dalam sebuah bingkai monumental yang di Barat dikenal dengan nama Malam-malam Arab (Arabian Nights). Dalam jenisnya, ia memang tonggak sejarah sastra. Bukan saja karena nilai hiburannya yang mengasyikkan, melainkan juga karena nilai sastra dan daya cengkramannya terhadap pembaca-pembaca segala umur.

Kisah-kisah Alf Laila wa Laila yang paling dikenal adalah Aladin dengan Lampu Wasiatnya, Ali Baba dengan Empat Puluh Penyamun, Kelasi Sinbad, dan Pencuri dari Baghdad. Dalam bahasa Inggris bahkan ada idiom-idiom yang berasal daripadanya, yaitu Aladin Lamp, Aladin’s Ring, dan Aladin’s Wisdom.

Dalam bidang seni rupa, seni kaligrafi mendapat popularitas dan tempatnya tersendiri dalam kesenian Islam, karena tujuan awalnya untuk memperindah lafal Allah, dan didukung oleh ayat al-Qur’an (QS.68: 1 dan 96: 4), muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriah serta langsung menjadi primadona kesenian Islam. Pada tahap selanjutnya, kaligrafi sepenuhnya menjadi karya seni Islami, dan pengaruhnya terhadap seni lukis diakui oleh banyak kalangan. Seorang kaligafer menempati kedudukan yang terhormat dan mulia melebihi kedudukan para pelukis. Kedudukan dan popularitas mereka semakin menjulang karena banyak penguasa muslim yang berusaha mendapatkan kemuliaan agama dengan cara memperindah salinan al-Qur’an. Buku-buku berbahasa Arab tentang sejarah dan sastra banyak mengulas dengan penuh penghormatan sejumlah nama kaligrafer. Tetapi buku-buku itu sama sekali tidak mengulas sedikit pun tentang arsitek, pelukis dan pengrajin logam. Di antara para pelopor pengembangan kaligrafi Arab adalah al-Raihani (w. 834), yang mengembangkan kaligrafi pada masa al-Ma’mun dan menyempurnakan gaya kaligrafi raihan – sesuai dengan namanya. Ibn Muqlah (886-940), menteri Abbasiyah yang meski tangannya dipotong oleh khalifah al-Radhi, masih tetap bisa menulis dengan indah menggunakan tangan kirinya atau dengan mengikatkan pena pada ujung lengan kanannya; dan Ibn al-Bawwāb (w.1022 atau 1032), anak seorang pegawai di Majelis Umum di Baghdad adalah penemu gaya kaligrafi muhaqqaq. Penulis terakhir yang muncul pada penghujung periode Abbasiyah yang cukup kondang adalah Yāqut al-Mu’tashimi, ahli kaligrafi terkemuka yang namanya diabadikan sebagai nama gayatulisan, yakni Yāqūtī. Dinilai dari karya kaligrafi Yāqūtī yang masih bertahan hingga kini, dan sejumlah karya kaligrafer lain.

Dalam bidang seni musik, meskipun ahli fiqh melarang terhadap musik dan alat musik tidak berlaku efektif di Badgdad dibandingkan dengan yang terjadi di Damaskus. Salah satu buktinya bisa dilihat dari ketertarikan seorang penguasa Abbasiyah, al-Mahdi, yang mengawali kekuasaannya ketika Daulah Umayyah kedua berakhir, pada bidang kesenian ini. Istana al-Rasyid yang telah diperbaiki dan semarak sangat menyokong dan melindungi perkembangan musik dan nyanyian – sebagaimana yang mereka lakukan pada ilmu pengetahuan dan kesenian lainnya – sehingga istana menjadi pusat perkembangan dan perkumpulan para bintang musik.

Di antara karya-karya Yunani yang diterjemahkan pada periode keemasan Abbasiyah, hanya sedikit karya yang mengupas teori-teori musik. Jasa yang paling menonjol dari para teoritikus Muslim ialah pengembangan Musik mensural (ukuran tempo dan nada – M.J.I.) yang diperkenalkan di Eropa oleh Franco dari Cologne pada Abad ke XII, yang sebelum itu tidak dikenal di Barat.

Dua karya Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul Kitab al-Masail (problematika) dan Kitab fi al-Nafs (De anima) oleh seorang ahli fisika beragama kristen Nestor, Hunain ibn Ishaq (809-873), yang juga menerjemahkan buku kaya Galen dengan judul Kitab al-Shaut (De voce). Lalu ada dua karya Euclid yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, yaitu Kitab al-Nagham (buku Melodi) dan Kitab al-Qanun (Kitab hukum utama). Aristoxenus, dari abad ke-4 S.M., dikenal luas dengan karyanya, Kitab al-Iqa’ (Rhytm) dan Nicomachus, anak Aristoteles dengan karyanya Kitab al-Musiqi al-Kabir (Opus Mayor dalam Musik). Ikhwan as-shafa (abad kesepuluh), yang beberapa diantaranya merupakan ahli teori musik, mengelompokkan musik ke dalam cabang matematika, dan pytagoras dipandang sebagai pendiri teori ini. Dari karya-karya Yunani itulah para penulis Arab memperoleh gagasan-gagasan ilmiah mereka tentang musik dan menjadi ahli dalam aspek fisika dan fisiologi suara. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa sisi ilmiah– matematis musik yang berkembang Arab mengambil sumber teoretisnya dari Yunani, tetapi secara praktis–sebagaimana terungkap dalam penelitian-penelitian Farmer–tradisi musik mereka asli sebagai musik bergaya Arab. Pada masa itulah, kata musiqah diserap dari bahasa Yunani dan diterapkan ke dalam aspek-aspek teoretis ilmu musik. Istilah Arab ghinā tidak banyak dipakai, yang kemudian digunakan baik untuk lagu maupun musik. Pada seni praktis, kata qitār (gitar) dan urghin (organ), sebagai nama-nama instrumen, dan istilah-istilah teknis yang berasal dari bahasa Yunani, saat ini juga termasuk ke dalam kosakota Arab.

Menurut Nasr (1968), al-Farabi juga seorang ahli teori musik terkemuka abad pertengahan dan beberapa karya musiknya tetap hidup dalam ritus persaudaraan Sufi, terutama di Antonia hingga zaman modern sekarang. Karya musikologi al-Farabi, Kitab al-Mūsiqā al-Kabīr, dianggap oleh banyak sarjana sebagai karya terbesar tentang teori musik abad pertengahan.

  1. Perkembangan Ilmu Agama.

Ekspansi politik Islam, terutama pada masa Umayyah tidak hanya berimplikasi pada proses Islamisasi, melainkan juga Arabisasi bahasa. Pada masa kekuasaaan Bani Umayah ini juga terjadi perubahan sosial yang sangat dramatis dalam tubuh masyarakat Islam. Orang-orang Arab (pendatang) mulai berasimilasi dan bersosialisasi dengan pribumi karena kelompok sosial ini semakin hari semakin bercampur. Pada saat yang bersamaan, penduduk asli (pribumi) pun kemudian merasa butuh dan berkepentingan untuk mempelajari bahasa Arab. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab di masa Daulah Umayyah menjadi bahasa teologi.

Perkembangan keilmuan Islam tidak akan lepas dari al-Qur’an. Bahasa Arab al-Qur’an telah membentuk bahasa Arab sebagai suatu keseluruhan sejak pendirian Islam sebagai suatu agama. Dengan demikian, hubungan antara bahasa Arab dan Islam terlihat erat dalam sikap dan keyakinan kaum Muslimin Arab selama berabad-abad. Interaksi bahasa Arab dan Islam menyebabkan berkembangnya beberapa tradisi dan keyakinan tentang bahasa Arab. Keyakinan akan kesucian al-Qur’an yang bertalian dengan makna, penggunaan kata, bahkan sampai hal yang sekecil-kecilnya telah melekat pada bahasa Arab secara keseluruhan. Perbincangan sekitar masalah apakah bahasa Arab merupakan karunia Tuhan, sehingga dengan demikian mengungguli semua bahasa dalam keindahan, kekayaan, dan keagungan telah membangkitkan pemikiran yang mendalam di kalangan pakar-pakar filologi, teologi, filsafat, para ulama dan lain-lainnya.

Ketika penduduk mulai memeluk agama Islam, secara tidak langsung mereka harus belajar bahasa Arab guna mempelajari kitab sucinya yaitu al-Qur’an. Dan mempelajari ilmu-ilmu agama lainnya yang menggunakan bahasa Arab dari kitab yang ditulis para ulama’ seperti : ilmu hukum, fiqih, tafsir, hadits, tasawuf dan sebagainya.

Dalam bidang hukum, empat madzhab telah muncul dengan menggabungkan unsur-unsur spiritual dan duniawiyah dalam menentukan jalan yang terbaik untuk mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan di akhirat. Pendiri-pendiri madzhab ini adalah Abu Hanifah (wafat 767). Malik bin Anas (wafat 795), as-Syafi’i (wafat 820) Ibn Hanbal membentuk landasan hukum menuntun masyarakat Muslim untuk seluruh masa. Karya-karya Imam-Imam ini semakin dikukuhkan dengan adanya pengumpul-pengumpul Hadis yang telah menghimpun kitab-kitab yang dikenal dengan kitab-kitab yang enam. Kumpulan ini sangat dimuliakan setelah al-Qur’an Karim. Pengumpul-pengumpul hadis ini adalah al-Bukhari (wafat 870), Muslim (wafat 874), Ibn Majah (wafat 886), Abu Dawud (wafat 888), al-Tirmidzi (wafat 892), dan an-Nasa’i (wafat 915). Tokoh-tokoh ini merupakan pakar-pakar yang diakui dalam bidang-bidang mereka. Karya-karya mereka telah membantu merumuskan teologi ortodoks dalam suasana pertentangan yang panjang dan sengit antara berbagai kelompok agama dan politik. Al-Ashari (wafat 935) dan al-Ghazali (wafat 1111) diakui sebagai tokoh teologi ortodoks. Kegiatan mereka disempurnakan oleh al-Tabari (wafat 922), dan al-Zamakhsari (wafat 1147), pakar terkemuka tentang tafsir al-Qur’an.

  1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Filsafat.
  2. Ilmu Pengetahuan.

Prestasi luar biasa umat Islam pada masa Daulah Umayyah yang dapat menaklukkan wilayah-wilayah kerajaan Romawi dan Persia, dilanjutkan pada masa Daulah Abbasiyah dengan prestasi yang lebih hebat lagi dalam penaklukan bidang ilmu abad berikutnya.Posisi bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan Islam, bahasa pendidikan, dan kebudayaan pada masa Daulah Umayyah dan Abbasiyah ini merupakan prestasi ganda, yaitu prestasi Islam dan bahasa Arab. Prestasi tersebut disebabkan faktor politik, yaitu adanya political will dari penguasa  yang sangat haus dan antusias terhadap pengembangan iptek saat itu untuk mengembangkan tradisi ilmiah dan sistem pendidikan yang berorientasi kepada intelektualisasi sekaligus spiritualisasi.

Penguasa, Ulama, dan partisipasi publik yang plural dan multikultural dalam pengembangan sistem pendidikan Islam membuat kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam menjadi semakin progresif. Lebih-lebih ketika Daulah Abbasiyah berkuasa, menggantikan Daulah Umayyah, orientasi dan tradisi keilmuan mendapat ruang dan momentumnya yang relevan dan signifikan. Bersamaan dengan itu, atas kebijakan khalifah Harun al-rasyid (786-809 M) dan terutama al-Ma’mun (813-833 M), gerakan intelektualisasi berjalan mulus dan memperlihatkan kesuksesan yang luar biasa. Dalam konteks ini yang menarik adalah bahwa sang khalifah yang menginstruksikan gerakan penerjemahan besar-besaran berbagai karya filosof  Yunani, ilmuwan Persia dan India ke dalam bahasa Arab. Gerakan penerjemahan tersebut tidak hanya melibatkan sumber daya manusia (SDM) dari kalangan umat Islam saja, melainkan juga melibatkan atau ada semacam usaha menyewa atau memanfaatkan para penerjemah dari kalangan Nasrani seperti Hunain ibn Ishaq. 

Faktor bahasa Arab memang sangat akomodatif untuk dijadikan sebagai media reproduksi pemikiran dan karya-karya ilmiah para filosof dan ilmuwan Muslim. Meskipun al-Khalil ibn Ahmad, Sibawaih, Ibn Miskawaih, al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Malik dan sebagainya bukan orang Arab asli, mereka dengan penuh ekspresi menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa ilmu.

Sumbangan ilmuwan Islam masa klasik terhadap pemikiran ilmuwan seringkali muncul dalam pembahasan mengenai ilmu-ilmu pengetahuan dalam Islam. Di antara ilmuwan ternama pada awal periode klasik adalah Jabir Ibn Hayyan – oleh bangsa latin dikenal sebagai “Geber” (hidup kira-kira 721-815), pendiri ilmu kimia dalam Islam. Didukung oleh istana kekhalifahan Harun ar-Rasyid di Baghdad, dia menulis sekitar 3.000 karangan, kebanyakan tentang kimia, tetapi juga tentang logika, filsafat, kedokteran, ilmu-ilmu supernatural, fisika, mekanik, dan bidang-bidang lain yang kemudian menjadi disiplin yang terkenal.

Ibn Hayyan adalah seorang Syi’ah dan sufi sekaligus. Karena kesufiannya ini, pemikirannya dipengaruhi secara kuat oleh mistik dan spiritualitas. Banyak sufi percaya bahwa ada hubungan yang sejajar antara transendensi jiwa yang menuju puncak-puncak dunia angkasa dan perubahan bentuk logam-logam dasar menjadi logam murni seperti emas. Dikarenakan ciri ajaran sufinya yang mistik ini, Ibn Hayyan melakukan eksperimen tentang logam-logam dan elemen-elemen, dan mempersiapkan manuskrip yang panjang tentang kualitas spiritual dan supernaturalnya. Walaupun pada dasarnya dikerjakan dengan proses transmutasi, dia betul-betul mengembangkan prosedur-prosedur kimiawi yang bertahan lama. Dia memahami zat-zat asam dan bahan-bahan dasar, dan mampu untuk memisahkan asam sendawa (nitrit acid), aqua regia, sodium hydroxide, corrosive sublimate, antimony, bismuth, zinc, ammonia, dan phosphorous. Dia juga menulis tentang sifat-sifat persenyawaan fisik dan kimiawi.

Kita meminjam istilah “algebra” (al-jabar) dari ilmuwan muslim abad ke 9, Musa al-Khawarizmi (meninggal kira-kira tahun 863), yang telah mengadakan perjalanan ke Timur untuk matematika. Dalam perjalanannya kembali ke Istana al-Ma’mun, dia mensintesakan matematika yang diketahuinya dan menyajikannya dalam satu seri berjudul “al-Jabr wa’l-muqabalah”, disingkat al-Jabr. Teks Latin al-Jabr digunakan sebagai teks dasar pelajaran matematika di Eropa sampai abad ke-16. Lebih dari ilmuwan lain yang manapun, dia bertanggung jawab dalam memperkenalkan sistem penomoran bangsa India ke Barat. Masukan dari Timur ini sangat menyederhanakan perhitungan dan merupakan penggerak dasar bagi perkembangan matematika yang terus menerus, yang lebih canggih dalam Islam, dan kemudian berkembang di Eropa. Menjelang masa ini, matematika Islam sudah memperkenalkan konsep zero (nol), dan menciptakan sebuah sistem penomoran yang didasarkan pada perkalian angka sepuluh. Istilah matematika ”algorisme” yang ditentukan sebagai aksi perhitungan dengan menggunakan sembilan angka (digits) dan sebuah zero, berasal dari nama yang dimiliki al-Khawarizmi sebagai alat praktis dalam memecahkan masalah warisan, tuntutan-tuntutan hukum dan perdagangan. Sumbangannya bagi matematika juga mencakup daftar sinus dan nilai-nilai kontangen. Khalifah al-Ma’mun mempekerjakannya sebagai ahli perbintangan di observatori kerajaan, yang posisi itulah al-Khawarizmi membuat skema langit dan meningkatkan peta-peta geografis karya Ptolemy. Di samping itu, dia juga mengembangkan tabel-tabel perbintangan dan memperkenalkan konsep-konsep garis lintang (latitude) dan garis bujur (longitude) ke dalam ilmu pemetaan (kartograpi).

Matematika memiliki daya tarik tersendiri bagi para ilmuwan Muslim karena perwakilan simboliknya tentang alam. Pada dasar-dasar teori matematika itu terletak konsep kesatuan alam, yang memang merupakan tema utama dalam Islam. Matematika menunjukkan alam dan bagian-bagiannya secara simbolik. Para ilmuwan Islam memperkenalkan apa yang disebut sistem penomoran Arab ke Barat, yang sangat membantu perhitungan. Dengan pengenalan zero, sistem penomoran itu memperkenalkan angka-angka desimal.

Sumbangan Islam bagi studi geografi meliputi karya-karya fisik, budaya dan matematika. Sebab para ilmuwan berkiprah secara luas sepanjang wilayah Islam, maka mereka mampu menambah banyak informasi mengenai gambaran-gambaran yang ada tentang tanah, binatang, tanaman dan kebudayaan penduduknya. Hal ini mereka lakukan melalui banyak karya yang masih tersedia.  Para ahli geografi Islam unggul dalam bidang pemetaan menggambar peta-peta langit, bumi dan lautan secara akurat. Sebab para nelayan sudah bisa menggunakan alat-alat pelayaran, skema perairan yang bisa dilalui menjadi terkenal di Timur Tengah dan Eropa. Tidak hanya orang-orang terpelajar saja, di wilayah-wilayah Islam, yang tahu bahwa bumi itu bundar, tetapi beberapa orang juga menghitung kelilingnya dan juga panjang derajat pancaran listriknya pada daerah khatulistiwa. Walaupun dengan peralatan kasar, tetapi ukuran-ukuran yang dihitung selama periode ini sangat tepat.

  1. Ilmu Filsafat.

Setelah kitab-kitab filsafat Yunani diterjemahkan dalam bahasa Arab atas kebijakan Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah, barulah kaum muslimin sibuk mempelajari ilmu filsafat, bahkan menafsirkan dan mengadakan perubahan serta perbaikan sesuai dengan ajaran Islam, sehingga lahirlah para filsuf Islam yang kemudian menjadi bintang dunia filsafat seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali dan Ibn Rusyd.

Pada filsafat Arab ada pengetahuan akan haqiqat sebab-sebab adanya benda-benda sebagaimana nyatanya, sejauh hal ini mungkin menyakinkan mereka, sesuai dengan kemampuan-kemampuan manusia. Filsafat mereka bermulai lewat pemikiran bangsa yang ditaklukkannya dan lainnya, seperti pengaruh-pengaruh Timur, diselaraskan dengan hasrat-hasrat jiwa Islam dan disuguhkan melalui bahasa Arab.

Para filsuf Islam berusaha menjawab persoalan-persoalan umat Islam yang berkaitan dengan kepercayaan dan pemikiran, baik secara teoritis maupun praktis, kemanusiaan maupun ketuhanan yang dianggap oleh umat Islam perlu dijawab sebagai pegangan hidup keseharian maupun keselamatan yang lebih tinggi. Pada masa ini pemikiran filsafat mencakup bidang keilmuan yang sangat luas seperti logika, geometri, astronomi dan musik yang dipergunakan untuk menjelaskan pemikiran abstrak, garis dan gambar, gerakan dan suara. Para filsuf semasa Abbasiyah seperti Ya’qub ibn Ishaq al-Kindi, Abu Nasr Muhammad al-Farabi, Ibn Bajah, Ibn Tufail dan Ibn Rusyd menjelaskan pemikiran-pemikirannya dengan menggunakan contoh, metafor, analogi dan gambaran imaginatif.

  1. Penutup

Seiring dengan perluasan wilayah agama Islam, bahasa Arab pada masa Daulah Umayyah mengalami perkembangan atas kebijakan pemerintah Daulah Umayyah dengan mengembangkan politik Arabisme dan gerakan penerjemahan. Pendidikan bahasa Arab di awal masa Daulah Umayyah masih bersifat learning cultures, di mana penyebaran bahasa Arab masih dilakukan secara lisan, tidak resmi, menyatu dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi masyarakat Arab pada waktu itu. Setelah itu telah ada perkembangan menjadi teaching culture dengan pembelajaran dalam bentuk halaqah sampai dengan sistem madrasah. Pada zaman Daulah Abbasiyah, perkembangan bahasa Arab berlanjut atas gerakan pemurnian bahasa Arab. Dengan demikian, bahasa Arab tidak dapat menghindarkan diri dari pengaruh bahasa-bahasa non-Arab. Gerakan pemurnian bahasa Arab berjalan lancar karena dibantu oleh sikap dan perhatian para khalifah dan menteri-menteri yang saat itu sedang berkuasa. Karena sebagian diantara mereka menguasai bahasa Arab dengan sangat baik, yang mendorong dan terus mendukung pengembangan bahasa Arab, antara lain melalui forum pertemuan-pertemuan ilmiah yang diselenggarakan di lingkungan istana dan diikuti oleh kaum intelektual.

Secara umum, sistem pengelolaan pendidikan bahasa Arab pada masa Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah ini bersifat teacher oriented, bukan institution oriented. Kualitas suatu pendidikan bergantung kepada guru atau kekuatan ulama (orang yang memiliki komitmen intelektual) daripada kepada lembaga atau kekuatan negara (orang yang memiliki kekuasaan), meskipun lembaga pendidikan telah dibangun. Sistem pembelajaran bahasa Arab pada dua masa tersebut secara impilisit sama dengan sistem pembelajaran Islam karena bahasa Arab sebagai media bahasa untuk mempelajari agama Islam dan keilmuan lainnya.

Perkembangan bahasa Arab di kedua masa tersebut karena menempati Posisi strategis sebagai bahasa pendidikan, kebudayaan, politik dan sebagainya dalam kehidupan sehari-sehari. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari beberapa faktor penting. Di antaranya: Pertama, faktor ideologis; bahwa bahasa Arab memang sudah mengkristal dengan agama Islam yang dianut oleh pemeluknya. Kedua, faktor doktrinal; bahwa al-Qur’an yang berbahasa Arab itu sangat menekankan umatnya mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga umat Islam terpacu untuk memahami dan mengaktualisasikan ajaran Islam yang tertuang dalam teks Arab al-Qur’an dan as-Sunnah. Ketiga, faktor linguistik; bahwa bahasa Arab hingga kini tetap memperlihatkan sebagai bahasa fusha yang berkembang dinamis, sanggup mengikuti perkembangan zaman disebabkan oleh berbagai keunggulan morfologis, sintaksis, semantik dan sosiologis. Keempat, faktor politik; dukungan penguasa dan rakyat yang multilateral dan multi-etnis dari Andalusia (Spanyol) memungkinkan bahasa Arab berkembang dan tersosialisasi dengan sangat efektif dalam berbagai lapisan masyarakat.

.

 

Penulis adalah

Dosen STAI Al Muhammad Cepu Blora

 

 

 

Bibliografi:

 ‘Abd al-‘Al, Hasan, al-Tarbiyah al-Islamiyah fi al-Qarn al-Rabi’ al-Hijriy, Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi, 1978.

––––––––– , al-Tarbiyah al-Islamiyah fi al-Qarn al-Rabi’ al-Hijriy, ttp: Dar al-Fikr al-Arabi, t.th.

Abdul Wahab, Muhbib, Epistemologi & Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2008.

Abdurrahman, Dudung, Komunitas-Multikultural dalam Sejarah Islam, Yogyakarta: Ombak, 2014.

––––––––, Metodologi Penelitian Sejarah Islam, Yogyakarta: Ombak, 2011.

Abrasyi al-, M. Athiyah, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. H. Bustami A.Gani dan Johar Bahry dari al-Tarbiyatul al-Islam, Jakarta: Bulan Bintang, cet. VII, 1993.

Ali Audah, “sastra” dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Bandung: PT.Mizan Pustaka, 2003.

Amin, Ahmad , Dhuha al-Islam, Kairo: Maktabat al-Nahdhat al-Misriyyat, 1974.

––––––––, Zuhr al-Islam, jilid II, Kairo: al-Nahdah al-Misriyyah,1996.

Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2015.

Ardi Widodo, Sembodo, Kata Pengantar Buku” dalam Rivany Philanthrpy (Ed.), Sejarah Pendidikan Bahasa Arab di Dalam dan Luar Negeri, Yogyakarta: Maktabah Mandiri, 2014.

Arief, Armai (ed.), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam Klasik, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2004.

Asroah, Hanun, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999.

Bakri, Syamsul, Peta Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Fajar Media Press, 2011.

Chejne, Anwar G. , Bahasa Arab dan Peranannya dalam Sejarah, The Arabic Language: Its Role in History, terj. Aliudin Mahjudin, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1996.

Efendy, A. Fuad , Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Malang; Misykat, 2009.

Fajar, Abdullah, Peradaban dan Pendidikan Islam, Jakarta: Rajawali Press, 1996.

Fuadi, Imam, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Teras, 2011.

Gilliot, Claude, Education and Learning in the Early Islamic World, (England: British Library CIP Data, 2012.

Gottschlak, Louis, Mengerti Sejarah, terj. Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI-Press, 1985.

Hallaq, Husain, Tarikh al-Hadharah al-Islamiyyah, Kairo: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1988.

Hamid, H.M. Abdul. dkk, Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta: SUKSES Offset, 2008.

Hasan Siddiqi, Amir, Studies In Islamic History, terj. M.J.Irawan, Bandung: Al-Ma’arif, 1987.

Hasjmy A., Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

Hermawan, Acep, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2011.

Heriyanto, Husain, Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, Jakarta: PT. Mizan Publika, 2011.

Hinwu al-, Abduh dan Bahzad Jabir, al-Wafi fi Tarikh al-‘Ulum ‘inda al-Arab, Beirut: Dar-al-Fikr al-Lubnani, tt.

Ibrahim Hasan, Hasan, Tarikh al-Islam, Mesir: Maktabah Syahsiyah Misriyah, 1980.

–––––––––, Sejarah dan Kebudayaan Islam, terj. Jahdan Ibnu Humam, Yogyakarta: Kota Kembang,1989.

Imamuddin, S.M., Some Leading Muslim Libraries, Dzaka: Islamic Foundation Bangladesh, 1983.

Ismail, Faisal, Sejarah dan Kebudayaan Islam periode klasik (abad VII-XIII M), Yogyakarta: Gosyen Publishing, 2015.

Isysy al-, Yusuf, al-Daulah al-Umawiyah wa al-Ahdats al-Tarikhiyyah al-lati Sabaqatha wa Mahhadat laha ibtidan min Fitnah Utsman, Damaskus: Dar al-Fikr, 1989.

Izzan, Ahmad, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Bandung: HUMANIORA – Anggota ikapi, 2011.

Jumbulaty al-, Ali, Dirasatun Muqaraanatun fit-Tarbiyyatil Islamiyyah, Perbandingan Pendidikan Islam, terj. H.M. Arifin, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994.

––––––––––, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006.

Karim, M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007.

Kartodirdjo, Sartono, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, Jakarta: Gramedia, 1992.

Khamdan dkk, Analisis Kebijakan Pendidikan Islam, Yogyakarta: Idea Press, 2012.

Langgulung, Hasan, Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke-21, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1988.

  1. Echols, John,  Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia Jakarta, 1978.
  2. Lapidus, Ira, A History of Islamic Societies, Cambridge: Cambridge University Press, 1991.

Madkur, Ibrahim, Fi al-Falsafaṯ al-Islamiyyaṯ Manhaj wa Tathbiqah, Kairo: Dar al-Ma’arif, 1976.

Mahjub, Abbas, Musykilat Ta’lim al-Lugaha al-‘Arabiyah: Hulul Nadzhariyah wa Tathbiqiyyah, Doha: Dar al-Tsaqafah, 1986.

Mahmuddunasir, Syed, Islam Its Concept And History, New Delhi: Lahoti Fine Arr Press, 1985.

Maksidi, George , The Rise of Colleges: Institusions of Learning in Islam and The West, Edinburg: Edinburg University Press, 1981.

 ––––––––––, Madrasah Sejarah dan Perkembangannya, Pualang Timur Ciputat: Logos Wacana Dunia, 1999.

Maksum, Madrasah Sejarah dan Perkembangannya Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi Sarana Akademis, Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999.

Maryam, Siti, dkk, Sejarah Peradaban Islam dari masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta: Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga, 2002.

Mas’ud, Jibran, al-Arabiyyah al-Fusha: Sya’latun la Tantafi’, Beirut : Bait al-Hikmah, 2001.

Maududi al-, Abul A’la , Al-Khilafat wa al-Mulk, Edisi Indonesia, Khilafah dan Kerajaan, Bandung: Mizan,1992.

Michael Stanton, Charles, Pendidikan Tinggi dalam Islam, Jakarta: Logos, 1994.

Mohd Fachruddin, Fuad, Perkembangan Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985.

Mujib, Fathul, Rekonstruksi Pendidikan Bahasa Arab, Yogyakarta: Pedadogia, 2010.

Mustofa, Syaiful, Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Inovatif, Malang: UIN Maliki Press, 2011.

Musyrifah Sutanto, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2003.

Nakosteen, Mehdi,  Konstribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat, Surabaya: Risalah Gusti, 1964.

––––––––, Sejarah Pendidikan Islam pada periode klasik dan pertengahan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2010.

Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2007.

Poeradisastra, S.I., Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern, Jakarta: Komunitas Bambu, 2008.

Putra Daulay, Haidar, Pendidikan Islam Dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: Kencana, 2013.

 

Rashed, Roshdi, Islam and the Flowering of the Exact Science, dalam Islam, Philosophy and Science, Perancis: The UNESCO Press, 1981.

Romdhoni, Ali,  Al-Qur’an dan Literasi Sejarah Rancangan-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman, Depok: Literatur Nusantara, 2013.

Rosental, Franz ,The Classical Heritage in Islam, London: Routledge and Kegan Paul, 1975.

Rosyidi, Wahab, Memahami Konsep Pembelajaran Bahasa Arab, Malang: UIN-Maliki Press, 2012.

Salim Mukram, ʻAbd al-‘Al,  al-Lughah al-‘Arabiyyah fî Rihâb al-Qur’ân al-Karîm, Kairo: ‘Alam al-Kutub, 1995.

Sirjani As-, Raghib, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2011.

Sulaiman, Rusydi, Pengantar Metodologi Studi Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Gravindo, 2014.

Sumardi, Mulyanto, dkk, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Agama Islam IAIN, Jakarta: Proyek Pengembangan Sistim Pendidikan Agama Departemen RI, 1976.

Suwendi, Sejarah & Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta : PT RajaGrafindo, 2004.

Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008.

Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2011.

Syaefuddin, Machfud, dkk, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu Yogyakarta, 2013.

Syalabi, Ahmad , History of Moslem Education, Beirut: 1954.

––––––––, Mausu’ah al-Tarikh al-Islamy wa al-Hadarah Islamiyah, Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Islamiyah, tt.

––––––––, at-Tarbiyah wa at-Ta’lim fi Fikr Islam, (Kairo: Maktabah al-Hadarah al Mishriyah, 1987 H.

–––––––––, Sejarah Pendidikan Islam, terj. Muhtar Yahya, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.

Syubar, Sa’id, al-Musthalah Khiyar Lughawt wa Simah Hadlariyyah, Qatar: Kitab al-Ummah, edisi 78, 2000.

Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Rosdakarya, 1992.

Team penyusun buku pedoman bahasa Arab direktorat jendral bimbingan masyarakat islam, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada perguruan Tinggi Agama Islam, Jakarta: Departemen RI, 1976.

Tibi, Bassam, Islam, Kebudayaan dan Perubahan Sosial, terj. Misbah Zulfa Elizabet, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1999.

  1. Creswell, John, Research Design : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan MixedYogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.

Wehr, Hans, Mu’jam al-Lughat al-Arabiyyat al-Ma’ashirat ‘Arabi-Injiliziyyat, diedit oleh J. Milton Cowan, Beirut: Librairie Du Liban, 1980.

Yunus, Mahmud, Pendidikan Islam dari zaman Nabi SAW, Khalifah-khalifah Rasyidin, Bani Umayah dan Abbasiyah sampai zaman Mamluks dan Usmaniyah Turki, Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990.

––––––, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Hidakarya Agung, 1992.

Zaidan, Jurji, Tarikh Adab Lughah al-Arabiyyah, jilid 2, Kairo: Darul Hilal, tt.

Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2010.

  1. Tamam,Asep, Sejarah Perkembangan Bahasa Arab, didownload tanggal 12/09/2015 di link www.amazon.com.

 

 

Komentari berita ini, atau sebarkan melalui : 
Facebook
 Agenda
Sabtu
10
Maret
Bakti sosial PIKMa
Bakti sosial PIKMa

Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIKMa) STAI Al Muhammad salah satu UKM-BEM Cepu menggandeng Komunitas Masyarakat Cepu (KMC) dan PMI Kabupaten Blora, menyelenggarakan even Donor Darah, pentas seni, dan bazar lintas perbatasan.

Acara ini digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kemanusiaan dan ajang unjuk kebolehan para siswa dan mahasiswa.

Sponsor: Dinas Dalduk KB-Pertamina EP-BNI 46 dan Simpatisan.


Agenda tersebut di atas akan digelar pada:
Hari/tanggal : Sabtu,  10  Maret  2018
Jam : 12.00 sampai selesai
Bertempat di : Pendopo Kecamatan Cepu,  Jalan RonggoLawe No 1 Cepu
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Sabtu
03
Maret
Seminar Proposal Skripsi
Seminar Proposal Skripsi

Seminar Proposal skripsi 2018

Seminar proposal bagi mahasiswa semester akhir TA 2017/2018 akan dilaksanakan mulai hari Sabtu tgl 3 Maret 2018.

Mahasiswa angkatan di bawahnya bisa mengikuti sebagai pesérta dengan terlebih dahulu mendaftar ke BAAK.


Agenda tersebut di atas akan digelar pada:
Hari/tanggal : Sabtu,  03  Maret  2018
Jam : 09.00
Bertempat di : Kampus I,  Jalan Blora No.151 Cepu Kota.
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Rabu
31
Januari
Akreditasi AIPT
Akreditasi AIPT

Cepu (22 Feb 2018)

Pasca penguatan akreditasi Prodi PAI dan Ahwal Al Syakhsiyah di penghujung Tahun 2017, untuk meningkatkan status telah diagendakan awal tahun 2018 mengajukan Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT).

Kesungguhan para dosen dan tenaga kependidikan nampak antusias mempersiapkan Borang AIPT yang menyangkut 7 Standar dan Evaluasi Diri. Ditargetkan akhir bulan ini bisa diupload setelah disempurnakan usai dievaluasi melalui pendampingan pada hari Minggu yll dengan menghadirkan DR. Sodiq dosen UIN Walisongo yang juga sebagai Asesor BAN PT. Jelas Drs. Mamik Slamet,  MM, MPd selaku Ketua Tim. (pk3)

 


Agenda tersebut di atas akan digelar pada:
Hari/tanggal : Rabu,  31  Januari  2018
Jam :
Bertempat di : KAMPUS I,  Jalan Blora 151 Cepu Kota
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook

 Pengumuman
Tugas Akhir/SKRIPSI TAHUN 2016
Ditujukan kepada :  Mahasiswa Semester Akhir 2015/2016

Isi Pengumuman
PROSES PENYELESAIAN TUGAS AKHIR/SKRIPSI SARJANA S1 TA 2015/2016. Tahapan penyelesaian Tugas Akhir / Skripsi telah sampai pada tahap SEMINAR PROPOSAL PENELITIAN. Seminar Proposal terselenggara mulai tanggal 5 sampai dengan 20 Maret 2016 diikuti sebanyak 155 mahasiswa yang terdiri dari tiga Prodi yaitu Prodi Pendidikan Agama Islam, Ahwal Al Syahsyiah, dan Perbankan Syariah. Selanjutnya diberikan waktu hingga 10 Mei 2016 untuk menyelesaikan perijinan, pengumpulan data dan penyusunan laporan penelitian. Dalam penyusunan Tugas Akhir/Skripsi setiap Mahasiswa difasilitasi 2 (dua) Dosen Pembimbing dan diwajibkan minimal harus bertatap muka 5 (lima) kali pada masing-masing Dosen Pembimbing. Berdasarkan hasil evaluasi Seminar Proposal secara umum Judul penelitian sudah sesuai dengan bidang keimuan yaitu Pendidikan Agama Islam, Perbankan Syariah, dan Ahwal al Syahsyiah. Hasil evaluasi Kepala Biro Skripsi Drs. Mamiek Slamet, MM, M.Pd. menekankan bahwa mahasiswa harus lebih banyak mendalami kajian teoritis sebagai landasasan dan penyusunan kerangka pikir penelitiannya. Hal ini sangat penting karena dengan memahami kerangka pikir akan memberikan arah peneliti untuk mengumpulkan data secara induktif maupun deduktif, mereduksi data, menganalisis, serta menarik kesimpulan dan rekomendasi. Tentunya secara konsisten simpulan peneitian merupakan jawaban atas permasalahan dan hipotesa yang diajukan. Lebih lanjut Biro Skripsi menjelaskan bahwa sesuai Agenda UJIAN KOMPREHENSIP akan diselenggarakan tanggal 21-25 Mei 2016. Diharapkan mahasiswa sudah mendaftarkan Komprehensip tgl 14-17 Mei 2016. Komprehensip sebagai salah satu prasyarat untuk bisa mengikuti UJIAN AKHIR/MUNAQOSAH SKRIPSI yang akan diselenggarakan tanggal 11-18 Juni 2016. Berkaitan dengan hal itu maka mahasiswa hendaknya lebih pro aktif berkomunikasi dengan sesama teman maupun BAAK agar tidak ketinggalan informasi.
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Kepala Biro Skripsi
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
KTM semester genap 2015/2016
Ditujukan kepada :  mahasiswa aktif tahun akademik 2015/2016

Isi Pengumuman
Pengambilan KTM semester 8 dilayani tanggal 23-30 Maret 2016 di staf admin rektorat
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
staf admin rektorat
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Training Racana-Mapala
Ditujukan kepada :  1. Pengurus Racana Maulana Malik Ibrahim dan Campa Putri. 2. UKM Mapala Gibaltar STAI AMC

Isi Pengumuman
Training anggota baru dan implementasi program kerja disleenggarakan awal bulan Mei dibersamakan kegiatan rekruitmen calon anggotan Mapala Gibaltar. Proposal sudah diterima Waka 3 tanggal 15 april 2016.
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Waka 3 Bidang Kemahasiswaan
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
PENGUMUMAN KEGIATAN PERKULIAHAN
Ditujukan kepada :  mahasiswa STAI AL MUHAMMAD CEPU

Isi Pengumuman
Assalamu’alaikum Wr.Wb Diumumkan kepada seluruh mahasiswa STAI Al Muhammad Cepu, bahwa sehubungan dengan pelaksanaan UN SMA/SMK/MA Tahun Pelajaran 2015/2016 yang dilaksanakan tanggal 4 s/d 7 April 2016, maka kegiatan perkuliahan daari 3 s/d 6 April 2016 ditiadakan. Demikian pengumuman ini atas perhatiannya diucapkan terima kasih. Wassalamua’alaikum Wr.Wb
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
admin
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Bantuan skripsi dan tesis.
Ditujukan kepada :  Mahasiswa semester akhir

Isi Pengumuman
Diberikan kesempatan bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir (skripsi/tesis) memperoleh stimulan bantuan dg syarat: a. Status mahasiswa aktif (bukti NIM). b. Copy KTP c. Proposal penelitian.*) d. Foto 4x6 e. No telp HP Masing2 dibuat rangkap 3 sebelum tgl 20 April 2016 *) tema kependudukan dan KB
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
admin waka3
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Pendaftaran Munaqosah 2017
Ditujukan kepada :  Mahasiswa semester akhir 2017/2017

Isi Pengumuman
Pendaftaran Usulan mengikuti Ujian Skripsi (Munaqosah) diberikan dispensi sampai dengan tanggal 5 AGUSTUS 2017. Persyaratan selengkapnya dapat menghubungi BAAK pada jam kerja. (mm-biro skripsi)
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Biro Skripsi
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Pengambilan KTM Tahun Ajaran 2017/2018 Semester 3-5
Ditujukan kepada :  Di Infokan Kepada Mahasiswa Semester 3-7 semua Jurusan di STAI Al Muhammad Cepu

Isi Pengumuman
Assalammualaikum. Wr.wb Ditujukan untuk seluruh mahasiswa STAI AL MUHAMMAD CEPU semester 3 s/d 7 semua jurusan. KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) Semester Ganjil tahun ajaran 2017/2018 bisa di ambil di Siti Lutfiatul Ummah, SH. Pengambilan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) bisa di lakukan pada jam kerja, 13.30 s/d 17.00. Pengambilan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) bisa mulai di ambil hari ini 09 Oktober 2014 s/d 31 Oktober 2017. Jika dalam tenggang waktu tersebut KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) tidak di ambil. Maka jika ada KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) yang hilang, bukan tanggung jawab kami. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Wassalammualaikum. Wr.wb
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Haji Kaswari, S.Pd.I
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
 Berita Lainnya
12 Maret 2018
4 Maret 2018
25 Februari 2018
21 Februari 2018
10 Februari 2018