4 Maret 2018

Pendidikan Multikultural Berbasis Tasawuf oleh : Adi Kusmanto,S.Pd.I, MM.Pd

abstraksi

Pengembangan pendidikan yang menjunjung tinggi multikulturalisme dan menghargai kemanusiaan yang selama ini menggelora tidaklah harus dibiarkan  berhenti pada tingkat teori atau wacana. Semua itu perlu disusun agenda aksi yang nyata pada tingkat pemberian materi atau aksentuasi materi yang akan disampaikan. Dan tulisan yang Anda baca ini, ingin berusaha menawarkan aksentuasi materi yang mengedepankan ranah yang jarang terjamah dalam pendidikan, yaitu ranah kecerdasan emosi dan spiritual yang merupakan inti kegiatan tasawuf, agar tercipta pemahaman siswa terhadap multikulturalisme.

Kata-kata kunci : Pendidikan multikultural, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual dan tasawuf.

 

  1.  Pengantar

Sebagaimana kita ketahui, tanah air kita merupakan negeri yang kaya dengan ragam kebudayaan, bahasa, adat istiadat, agama dan suku bangsa. Kesemuanya menyatu dalam kosa kata SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) yang merupakan ibu pertiwi dari terbentuknya negeri ini. SARA merupakan tulang punggung keberadaan republic kita ini, oleh karena itu  SARA bukanlah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, didiskusikan, bahkan SARA harus dibahas sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya sehingga menjadi wacana public yang positif dan bukan negative

Wacana SARA memang pernah menjadi wacana yang sacred, ketika rezim Suharto dengan dalih subversive dan sebagainya. Akan tetapi  sekarang SARA harus kita hidupkan  kembali sebagai wacana public yang produktif dan kondusif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. SARA harus menjadi basis pendidikan dan bukan mentabukannya. Multikultural dan multireligius harus menjadi aset “market” di sekolah-sekolah  sehingga siswa memahami apa yang dimaksud dengan SARA itu sendiri.

Dari berbagai keragaman di Indonesia yang disebut sebagai negara pluralis, yang dihuni oleh beragam etnis, budaya dan agama. Dan telah menjadi konsumsi umum bahwa keragaman adalah karakteristik bangsa Indonesia. Ini akan menjadi manifestasi yang berharga bagi bangsa Indonesia, jika dikelola dengan baik. Namun jika tidak dikelola dengan baik keragaman akan menjadi masalah penting yang menyebabkan terjadinya konflik.

Adalah tawuran, konflik antar siswa atau antar pelajar di kota-kota besar bisa dikatakan sebagai indikasi kegagalan dunia pendidikan mempersiapkan generasi yang mandiri, cerdas, berempati dan manusiawi. Keinginan tawuran disebabkan karena disekolahnya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya tidak lagi mendapat orang yang mampu menjadi “figure”.

Dalam era globalisasi dengan interaksi antarbangsa menjadi semakin intensif, terbuka dan transparan. Adanya proses saling mempengaruhi antar budaya kerap terjadi dalam interaksi tersebut. Namun proses itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua arah atau timbal balik yang berimbang, melainkan bisa jadi budaya yang satu berpengaruh dominan terhadap budaya lainnya. Ini membuktikan bahwa saat ini nilai-nilai agama, budaya lokal dan jati diri bangsa seperti kekeluargaan, keramahtamahan dan sopan santun semakin memudar bersamaan dengan menguatnya materealisme, pergaulan bebas individualisme, konsumerisme dan hedonisme.

Di sinilah  sebenarnya institusi pendidikan harus melakukan koreksi atas apa yang pernah dilakukan selama ini. Jika institusi pendidikan tidak mampu melakukan kritik atas dirinya sendiri, jangan berharap dunia pendidikan akan mampu  menumbuhkan generasi  yang mandiri, toleran dan mampu menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Pendidikan dengan pemahaman multikulturalisme kiranya dapat menjadi pilihan, hal ini mengingat bangsa kita adalah plural dan multicultural.

Dengan mengembangkan pendidikan yang multicultural diharapkan siswa memiliki wawasan  yang luas  berkaitan dengan agama, etnis, jenis kelamin, status social,, kelas, suku dan adat istiadat, yang diteruskan  mampu berdialog dengan realitas masyarakat yang mereka hadapi ketika terjun kembali kemasyarakat. (Zuli Qodir, 2002)

Pengembangan pendidikan yang menjunjung tinggi multikulturalisme dan menghargai kemanusiaan di atas tidaklah harus dibiarkan  berhenti pada tingkat teori atau wacana. Semua itu perlu disusun agenda aksi yang nyata pada tingkat pemberian materi atau aksentuasi materi yang akan disampaikan. Dan tulisan yang Anda baca ini ingin berusaha menawarkan aksentuasi ranah dalam pendidikan, agar tercipta pemahaman siswa terhadap multikulturalisme.

Dengan mengembangkan pendidikan multicultural diharapkan, institusi pendidikan juga akan mendorong terpenuhinya sumber daya manusia yang cerdas secara intelektual, emosional, spiritual, yang mampu menghargai segala perbedaan dengan cara arif dan bijaksana.

Berdasarkan pemaparan di atas, kondisi keragaman di Indonesia sangat komplek dan tidak sederhana, Madjid mengatakan dalam bukunya yang berjudul “Islam Doktrin Dan Peradaban; Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan Dan Kemodernan” bahwa diperlukan sikap bersama yang sehat untuk diterapkan di masyarakat dalam merespon keragaman tersebut, yaitu menggunakan segi-segi kelebihan setiap individu masing-masing untuk secara maksimal saling mendorong terhadap terwujudnya kebaikan dalam masyarakat. Sedangkan Ali lebih menyederhanakan lagi sikap yang sehat itu dalam sebuah konsep yang disebutnya pengembangan sikap multikultural di masyarakat.

Dalam wacana multikulturalisme tidak hanya membutuhkan pengakuan keanekaragaman, tetapi juga kesadaran budaya yang inklusif dan transformatif, hal itu dapat dilakukan dengan adanya dialektika-tranformatif terhadap budaya internal-komunitas yang tumbuh dan berkembang dengan keberadaan ‘budaya asing’ sebagai proses dari interaksi sosial kemasyarakatan. Fadjar menyatakan bahwa pendidikan memiliki peranan penting dalam dialektika-transformasi sosial budaya yang diharapkan untuk mengembangkan budaya sosial yang menghargai dan menghormati keragaman di dalam masyarakat. Spektrum komunitas budaya yang berbeda-beda akan menjadi tantangan bagi proses pendidikan untuk dikelola menjadi aset berharga. Pada prinsipnya proses pendidikan memberikan kesempatan yang sama bagi semua siswa dari berbagai latar belakang agama, etnis, jenis kelamin, budaya, kelas sosial dan ras serta warna kulit. Hal ini sejalan dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang termaktub dalam undang undang dan sistem pendidikan (SISDIKNAS) tahun 2003 pasal 4 ayat 1, yang berbunyi bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM), nilai agama, nilai kultur, dan kemajemukan bangsa.

Pendidikan yang seharusnya menjadi model bagi penanaman nilai-nilai demokratis dan berkeadilan serta menghargai keragaman budaya. Namun realita yang terjadi, pendidikan belum berperan secara maksimal dalam membentuk sikap dan rasa saling mengahargai terhadap keberagaman. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya konflik bernuansa SARA yang terjadi di Indonesia. Kondisi ini terjadi tidak lepas dari masih lemahnya kualitas manusia di Indonesia. Permasalahan lemahnya kualitas manusia terkait erat masih rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Untuk menyikapi hal tersebut, salah satu yang perlu dilakukan adalah revitalisasi pendidikan. Revitalisasi pendidikan ini termasuk dalam hal perubahan paradigma kepemimpinan pendidikan, terutama dalam pola hubungan atasan bawahan yang semula bersifat hierarkis-otokratis menuju ke arah kemitraan bersama berbasis multikultural. kepemimpinan pendidikan multikultural dapat menjadi sebuah model kepemimpinan yang mampu mengayomi masyarakat lintas budaya yang dipimpinnya.

  1.  Kondisi Pendidikan Saat ini

Sejak  awal budaya manusia, pendidikan pada hakikatnya merupakan proses sosialisasi dan enkulturasi yang menyebarkan nilai-nilai dan pengetahuan-pengetahuan yang terakumulasi di masyarakat. Dengan berkembangnya masyarakat, berkembang pula proses sosialisasi dan enkulturasinya dalam bentuknya yang diserap secara optimal.

Memasuki abad ke-20 kita mengenal sebuah istilah populer yang berkaitan dengan kecerdasan IQ, Intelligent Quotient. Dunia pendidikan terlihat lebih mengupayakan peningkatan potensi atau kecerdasan intelegensia (IQ) manusia ini. Selain itu selama ini  telah dianut suatu pandangan bahwa IQ merupakan fakta genetic yang tidak mungkin diubah oleh pengalaman hidup, dan bahwa takdir kita dalam kehidupan ditentukan oleh factor bawaan ini.

Sekarang ini hampir sulit menemukan ada istilah lain selain IQ yang demikian sangat mempengaruhi seseorang dalam memandang diri mereka sendiri dan orang lain. Adalah psikolog berkebangsaan Prancis, Alfred Binet, yang pada tahun 1905 menyusun suatu test kecerdasan terstandardisasi untuk pertama kalinya. Berbeda dengan bagaimana IQ diposisikan kini dalam cara masyarakat memandang dan mengklasifikasikan individu-individu, pada awalnya Binet justru merancang test kecerdasannya ini untuk mengidentifikasi pelajar-pelajar di sekolahnya saat itu yang membutuhkan bantuan khusus, dan bukannya untuk mencari anak-anak yang berbakat luar biasa seperti yang berlangsung di kemudian hari. Lebih jauh lagi, Binet berusaha untuk memastikan bahwa anak-anak yang memiliki persoalan-persoalan dalam perilaku ini tidak lantas dianggap secara terburu-buru hanya sebagai orang yang bodoh/tidak cerdas. (Suryabrata; 1984)

Test yang dikembangkan oleh Binet ini tak lama kemudian disusun kembali oleh Lewis Terman, seorang profesor dalam bidang psikologi dari Stanford University di US . Terman menggagaskan untuk memformulasikan suatu skor nilai yang disebutnya sebagai IQ–Intelligent Quotient–yang diperoleh dengan cara membagi ‘umur mental’ seseorang (yang didapat dari test kecerdasan Binet) dengan umurnya yang sebenarnya atau umur kronologisnya.( Terman & Merrill, 1960)

Sekarang metoda test IQ masih digunakan terutama-seperti yang pertama kali diharapkan oleh Binet-untuk keperluan membantu para pelajar yang memerlukan pelajaran tambahan dan perhatian ekstra. Namun sejarah membuktikan bahwa metoda ini bergerak lebih jauh lagi dalam mempengaruhi aspek-aspek pemikiran masyarakat modern dalam cara mereka memandang aspek-aspek potensi individu.

Barangkali tidak ada yang salah dengan metoda penentuan IQ ini, namun peradaban modern barat ketika itu (dan hingga kini) tidak memiliki konsepsi yang utuh dalam memandang diri manusia. Wajar jika saat itu IQ yang merefleksikan kemampuan seseorang dalam menghadapi situasi-situasi praktis dalam hidupnya (aspek kecerdasan sebagai problem-solving capacity), dianggap sebagai satu-satunya atribut kemanusiaan yang paling berharga. Pandangan ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teori kecerdasan abad ke-19–paduan antara sains dan sosiologi–yang dipelopori oleh sepupu Charles Darwin, Francis Galton, pada akhir abad ke-19 secara terpisah dari apa yang dikerjakan Binet saat itu. Galton juga meyakini bahwa jika orang-orang yang memiliki banyak atribut kecerdasan ini dapat diidentifikasi dan diletakkan dalam jabatan-jabatan kepemimpinan yang strategis, maka seluruh lapisan masyarakat akan memperoleh manfaatnya. Ketika itu juga berkembang paham eugenics–populer di Eropa dan US sebelum akhirnya Hitler menyadarkan mereka betapa mengerikannya gagasan itu–yang meyakini bahwa kecerdasan pada umumnya diwariskan lewat garis keturunan dan oleh karena itu orang-orang yang kurang cerdas harus didorong agar tidak melakukan reproduksi. Gerakan ini juga menggunakan IQ sebagai metoda justifikasinya.

Dalam risetnya di Stanford, Terman memberikan usulan–yang kemudian diterima secara luas di US saat itu–bahwa test IQ selayaknya digunakan untuk melakukan seleksi populasi sehingga para pemuda dapat ditempatkan berdasarkan nilai IQ-nya di dalam sistem akademik dengan derajat-derajat kelas tertentu, yang pada akhirnya akan mengarahkan mereka pada posisi dan status sosial-ekonomi yang setaraf pula di masa depannya. Andaikan kita sedemikian pandainya dengan nilai test IQ tertinggi 1% dari seluruh warga US, maka pemerintah US akan sangat pandai juga dan dermawan dalam hal mencarikan dan menawarkan kita akses menuju jenjang pendidikan kelas satu di sana, dan akhirnya pula menuju kesempatan-kesempatan kerja dan posisi-posisi sosial yang bertaraf tinggi. Orang-orang dengan IQ tinggi di sana tidak selalu memimpin jabatan penting dalam pemerintahan; namun dapat dipastikan mereka memiliki akses atas posisi-posisi istimewa dan hak-hak khusus lainnya. Dalam istilah kontemporer, suatu negara yang mengorganisasikan dirinya berdasarkan nilai test IQ seperti di US disebut meritokrasi (merit: jasa/guna). .( Terman & Merrill, 1960)

Meritokrasi–yang jika diterjemahkan dalam prasangka baik–pada dasarnya bertujuan untuk mengaktualisasikan dan mengoptimalkan potensi-potensi setiap warga negaranya demi kepentingan bersama, karena satu dan lain hal, menyebabkan terbentuknya kelas-kelas status sosial serta memperlebar jurang antar kelas. Ironis sekali bahwa gagasan yang pada dasarnya cukup baik ini, terpaksa harus membatasi kesempatan banyak orang hanya karena potensi-potensi mereka tidak terukur oleh metoda test kecerdasan konvensional–test IQ. Hal ini melahirkan gelombang gerakan protes dan kritik dari berbagai kalangan, yang sebenarnya telah bermula sejak gagasan IQ diterima kalangan luas. Gerakan anti-IQ yang paling signifikan terjadi di Inggris sekitar tahun 1960-an. Ketika itu, mengadopsi sistem seleksi berbasis IQ yang sangat ketat bagi anak-anak berumur belasan tahun yang masuk ke sekolah-sekolah negeri. Gerakan ini secara umum tidak ditujukan pada metoda itu sendiri, namun pada penerapannya yang kurang bijaksana. Jadi secara konseptual, masyarakat luas tetap menyadari arti penting aspek kecerdasan ini sebagai satu-satunya aspek yang dominan dalam mengkarakterisasi diri manusia. Kritik terhadap IQ sendiri tidak menjadi pendorong yang utama untuk gerakan anti-IQ yang justru semakin meluas memasuki dekade berikutnya. Bahkan pada tahun 1971 US Supreme Court telah memutuskan untuk menghapuskan penggunaan metoda test IQ untuk masalah-masalah perekrutan dan kepegawaian, kecuali dalam kasus-kasus tertentu.

Yang perlu ditekankan di sini bukanlah pada betapa test IQ itu ternyata kurang efektif dalam menyeleksi orang berdasarkan aspek kecerdasannya saja, namun pada betapa konsep kecerdasan ini telah membentuk konsepsi diri manusia yang parsial dan reduksionistik–sebagai akibat dari ketiadaan konsep diri manusia seutuhnya dalam tradisi filosofis dan budaya barat yang berlaku saat itu hingga kini. Barangkali akan lain halnya, jika konsep dan metoda test kecerdasan IQ ini muncul dalam tradisi filosofis yang memandang potensi-potensi diri manusia secara utuh. Besar kemungkinannya gagasan IQ ini akan melengkapi konsepsi integral yang ada ke dalam sebuah kerangka kerja yang koheren dengan sebuah metoda praktis yang akan bermanfaat dalam memahami dan menyelidiki fenomena kesadaran manusia lebih jauh lagi.

Selain itu berkaitan dengan IQ, Heller dkk (1993) melaporkan suatu penelitian  yang menunjukkan bahwa anak-anak yang mempunyai kecerdasan yang amat tinggi (dites pada masa kanak-kanak) ternyata di masa tuanya belum tentu mempunyai kehidupan yang enak dan menyenangkan.

Setinggi-tingginya IQ hanya akan menyumbangkan kira-kira 20% bagi factor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, maka yang 80% diisi oleh kekuatan-kekuatan lain. (Arif Rahman  dalam cecep Ramli; 2002)

Demikian ini, IQ telah menjadi sebuah “patok absolut” dalam melihat tingkat progresivitas kedirian manusia. Manusia dituntut mengasah ketajaman intelektualnya demi kemampuan mengoperasikan mekanisme alam yang menurut Jurgen Habermas, menghunjamnya hegemoni ratio instrumentalis. Produk dari instrumentalisasi intelek ini adalah terbangunnya manusia-manusia mekanis yang kering dari nuansa kebasahan ruang diri, atau dalam istilah Herbert Marcuse, one dimensional men. (Said Aqil Siraj, 2003)

Dengan aksentuasi pendidikan pada ranah kecerdasan intelegesi menghasilkan siswa,  manusia-manusia mekanis yang kering dari nuansa kebasahan ruang diri, toleransi, mandiri, manusiawi, empati, menghargai setiap perbedaan yang pada akhirnya siswa banyak melakukan tawuran, dan konflik antar siswa. 

  1.  Era Multikultur, Era Esoteris

John Naisbitt dan Aburdene dalam bukunya Megatrend 2000, memprediksikan tentang menguatnya peranan agama di abad ke-21 ini. Dan prediksi kedua pemikir ini, nampaknya  mengarah ke sana, sehingga sesungguhnya kita akan dihadapkan pada format keberagaman sebagai bagian penting  kebangkitan agama  pada masyarakat yang multicultural dan multireligius. Secara sederhana  format agama dibagi dua model dalam menghadapi agama, pertama, agama akan bersifat eksklusif di mana agama menjadi “identitas sosial” karena keberakaran yang fundamental, yang bahkan dalam bentuk yang praktis mampu menjadi ikatan politis. Kedua, agama bersifat inklusif, di mana agama akan hanya menjadi fundamen value, moral dan spiritual.

Pertama, agama akan menjadi lahan yang rawan  bagi munculnya konflik-konflik sosial akibat pluralitas agama, politis, yang terkadang  dipicu arogansi sebagai “yang adidaya”, tanpa ada duanya di dunia, dan lebih diperparah lagi bila hal tersebut  terlegitimasi agama secara teologis. Sedangkan yang terakhir, agama akan memberikan  pengaruh kepada peranan agama secara moral dan spiritual dalam menjalani kehidupan, artinya agama sebagai motivator yang direfleksikan  oleh individu untuk membangun dirinya dan alam demi kemanusiaan yang adil dan beradab.   Untuk itulah, menjadi sangat menarik dicermati, manakala kebangkitan agama  akan menciptakan rasa khawatir dan optimis.

Khawatir dikarenakan muncul dalam suasana multicultural dan multireligius, yang akan menjadi “mainstream” pencarian ikatan primordial  seperti agama, spiritual, ras, suku, budaya dan lainnya, yang menurut Naisbitt, untuk memecahkan suasana keterasingannya (salitude) dalam dunia global ini; yang bahkan akan mengalami  kebangkitan teologis yang eksklusif sebagai: “pengkudusan”, yang mengatur segala  kehidupan sosial dalam pandangan agama yang dipolitisi kepentingan sepihak, seperti ekonomi, sosial, dan budaya, yang dalam dataran ini ajaran-ajaran agama dimiliki secara simbolik, sekalipun terdapat nuansa spiritual, namun terbingkai secara khusus yang berdampak pada sekte-sekte keagamaan, di mana akhirnya akan menjadi gejala-gejala sosial  yang krusial, rawan dan ekstrim, dengan meminjam istilah Samuel P. Hutingthon, akan terjadi “clash of religion”, yang bercorak kamikaze dan fasis. (Ghufron, 2002) Demikian itu,  rasa optimis bila agama dijadikan dasar moral, spiritual dan ketika itulah diharapkan  akan menciptakan lingkungan  kondusif bagi terwujudnya format keberagamaan yang inklusif, yang mengutamakan value universal.  Dunia pendidikan adalah salah satu tumpuan  yang diharapkan dapat menetralisir eksklusivitas agama pada inklusivitas agama.

Fenomena kembalinya spiritualitas ini sebenarnya juga diramalkan sejak awal abad 20. Kita kenal William James, ia sebenarnya adalah seorang filosof penganjur empirisme (radikal) dan pragmatisme yang menyatakan bahwa manusia modern akan menjadi lebih religius meskipun tampak bahwa kecenderungan materialistik (di masa ia mengungkapkan pemikirannya) makin dominan.

Kata James, manusia bersifat sosial, tapi ia tak akan pernah merasa hidupnya bermakna sebelum bisa berkawan dengan The Great Socius (Teman yang Agung), yakni Tuhan. Kenyataannya, sejak tahun 60-an kecenderungan kembali kepada spiritualisme ini mulai menonjol di AS dan Eropa, dua negara dengan tingkat kemakmuran (material) tertinggi. Di tahun 70-an saja Toffler mencatat lahirnya ribuan paguyuban keagamaan di AS, termasuk kultus-kultus. Dan tampaknya, seperti juga ditegaskan oleh survey berbagai media massa, termasuk Time dan Newsweek dalam beberapa edisinya pada 1-2 dekade belakangan ini, kecenderungan ini terasa makin kuat saja. (Haidar Baqir;  2003)

Multikulturalisme berkembang sebagai sekolah yang menaruh pentingnya keragaman sumber-sumber serta kantung-kantung budaya yang menjadi oasis penghayatan hidup dan acuan makna penganutnya, justru dalam penghayatan jagat-jagat nilai kelompoknya. Tuntutan multikulturalisme ini mekar bersama memadatnya kesadaran terhadap keterbatasan tradisi-tradisi besar yang setelah krisis monopoli tafsir kebenaran tunggal ternyata ambruk dalam rasionalisme demokrasi, serta krisis-krisis dehumanisme dan kukuhnya teknologis-instrumental yang membuat hidup menjadi sempit satu dimensi.

Maka pendidikan pun perlu diarahkan untuk melakukan perombakan substansial menuju penyadaran hakiki dengan bertumpu pemaknaan hidup secara lebih human dan berketuhanan, dengan citra cerdas secara emosional dan spiritual. Selain itu, perubahan juga sepatutnya dibidikkan pada “wilayah esoteris” yang merupakan kesadaran hakiki yang berwatak multi dimensional.

Kesadaran esoteris senantiasa meneguhkan nilai-nilai keillahiahan yang menjadi sumber segala bentuk kesadaran. Padahal, kesadaran akan hadirnya kekuatan illahiah bisa menghadirkan kesadaran praksis yang amat signifikan bagi pengembangan kepribadian baik privat maupun sosial.

  1.  Pendidikan Multikultural Berbasis Tasawuf

Di atas kondisi multikulturalisme, sebenarnya tersimpuh pemikiran yang berlandasan pendaman-pendaman wisdom yang menggelontorkan pemikiran yang substansial, universal, dan integral melalui jalur yang emansipatoris, moralis, dan spiritual. Sebuah pengayaan proses pendidikan yang berlambar nilai-nilai adiluhung tasawuf dengan tujuan praksis sosial.

Dalam literatur Barat, sufi atau tasawuf sering disebut Mistisisme Islam. Ia adalah jalan bagi pengalaman pribadi tentang Cinta Illahi yang melaluinya Tuhan memberkati manusia dan ia mencakup pengalaman ektase yang dikenang dengan mistik. Para sarjana Eropa modern menganggap tasawuf sebagai salah suatu kategori yang terpisah dalam Islam, dan mereka menyebutnya dengan istilah sufisme. Istilah Inggris ini (sebagaimana juga padanannya dalam bahasa Prancis dan Jerman), dengan menggunakan akhir kata “isme” memberi kesan bahwa sufisme merupakan mazhab pemikiran atau ideologi yang dipandang oleh banyak cendikiawan sebagai sebuah unsur yang ditambahkan ke dalam Islam yang bersifat legalitistik dan keras. (Annemarie Scimmel, 2002)

Sedangkan kaum Orientalis percaya bahwa sesungguhnya ungkapan mistis apa pun dalam kebudayaan Islam sebenarnya diambil dari sumber luar, umumnya adalah Kristen, Yoga, dan Budha. Oleh karena itu, sufisme menjadi istilah yang sering dipandang dengan citra positif oleh para Orientalis karena mereka memahami bahwa sufisme bertentangan dengan Islam.

Tasawuf merupakan konsepsi pengetahuan yang menekankan spiritulitas sebagai metode bagi pencapaian kebahagian dan kesempurnaan dalam hidup manusia. Syahdan, karena berhubungan dengan dimensi spiritual, tasawuf lebih mengupas segi-segi kehidupan manusia yang bersifat esoteris dan batiniah, yang menyangkut persepsi hati dan pikiran atas realitas ketuhanan yang suci dan absolut.

Tasawuf sebenarnya bukan penyikapan pasif atau apatis terhadap kenyataan sosial. Seperti diteguhkan Dr Abu ‘Ala al-Afifi, tasawuf berperan besar dalam mewujudkan sebuah “revolusi spiritual” di masyarakat. Bukankah aspek moral-spiritual ini sebagai ethical basic bagi formulasi sosial dalam hal ini juga dunia pendidikan? Kaum sufi adalah elite di masyarakatnya dan sering memimpin gerakan penyadaran akan adanya penindasan dan penyimpangan sosial. (Said Aqil Siraj, 2003)

Tasawuf merupakan metodologi yang membimbing manusia ke dalam harmoni dan keseimbangan total. Interaksi kaum sufi dalam semua kondisi adalah dalam harmoni dan kesatuan dengan totalitas alam, sehingga perilakunya tampak sebagai manifestasi cinta dan kepuasan dalam segala hal. Bertasawuf berarti pendidikan bagi kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ).

Adalah Goleman (1995) mempopulerkan pendapat para pakar teori kecerdasan bahwa ada aspek lain dalam diri manusia yang berinteraksi secara aktif dengan aspek kecerdasan IQ dalam menentukan efektivitas penggunaan kecerdasan yang konvensional tersebut. Ia menyebutnya dengan istilah kecerdasan emosional dan mengkaitkannya dengan kemampuan untuk mengelola perasaan, yakni kemampuan untuk mempersepsi situasi, bertindak sesuai dengan persepsi tersebut, kemampuan untuk berempati, dll. Jika kita tidak mampu mengelola aspek rasa kita dengan baik, maka kita tidak akan mampu untuk menggunakan aspek kecerdasan konvensional kita (IQ) secara efektif, demikian menurut Goleman. Sementara itu Zohar dan Marshall (2001) mengikutsertakan aspek konteks nilai sebagai suatu bagian dari proses berpikir/berkecerdasan dalam hidup yang bermakna, untuk ini mereka mempergunakan istilah kecerdasan spiritual (SQ). Indikasi-indikasi kecerdasan spiritual ini dalam pandangan mereka meliputi kemampuan untuk menghayati nilai dan makna-makna, memiliki kesadaran diri, fleksibel dan adaptif, cenderung untuk memandang sesuatu secara holistik, serta berkecenderungan untuk mencari jawaban-jawaban fundamental atas situasi-situasi hidupnya, dll.

Menurut Rahmat (dalam cecep Ramli; 2002) Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Menurutnya dengan mengutip pendapat Roberts A. Emmons, dalam The Psychology of Ultimate Concerns ada lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual: (1) kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material; (2) kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak; (3) kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari; (4) kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah; dan kemampuan untuk berbuat baik, dan; (5),  memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama makhluk Tuhan. “The fifth and final component of spiritual intelligence refers to the capacity to engage in virtuous behavior: to show forgiveness, to express gratitude, to be humble, to display compassion and wisdom,” tulis Emmons. Memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terimakasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang dan kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristik  terakhir ini mungkin disimpulkan dalam sabda nabi Muhammad saw, “Amal paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesama manusia.”

Bertasawuf berarti pendidikan bagi kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ), yang sebenarnya adalah belajar untuk tetap mengikuti tuntutan agama, saat berhadapan dengan musibah, keberuntungan, perlawanan orang lain, tantangan hidup, kekayaan, kemiskinan, pengendalian diri, dan pengembangan potensi diri. Bukankah lahirnya sufi-sufi besar seperti Rabi’ah Adawiah, Al-Ghazali, Sari al-Saqothi atau Asad al-Muhasabi telah memberi teladan, pendidikan yang baik, yakni berproses menuju perbaikan dan pengembangan diri dan pribadi.

Disadari, pendidikan yang dikembangkan masih terlalu menekankan arti penting akademik, kecerdasan otak, dan jarang sekali pendidikan tentang kecerdasan emosi dan spiritual yang mengajarkan integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental, keadilan, kebijaksanaan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri atau sinergi. Akibatnya, berkecambahnya krisis dan degradasi dalam ranah moral, sumber daya manusia dan penyempitan cakrawala berpikir yang berakibat munculnya militansi sempit atau penolakan terhadap pluralitas.

Dalam Tasawuf, antara IQ (dzaka al-dzihni), EQ (tashfiatul qolbi) dan SQ (tazkiah al-nafsi) dikembangkan secara harmonis, sehingga menghasilkan daya guna luar biasa baik horizontal maupun vertikal.

Sufi besar, Ibnu ‘Arobi melihat, manusia perlu memekarkan apa yang disebut sebagai “daya-daya khoyyal” yakni suatu potensi daya dan kekuatan substansial yang mengejawantah secara hakiki, tetapi faktawi dan bergerak menuju pengungkapan diri dalam dunia indrawi yang merupakan bentuk abadi dan azali.

Demikianlah, manusia perlu dikembalikan pada “pusat ksistensi” atau “pusat spiritual” dan dijauhkan dari “hidup di pinggir lingkar eksistensi”. Di tengah kondisi multikulturalisme, yang patut dipertahankan dan dikembangkan adalah penguatan pendidikan yang berbasis kecerdasan emosi dan spiritual yang merupakan inti tasawuf yang justru akan meneguhkan otentisitas kemanusiaan yang senantiasa dicitrai oleh ketuhanan. Wallahu a’lam Bissoab.

 

Penulis adalah

Sekretaris Jurusan Tarbiyah

STAI Al Muhammad Cepu

 

 

 

 

Bibliografi:

Annemarie Scimmel, (2002) Dimensi Mistik Dalam Islam, Jakarta; Pustaka Firdaus.

Cecep Ramli Bihar Anwar (Ed), (2002), Menyinari Relung-Relung Ruhani; Mengembangkan EQ dan SQ cara Sufi, IIman dan Hikmah, Jakarta.

Ghufron, MN. (2002) Mencari Format Pendidikan Agama yang Inklusif dalam Majalah Depag, Rindang Edisi Januari.

Goleman, D., (1995) Emotional Intellegence, Bantam, New York.

Haidar Baqir, (2003) Sejahtera Spiritual dan Finansial, dalam Republika, 12 Desember.

Heller, K., Monk, F., & Passaw, A., (1993). International Handbook of Research and Development of Giftedness and Talent, Pergamon, New York.

Naisbitt, J. dan Aburdene, P. (1990), Megatrend 2000 sepuluh Arah baru untuk tahun 1990-an (terj. Sudiyanto), Bina Pustaka Aksara; Jakarta.

Said Aqil Siraj, (2002), Pendidikan Sufistik di era Multikultur dalam Republika, 21 Juni.

Sobari, I., Amrizal, R., Yapsir GW., Ratna, W., Supra, W., Purba, H., Saifuddin, A., dan Amitya, K., (2000), Bunga Rampai Psikologi Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Sumartana, Th. (Ed). (2001). Pluralisme, Konflik, dan Pendidikan Agama di Indonesia, Pustaka Pelajar; Jogjakarta.

Suryabrata, S., (1984) Pembimbing ke Psikodiagnostik, Edisi II, Rake Sarasin, Yogyakarta.

Terman, L.M., & Merrill, MA., (1960), Stanford Binet Intellegence Scale Manual for the Third Revision, Houghton Miflin Company, Boston.

Zohar, Danah dan Marshall, Ian (2001), SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan ( (SQ: Spiritual Intellegence – The Ultimate Intellegence) Terj. Rahmani Astuti, Ahmad Najib Burhani, dan Ahmad Baiquni, Bandung: Mizan.

Zuli Qodir (2002), Pendidikan Berbasis Multikultural, dalam Suara pembaharuan, 5 Juli.

Komentari berita ini, atau sebarkan melalui : 
Facebook
 Agenda
Sabtu
10
Maret
Bakti sosial PIKMa
Bakti sosial PIKMa

Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIKMa) STAI Al Muhammad salah satu UKM-BEM Cepu menggandeng Komunitas Masyarakat Cepu (KMC) dan PMI Kabupaten Blora, menyelenggarakan even Donor Darah, pentas seni, dan bazar lintas perbatasan.

Acara ini digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kemanusiaan dan ajang unjuk kebolehan para siswa dan mahasiswa.

Sponsor: Dinas Dalduk KB-Pertamina EP-BNI 46 dan Simpatisan.


Agenda tersebut di atas akan digelar pada:
Hari/tanggal : Sabtu,  10  Maret  2018
Jam : 12.00 sampai selesai
Bertempat di : Pendopo Kecamatan Cepu,  Jalan RonggoLawe No 1 Cepu
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Sabtu
03
Maret
Seminar Proposal Skripsi
Seminar Proposal Skripsi

Seminar Proposal skripsi 2018

Seminar proposal bagi mahasiswa semester akhir TA 2017/2018 akan dilaksanakan mulai hari Sabtu tgl 3 Maret 2018.

Mahasiswa angkatan di bawahnya bisa mengikuti sebagai pesérta dengan terlebih dahulu mendaftar ke BAAK.


Agenda tersebut di atas akan digelar pada:
Hari/tanggal : Sabtu,  03  Maret  2018
Jam : 09.00
Bertempat di : Kampus I,  Jalan Blora No.151 Cepu Kota.
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Rabu
31
Januari
Akreditasi AIPT
Akreditasi AIPT

Cepu (22 Feb 2018)

Pasca penguatan akreditasi Prodi PAI dan Ahwal Al Syakhsiyah di penghujung Tahun 2017, untuk meningkatkan status telah diagendakan awal tahun 2018 mengajukan Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT).

Kesungguhan para dosen dan tenaga kependidikan nampak antusias mempersiapkan Borang AIPT yang menyangkut 7 Standar dan Evaluasi Diri. Ditargetkan akhir bulan ini bisa diupload setelah disempurnakan usai dievaluasi melalui pendampingan pada hari Minggu yll dengan menghadirkan DR. Sodiq dosen UIN Walisongo yang juga sebagai Asesor BAN PT. Jelas Drs. Mamik Slamet,  MM, MPd selaku Ketua Tim. (pk3)

 


Agenda tersebut di atas akan digelar pada:
Hari/tanggal : Rabu,  31  Januari  2018
Jam :
Bertempat di : KAMPUS I,  Jalan Blora 151 Cepu Kota
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook

 Pengumuman
Tugas Akhir/SKRIPSI TAHUN 2016
Ditujukan kepada :  Mahasiswa Semester Akhir 2015/2016

Isi Pengumuman
PROSES PENYELESAIAN TUGAS AKHIR/SKRIPSI SARJANA S1 TA 2015/2016. Tahapan penyelesaian Tugas Akhir / Skripsi telah sampai pada tahap SEMINAR PROPOSAL PENELITIAN. Seminar Proposal terselenggara mulai tanggal 5 sampai dengan 20 Maret 2016 diikuti sebanyak 155 mahasiswa yang terdiri dari tiga Prodi yaitu Prodi Pendidikan Agama Islam, Ahwal Al Syahsyiah, dan Perbankan Syariah. Selanjutnya diberikan waktu hingga 10 Mei 2016 untuk menyelesaikan perijinan, pengumpulan data dan penyusunan laporan penelitian. Dalam penyusunan Tugas Akhir/Skripsi setiap Mahasiswa difasilitasi 2 (dua) Dosen Pembimbing dan diwajibkan minimal harus bertatap muka 5 (lima) kali pada masing-masing Dosen Pembimbing. Berdasarkan hasil evaluasi Seminar Proposal secara umum Judul penelitian sudah sesuai dengan bidang keimuan yaitu Pendidikan Agama Islam, Perbankan Syariah, dan Ahwal al Syahsyiah. Hasil evaluasi Kepala Biro Skripsi Drs. Mamiek Slamet, MM, M.Pd. menekankan bahwa mahasiswa harus lebih banyak mendalami kajian teoritis sebagai landasasan dan penyusunan kerangka pikir penelitiannya. Hal ini sangat penting karena dengan memahami kerangka pikir akan memberikan arah peneliti untuk mengumpulkan data secara induktif maupun deduktif, mereduksi data, menganalisis, serta menarik kesimpulan dan rekomendasi. Tentunya secara konsisten simpulan peneitian merupakan jawaban atas permasalahan dan hipotesa yang diajukan. Lebih lanjut Biro Skripsi menjelaskan bahwa sesuai Agenda UJIAN KOMPREHENSIP akan diselenggarakan tanggal 21-25 Mei 2016. Diharapkan mahasiswa sudah mendaftarkan Komprehensip tgl 14-17 Mei 2016. Komprehensip sebagai salah satu prasyarat untuk bisa mengikuti UJIAN AKHIR/MUNAQOSAH SKRIPSI yang akan diselenggarakan tanggal 11-18 Juni 2016. Berkaitan dengan hal itu maka mahasiswa hendaknya lebih pro aktif berkomunikasi dengan sesama teman maupun BAAK agar tidak ketinggalan informasi.
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Kepala Biro Skripsi
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
KTM semester genap 2015/2016
Ditujukan kepada :  mahasiswa aktif tahun akademik 2015/2016

Isi Pengumuman
Pengambilan KTM semester 8 dilayani tanggal 23-30 Maret 2016 di staf admin rektorat
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
staf admin rektorat
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Training Racana-Mapala
Ditujukan kepada :  1. Pengurus Racana Maulana Malik Ibrahim dan Campa Putri. 2. UKM Mapala Gibaltar STAI AMC

Isi Pengumuman
Training anggota baru dan implementasi program kerja disleenggarakan awal bulan Mei dibersamakan kegiatan rekruitmen calon anggotan Mapala Gibaltar. Proposal sudah diterima Waka 3 tanggal 15 april 2016.
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Waka 3 Bidang Kemahasiswaan
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
PENGUMUMAN KEGIATAN PERKULIAHAN
Ditujukan kepada :  mahasiswa STAI AL MUHAMMAD CEPU

Isi Pengumuman
Assalamu’alaikum Wr.Wb Diumumkan kepada seluruh mahasiswa STAI Al Muhammad Cepu, bahwa sehubungan dengan pelaksanaan UN SMA/SMK/MA Tahun Pelajaran 2015/2016 yang dilaksanakan tanggal 4 s/d 7 April 2016, maka kegiatan perkuliahan daari 3 s/d 6 April 2016 ditiadakan. Demikian pengumuman ini atas perhatiannya diucapkan terima kasih. Wassalamua’alaikum Wr.Wb
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
admin
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Bantuan skripsi dan tesis.
Ditujukan kepada :  Mahasiswa semester akhir

Isi Pengumuman
Diberikan kesempatan bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir (skripsi/tesis) memperoleh stimulan bantuan dg syarat: a. Status mahasiswa aktif (bukti NIM). b. Copy KTP c. Proposal penelitian.*) d. Foto 4x6 e. No telp HP Masing2 dibuat rangkap 3 sebelum tgl 20 April 2016 *) tema kependudukan dan KB
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
admin waka3
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Pendaftaran Munaqosah 2017
Ditujukan kepada :  Mahasiswa semester akhir 2017/2017

Isi Pengumuman
Pendaftaran Usulan mengikuti Ujian Skripsi (Munaqosah) diberikan dispensi sampai dengan tanggal 5 AGUSTUS 2017. Persyaratan selengkapnya dapat menghubungi BAAK pada jam kerja. (mm-biro skripsi)
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Biro Skripsi
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
Pengambilan KTM Tahun Ajaran 2017/2018 Semester 3-5
Ditujukan kepada :  Di Infokan Kepada Mahasiswa Semester 3-7 semua Jurusan di STAI Al Muhammad Cepu

Isi Pengumuman
Assalammualaikum. Wr.wb Ditujukan untuk seluruh mahasiswa STAI AL MUHAMMAD CEPU semester 3 s/d 7 semua jurusan. KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) Semester Ganjil tahun ajaran 2017/2018 bisa di ambil di Siti Lutfiatul Ummah, SH. Pengambilan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) bisa di lakukan pada jam kerja, 13.30 s/d 17.00. Pengambilan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) bisa mulai di ambil hari ini 09 Oktober 2014 s/d 31 Oktober 2017. Jika dalam tenggang waktu tersebut KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) tidak di ambil. Maka jika ada KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) yang hilang, bukan tanggung jawab kami. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Wassalammualaikum. Wr.wb
Demikan pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian.


Tertanda,
Haji Kaswari, S.Pd.I
Sebarkan pengumuman ini ke yang lain melalui : 
Facebook
 Berita Lainnya
12 Maret 2018
27 Februari 2018
25 Februari 2018
21 Februari 2018
10 Februari 2018