Diniyah, Ilmiah, Ukhuwah, dan Amaliyah

Urgensi Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf Dalam Menggali Makna serta Solusi Memahami Teks Arab

Tanggal publikasi 29 September 2018

Abstraksi

Sebuah keniscayaan bagi setiap muslim untuk bisa menelaah dan memahami secara mendalam setiap kandungan ajaran agama yang terkodifikasi dalam teks-teks keislaman yang berbahasa Arab. Sebab pada dasarnya, ajaran Islam – baik yang terkandung dalam alquran maupun hadits – sepenuhnya terkemas indah dengan menggunakan bahasa Arab, maka mempelajari dan memahami bahasa Arab pun menjadi kunci utama untuk menuju ke sana, sebagaimana termaktub dalam QS.Yusuf: 2 yang artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”. Oleh karena itu, mempelajari dan memahami bahasa Arab dengan melalui penguasaan Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf  ialah sebagai sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Terungkap dalam suatu syair : “Supaya mereka (para pembelajar) dapat memahami akan kandungan makna-makna Al-Quran dan al-Hadits (yang terkadang dianggap) pelik dan sukar”. Maka, Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf menjadi prioritas  untuk di pelajari terlebih dahulu, sebab jika tidak maka suatu ungkapan/pernyataan (kalam) tidak akan bisa dipahami. Kedua ilmu tersebut telah memberikan sumbangan sangat besar terhadap Islam, khususnya dalam menyingkap makna-makna yang terkandung dalam rangkaian kata penuh makna yaitu Al-Qur’an, Hadist, dan teks-teks Arab lainnya. Meskipun keduanya belum cukup untuk memahami Al-Qur’an secara keseluruhan, tapi paling tidak memiliki posisi yang penting dalam menggali makna sumber nilai utama tersebut.

 

  1. Muqoddimah.

Sebagai ummat Islam kita dituntut untuk bisa mengkaji dan mempelajari Al qur’an dan Sunnah sebagai dua sumber utama ajaran Islam yang harus kita pegang teguh.Tentunya ,kita tidak mungkin memahami kedua sumber tersebut kecuali setelah mengetahui kaidah – kaidah bahasa arab,khususnya ilmu nahwu dan ilmu shorof .Karena keduanya merupakan kunci dalam mempelajari Al qur’an dan Sunnah.

Ilmu nahwu adalah ilmu tentang Qoidah-Qoidah yang diambil dari kalam Arab, untuk mengetahui hukum kalimat Arab yang tidak disusun dan keadaan kalimat ketika ditarkib. Sedangkan Ilmu shorof adalah mengubah asal bentuk kalimah (susunan lafadz yang mempunyai arti) yang satu kepada bentuk-bentuk yang berbeda-beda, untuk menghasilkan makna-makna yang diharapkan/ yang dituju/ yang dimaksud, yang tidak akan berhasil melainkan dengan cara itu.

Dalam mempelajari bahasa Arab,ummat Islam dihadapkan pada dua ilmu alat yang penting untuk dipelajari yakni ilmu nahwu dan shorof,karena pentingnya ilmu ini dalam mempelajari bahasa arab muncullah ungkapan :           الصرف أم العلوم والنحو ابوها   

“Ilmu shorof adalah induk segala ilmu dan ilmu nahwu bapaknya”.

 Ilmu shorof disebut induk segala ilmu sebab shorof itu dapat melahirkan bentuk setiap kalimat sedangkan kalimat itu menunjukkan bermacam – macam ilmu,kalau tidak ada kalimat tentu tidak ada tulisan, tanpa tulisan sukar mendapat ilmu.Adapun ilmu nahwu disebut juga dengan bapak ilmu,sebab ilmu nahwu untuk memperbaiki setiap kalimat dalam susunannya,i’robnya,bentuk dan sebagainya.

Selain daripada itu, Ilmu Nahwu juga mempunyai peran yang sangat penting dalam dunia islam. Yaitu membantu memecahkan permasalahan-permasalahan mengenai syari’at-syari’at islam dari segi kebahasaan. Karena semua syari’at islam yang ada, adalah berupa teks-teks yang termaktub dalam buku-buku bernuansakan ‘arabiyah seperti; Al-qur’an, Al-hadist, Bahkan sampai Ijma’ dan Qiyas. Sehingga orang yang akan memahami islam terlebih dahulu harus mengenal bahasa Arab beserta gramatikalnya(nahwu).

Untuk menindak lanjuti kajian ini,maka penulis akan mengkaji tentang pentingnya ilmu nahwu dan Shorof Sebagai Solusi Memahami Teks Arab bagi ummat islam,karena Ilmu nahwu sangat penting sekali di bandingkan dengan ilmu-ilmu agama lainnya yaitu Urgan/ penting sekali yang harus diketahui terlebih dahulu. Akan menemui jalan buntu orang yang melangkah menuju ilmu agama jika belum menguasai ilmu nahwu dan atau orang yang tidak mengetahui ilmu nahwu akan sangat berkurang dalam memahami Al-Qur'an dan Hadits sebagai sumber utama ajaran agama islam. .

  1.  Pengertian Ilmu Nahwu dan Shorof.
  2. Pengertian Ilmu Nahwu.

Menurut Ahmad al Hasyim, nahwu secara etimologi berarti maksud, arah dan ukuran. Adapun secara terminology nahwu adalah aturan (dasar hukum) yang digunakan untuk memberi baris (syakal) akhir kata sesuai dengan jabatannya masing-masing dalam kalimat agar terhindar dari kesalahan dan kekeliruan, baik bacaan maupun pemahaman.

Dalam Hasyiyah hudlori Lafadz النَحْوُ secara bahasa memiliki enam makna yaitu :

  1. Bermakna ألقَصْدُ(menyengaja)
  2. Bermakna الْجِهَةُ(arah). Contoh :   نَحَوْةُ نَحْوَالْبَىْتِ Saya menyengaja ke arah rumah.
  3. Bermakna اَلْمِثْلُ(seperti).  Contoh :  زَىْدٌ نَحْوُ عَمْرٍوZaid seperti umar.
  4. Bermakna اَلْمِقْدَارُ(kira-kira). Contoh :   عِنْدِى نَحْوُ الْفٍ Saya memiliki kira-kira seribu.
  5. Bermakna اَلْقِسْمُ(bagian).  Contoh :   هَذَا عَلَى خَمْسَةِ انْحَاءِ Perkara ini adalah lima bagian.
  6. Bermakna اَلْبَغْضُ(sebagian). Contoh :   اكَلْتُ نَحْوَ السَّمَكَةِ Saya telah memakan sebagian ikan.

Yang paling banyak dari enam makna di atas adalah makna yang pertama.

Adapun Nahwu menurut istilah diucapkan pada dua hal :

  1. Diucapkan untuk istilah fan ilmu nahwu yang mencakup ilmu nahwu shorof atau juga disebut   

ilmu bahasa arab, yang devinisinya adalah :

عِلْمٌ بِاُصُوْلِ مُسْتَمْبَطَةٍ مِن كَلاَمِ الْعَرَبِ يُعْرَفُ بِهَا اَحْكَامُ الْكَلِمَاتِ الْعَرَبِيَةِ حَالَ اِفْرَدِهَا وَحَالَ تَرْكِبِهَا

Ilmu tentang Qoidah-qoidah (pokok-pokok) yang diambil dari kalam arab, untuk mengetahui hukum (Hukumnya Kalimat) kalimat arab yangtidak disusun (sepwrti panggilan, idghom, membuang dan mengganti huruf) dan keadaan kalimat ketika ditarkib (seperti I’rob dan mabni). 

  1. b.  Istilah nahwu untuk fan ilmu yang menjadi perbandingan dari ilmu shorof, yang definisinya adalah :

عِلْمٌ بِاُصُوْلٍ مُسْتَنْطَةِ مِنْ قَوَاعِدِ الْعَرَبِ يُعْرَفُ بِهَا اَحْوَالُ آَوَاخِرِ الْكَلِمِ إعْرَابًا وَبِنَاءٌ

Ilmu tentang pokok-pokok yang diambil dari qoidah-qoidah arab, untuk mengetahui keadaan akhirnya kalimat dari segi I’rob dan mabni.

Dari dua  definisi diatas, yang dikehendaki adalah definisi yang pertama, karena nahwu tidak hanya menjelaskan keadaan akhirnya kalimah dari segi I’rob dan mabninya tetapi menjelaskan keadaan kalimat ketika tidak ditarkib, yang berupa I’lal, idhom, pembuangan dan pergantian huruf, dan lain-lain.

Nahwu merupakan salah satu dari dua belas cabang ilmu Lughot Al-arobiyyah menduduki posisi penting. Oleh karena itu, nahwu lebih layak untuk dipelajari mendahului pengkayaan kosakata dan ilmu-ilmu lughot yang lain. Sebab, nahwu merupakan instrument yang amat fital dalam memahami kalam Allah, kalam Rasul serta menjaga dari kesalahan terucap. 

Oleh karena itu, sebagai disiplin ilmu yang dianggap penting, nahwu bukan sekedar untuk pemanis kata, akan tetapi sebagai timbangan dan ukuran kalimat yang benar serta bias menghindar kan pemahaman yang salah atas suatu wicara.

Oleh karena itu,menurut kaidah hukum islam, mengerti akan ilmu Nahwu bagi mereka yang ingin memahami Al-Qur’an, hukumnya fardu ‘ain.

 

2.Pengertian Ilmu Sharaf.

Sharaf  adalah salah  satu  nama disiplin ilmu dalam Bahasa Arab yang khusus membahas tentang perubahan bentuk kata atau kalimat dalam bahasa Arab. Perubahan bentuk kata ini dalam  prakteknya disebut Tashrif. Oleh karena itu dinamakan Ilmu Sharaf (perubahan; berubah), karena Ilmu ini khusus mengenai pembahasan tashrif (pengubahan; mengubah). Dalam mempelajari Bahasa Arab, ilmu Sharaf merupakan salah satu syarat yang harus dikuasai oleh setiap pelajar, sebab menurut sebagian Ulama : ‘’ Assharfu ummul ‘uluumi wannahwuu abuuhaa ‘’. Artinya : “ ilmu sharaf adalah induk segala ilmu dan ilmu nahwu bapaknya”.

Ilmu sharaf disebut induk segala ilmu, sebab ilmu sharaf itu melahirkan bentuk setiap kalimat, sedangkan  kalimat itu menunjukkan bermacam- macam ilmu . kalau tidak ada kalimat atau lafadz, tentu  tidak aka nada tulisan. Tanpa tulisan sukar mendapatkan ilmu.

Adapun ilmu nahwu disebut bapak ilmu, sebab ilmu nahwu itu untuk membereskan setiap kalimat dalam susunan I’rabnya, bentuknya, dan sebagainya.

Menurut KH. Ahmad Warson Munawwir shorof sebagai cabang ilmu bahasa Arab mula-mula disusun dan dikembangkan oleh orang 'ajam (non Arab). Pengembangan ini dimaksudkan untuk memberi bekal bagi orang 'ajam bukan penutur asli (ghoiru nathiqin) agar dapat mempelajari dan kemudian mempelajari bahasa Arab. Bersama dengan nahwu dan ilmu-ilmu lainnya seperti Arudl, Balaghoh, dan ilmu-ilmu bahasa Arab lainnya, shorof terbukti mampu menjadi ilmu alat penguasa bahasa Arab, baik bagi orang-orang 'ajam , maupun bagi orang-orang Arab yang belum baik dalam bahasa Arab (a 'jam). Definisi Sharaf dalam Kailani 1 yaitu:

اِعْلَمْ، اَنَّ التَّصْرِيْفَ فِي اللُّغَةِ: التَّغْيِيْرُ، وَفِي الصَّنَاعَةِ: تَحْوِيْلُ اْلأَصْلِ الْوَاحِدِ إِلَى أَمْثِلَةٍ مُخْتَلِفَةٍ لِمَعَانٍ مَقْصُوْدَةٍ لاَ تَحْصُلُ اِلاَّ بِهَا.

‘’Perlu diketahui, bahwa tashrif menurut lughat ( etimologi ) berarti mengubah, sedangkan menurut istilah adalah mengubah bentuk asal kepada bentuk- bentuk lain untuk mencapai arti yang dikehendaki yang hanya bisa tercapai dengan adanya perubahan’’.      

Keterangan :

Tashrif memiliki dua arti, yaitu arti lughah ( bahasa ) dan arti menurut istilah Ulama ahli sharaf. Setiap mengubah sesuatu dari bentuk asalnya, seperi mengubah bentuk rumah atau pakaian dan sebagainya, itu adalah tashrif menurut lughah. Adapun tashrif menurut istilah, yaitu mengubah dari bentuk asal ( pokok pertama ) kepada bentuk yang lain. Menurut ulama Bashrah, arti asal itu ialah masdar. Sedankan menurut ulama Kuffah, arti asal itu ialah fi’il madhi.Yang dimaksud dengan tashrif menurut istilah ialah mengubah dari fi’il madhi kepada fi’il mudhari’, masdar, isim, fa’il, isim maf’ul, fi’il nahi, isim makan, isim zaman, dan isim alat.

Contoh:

Asal kalimat adalah Masdar: ضَرْبٌ dibaca: Dharbun, bermakna:Pukulan.

Dirubah ke sampel Fi’il Madhi menjadi: ضَرَب  dibaca: Dharaba, bermakna: Telah memukul.

Dirubah ke sampel Fi’il Mudhari’ menjadi: يَضْرِبُ  dibaca: Yadhribubermakna: Akan memukul.

Dirubah ke sampel Fi’il Amar menjadi:  اِضْرِبْ dibaca: Idhrib bermakna: Pukullah! dsb.

Contoh tersebut di atas dikatakan Tashrif, yaitu pengubahan asal bentuk yang satu kepada sampel-sampel bentuk yang lain untuk menghasilkan makna yang dimaksud.

Perlu diketahui bahwa bentuk perubahan kata dalam bahasa arab itu ada 35 bab. Setiap bab memiliki bentuk perubahan yang spesifik (khas). Dan dari 35 bab itu terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan jumlah huruf yang menyusun kata dasarnya. Jenis yang ada di hadapan pembaca ini disebut denganAts Tsulatsy Al Mujarrad (tersusun dari tiga kata saja) yang terdiri dari 6 bab.

Dalam ilmu sharaf, para ulama telah membagi tashrif kedalam dua bagian , yaitu tashrif lughowi dan tashrif istilahi.

Tashrif lughowi adalah sebuah bentuk tasrif fi’il tertentu dengan cara mengisnadkannya kepada dlamir baik mutakallaim, mukhatab atau ghaib. Dalam tasrif ini tidak terjadi perubahan sighat sebagaimana yang terjadi dalam tasrif istilahi.

Tasrif lughowi biasanya ditulis memanjang dari atas ke bawah dimulai dari penggabungan dlamir mufrad mudzakkar ghaib ( هو ) pada fi’il yang sedang ditasrif dan diakhiri dengan penggabungan dlamir mutakallim ma’a al-ghairi (نحن).

Secara umum tidak terdapat perbedaan karakter antara fi’il mujarrad dengan fi’il mazid dalam tasrif lughowi, sehingga pengajaran dan pembelajaran tasrif lughowi tidak berangkat dari konsep mujarrad dan mazid, sebagaimana yang terjadi dalam pengajaran dan pembelajaran tasrif istilahi. Pintu masuk pengajaran dan pembelajaran tasrif lughowi harus melalui konsep bina’ yang realitasnya antara bina’ yang satu dengan bina’ yang lain terjadi perbedaan hukum ketika diisnadkan kepada dlamir-dlamir tertentu. Perbedaan hukum inilah yang harus diperhatikan  dalam pengajaran dan pembelajaran tasrif lughowi .

Tasrif istilahi adalah perubahan bentuk kalimat dari al-ashlu al-wahid menjadi al-amtsilah al-muhktalifah karena tujuan arti yang dikehendaki. Bentuk penulisan tashrif ini menyamping, dimulai dari penulisan bentuk madli dan diakhiri dengan penulisan bentuk isim alat. Dari tashrif inilah kita akan mengenal berbagai sighat yang tedapat di dalam bahasa arab.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengajaran dan pembelajaran tashrif istilahi untuk memberikan kemudahan kepada kita, diantaranya adalah stressing hafalan, konsep tentang wazan dan latihan.

Kemampun mentasrif fi’il baik secara istilahi maupun lughawi harus dianggap sebagai tujuan pembelajaran ilmu sharaf yang harus mendapatkan prioritas, karena dengan kemampuan ini seorang peserta didik akan mampu mengembalikan al-amtsilah al-mukhtalifah kepada al-ashlu al-wahidnya, atau sebaliknya; akan mampu membuka kamus dan akan mampu memahami dengan baik karakter masing-masing bina’ yang antara yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan yang cukup mendasar.

  1. Tujuan dan fungsi Nahwu dan Shorof.
  2. Sejarah singkat munculnya Ilmu Nahwu.

Ketika islam tersebar ke hampir dua pertiga dunia, ummat islam mulai berhubungan dan berkomonikasi dengan bangsa lain. Hal ini ternyata memperparah terhadap perkembangan bahasa arab sebagai bahasa ummat islam saat itu. Bahasa arab yang seharusnya dijaga kefasihannya, akibat bercampurnya budaya arab dengan bangsa lain menyebabkan bahasa arab digunakan tidak sebagaimana mestinya yakni telah terjadi apa yang disebut dengan lahn (kesalahan membaca). Lahn bermula dari kesalahan membaca (I’rob ) kalimat-kalimat arab antara para tuan dan orang-orang arab pendatang pada masa Nabi SAW, berlanjut sampai pada masa Khulafa’u al rasyidin dan bani Umaiyah. Perkataan seorang ahli bahasa, Abu Thoyib (meninggal pada tahun 351 H ), sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Abd Karim Muhammad, telah berkata: ketahuilah bahwa yang menyebabkan adanya keharusan mempelajari I’rab adalah karena adanya kesalahan-kesalahan didalam berbicara menggunakan bahasa arab, dan ini berlangsung antara para tuan dan orang-orang arab pendatang sejak pada masa Nabi SAW. Fenomena lahn tersebut telah mengundang keprihatinan pemerhati bahasa arab, mereka diantaranya adalah Abu al Aswad al Maududi (orang yang disebut-sebut pencipta ilmu nahwu untuk pertama kali ). Beliau menciptakan lambang-lambang untuk menandai harakat, baik fathah, kasrah dan dhommah dengan menggunakan “titik” , yang selanjutnya kaidah-kaidah nahwu disempurnakan oleh para muridnya dan oleh para pemerhati bahasa arab lainnya.

  1. Tujuan pembelajaran Nahwu dan Shorof.

Nahwu dan Shorof adalah bagian yang tak terpisahkan dari bahasa arab, karena keberadaannya memiliki sumbangan yang signifikan dalam penggunaan bahasa arab yang baik dan benar. Diantara tujuan pembelajaran ilmu tersebut  adalah :

  1. Membekali seseorang dengan qa'idah-qa'idah kebahasaan yang memungkinkannya dapat menjaga bahasanya dari kesalahan.
  2. Menumbuhkembangkan pendidikan intelektual dan membawa mereka berfikir logis dan dapat membedakan antara struktur, ungkapan, kata dan kalimat, serta membiasakan seseorang cermat dalam pengamatan, perbandingan, analogi dan penyimpulan dan mengembangkan rasa bahasa dan sastra, karena kajian nahwudidasarkan atas analisis kata, ungkapan, uslub, dan pembedaan anatara kalimat yang salah dan benar.
  3. Melatih seseorang  agar mampu menirukan dan mencontoh kalimat, gaya bahasa, ungkapan dan performa kebahasaan secara benar, serta mampu menilai performa yang salah menurut qa'idah yang baik dan benar.
  4. Mengembangkan kemampuan seseorang dalam memahami apa yang didengar ( isi pembicaraan ), dan yang tertulis (isi bacaan ).
  5. Membantu seseorang agar benar dalam membaca, berbicara dan menulis atau menggunakan bahasa arab lisan dan tulisan secara baik dan benar.

Dari uraian diatas dapat kita ketahui bahwa tujuan pembelajaran qawa’id adalah membiasakan seseorang untuk menggunakan bahasa arab lisan maupun tulisan secara baik dan benar sesuai dengan qa’idah-qa’idah yang ada sehingga terhindar dari kesalahan-kesalahan, khususnya dari sisi maksud makna dan isi sebuah kalimat, yang pada akhirnya seseorang itu mampu secara cermat menyusun ungkapan dan kalimat bahasa Arab untuk kepentingan komonikasi aktif, yaitu mampu mengungkapkan isi hatinya dengan bahasa yang sederhana, berbobot dan tepat, serta mampu menangkap / memaknai suatu kalimat tanpa menambah apalagi mengurangi dari isi dan maksud suatau kalimat. Inilah hakikat latarbelakang munculnya gramatika-gramatika bahasa arab, sebagaimana nasehat yang telah sampaikan oleh Jirji Zaidan, yaitu: Seseorang yang ingin mempelajari bahasa Arab, maka ia harus mempelajari ilmu nahwu, agar mudah mencapai maksudnya.  Adalah Tamman Hasan melihat munculnya lahn bukan semata-mata yang mendorong disusunnya ilmu nahwu, melainkan itu hanya bagian dari tiga faktor lainnya, yaitu faktor agama, faktor nasionalisme dan faktor politik.

Terdapat kata kunci yang harus kita garis bawahi dan memang menjadi kajian pokok dari tulisan ini, yaitu qa'idah nahwu dibuat supaya tidak terjadi lahn, yakni tidak terjadi kesalahan – terjadi reduksi ataupun penambahan- dari para pendengar maupun pembaca didalam menangkap tujuan dan maksud sebuah kalimat.

Nahwu dan shorof sebagai bagian dari gramatika bahasa arab disusun agar pemakai bahasa arab tidak salah dalam berbicara dan menulis dalam bahasa arab, karena itu terdapat prinsip-prinsip yang harus dijadikan pijakan didalam pembelajaran qowa’id , prinsip-prinsip itu adalah : 1). Nahwu shorof bukan tujuan (ghoyah) melainkan perantara atau media (wasilah), 2). Pembelajaran nahwu shorof harus aplikatif dan fungsional, dan memfasilitasi pengembangan empat ketrampilan, yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis secara baik dan benar, 3).Pembelajaran nahwu shorof harus kontekstual, dalam arti memperhatikan dengan konteks kalimat yang digunakan, bukan semata-mata menekankan I’rob dan tasrif,  4). Membelajarkan makna kalimat harus lebih didahulukan daripada fungsi I’rob, 5). Pembelajaran nahwu shorof harus berlangsung secara gradual, bertahap dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang konkrit menuju yang abstrak, dari yang ada persamaannya dalam bahasa ibu anak, menuju yang tidak ada persamannya, 6).Menghafal istilah dan qa'idah nahwu bukanlah prioritas utama, melainkan hanya sarana memahamkan seseorang akan kedudukan kata dalam kalimat, 7). Tidak dianjurkan untuk mengembangkan I’rob yang panjang dan tidak fungsional, seseorang cukup mengetahui mubtada’, marfu’, fa’il marfu’, tidak perlu diikuti dengan penjelasan tanda rafa’nya itu dhommah dhohiroh fi akhirihi, dan sebagainya, dan 8). Tidak dianjurkan pula dalam pembelajaran nahwu shorof dikembangkan teori ‘amil, ta’lil, I’rob taqdiri, yang bagi seseorang mungkin sangat abstrak, tidak praktis dan tidak bermanfaat. 

  1. Fungsi dan peran Nahwu dan Shorof ( kaidah-kaidah Bahasa Arab).

Yang dimaksud “fungsi dan peran Nahwu dan Shorof ( kaidah bahasa Arab)” dalam makalah ini adalah memposisikan bahasa Arab sebagaimana hakikat dan fungsi bahasa pada umumnya, yaitu sebagai alat komunikasi seseorang dengan orang lain. Dalam hal ini Abdul Chaer dan Leonie Agustina menjelaskan tentang fungsi bahasa sebagai berikut: pertama : dilihat dari sudut penutur , bahasa berfungsi sebagai personal, karena disaat seseorang menyampaikan pesan, disaat itu juga ia memperlihatkan emosinya kepada orang lain, disaat itu juga penerima pesan memahami bagaimana emosi penyampai pesan. Kedua : dilihat dari sudut pendengar , bahasa berfungsi sebagai direktif (mengatur tingkah laku pendengar ), karena orang yang menerima pesan secara otomatis berbuat sesuatu setelah pesan diterima. Ketiga: dilihat dari segi kontak bahasa , bahasa berfungsi sebagai fatik (menjalin hubungan), inilah yang disebut fungsi utama setiap bahasa. Keempat:dilihat dari segi topik ujaran, bahasa berfungsi sebagai referensial , karena apapun pesan yang akan disampaikan itu akan menjadi bahan pemikiran bagi penerima pesan. Kelima : dilihat dari segi kode bahasa berfungsi sebagai metalingual (mengajarkan bahasa itu sendiri ), karena secara tidak langsung beberapa aspek dalam bahasa seperti gramatikal dan lain-lain. Di ungkapkan dengan bahasa. 

Untuk mendapatkan gambaran betapa besar penting dan manfaat nahwu dan shorof(qowa’id) didalam penyusunan sebuah kalimat, lebih-lebih dari segi fungsi dan manfaatnya didalam menjaga kemurnian dan keutuhan sebuah makna dan maksud kalimat, kita bisa lihat ilustrasi-ilustrasi sebagai berikut:

a - Pada suatu hari Abu al Aswad al Maududi pulang dari bepergian, saat itu cuaca terik sekali. Setibanya    dirumah Abu al Aswad al Maududi disambut oleh putrinya, dan berkata yang maksudnya “ wahai ayah, betapa panasnya siang ini”, tapi kata yang diucapkan demikian : يا أبت ما أشدُ الحر ( kata  أشد  dibaca rafa’ ), maka Abu al Aswad al Maududi menganggap perkataan putrinya itu kalimat bertanya , padahal yang dimaksud anaknya adalah tentang kekaguman.

b - Suatu hari Abu al aswad al Maududi mendengar ada seseorang membaca al Qur'an sebagai berikut:   ان الله بريئ من المشركين ورسولٍه ( kata رسوله ) dibaca kasrah ), maka beliau menegur dengan mengingatkan kata رسوله harus dibaca dhammah. Hal ini karena akan berpengaruh terhadap arti dan maksud ayat. Kalau kata رسوله (dibaca kasrah ), terjemahannya adalah : Sesungguhnya Allah bebas dari tuduhan orang-orang musyrik dan rosul-Nya, padahal kalau kata رسوله (dibaca rafa’) terjemahannya adalah : Sesungguhnya Allah dan rosul-Nya terbebas dari tuduhan orang-orang musyrik. 

Dari illustrasi-illustrasi diatas betapa pentingnya sebuah aturan tata bahasa arab untuk mengantar seseorang menyampaikan / mengungkapkan sebuah maksud dengan tepat, dan orang yang diajak bicarapun mampu menangkap dan memahami maksud dan tujuan mutakallim, bisa jadi karena kesalahan tatabahasa, seseorang akan menangkap dan memahami suatu kalimat yang tidak sesuai dengan keinginan si pembicara / penulis. Berkata Syeikh ‘Athif Zain, bahwa ilmu nahwu adalah tiang dari ilmu-ilmu al Qur'an , sedangkan ‘irab adalah intisarinya. 

Sebenarnya peran dan fungsi ilmu sharaf secara umum adalah membantu  dalam menentukan masing-masing sighat (jenis kata) dari kalimat-kalimat yang merangkai sebuah teks bahasa arab. Apakah kalimat yang sedang dihadapi termasuk dalam kategori fi’il madli, fi’il mudlari’, fi’il amar, masdar, isim fa’il, isim maf’ul, isim zaman atau isim makan. Masing-masing sighat tersebut harus mampu dipahami dengan baik, karena secara langsung memiliki korelasi dengan arti sebuah kalimat. Ketidak mampuan dalam memahami dan menentukan sighat akan berdampak pada kemampuan seseorang dalam menganalisa dan memahami sebuah teks.

Pemahaman tentang fawaid al-ma’na dari wazan-wazan yang ada juga harus dipandang sebagai tujuan pembelajaran ilmu sharaf, karena banyaknya wazan yang ada, baik dari fi’il mujarrad, maupun dari fi’il mazid bukan untuk memberikan variasi bacaan, akan tetapi untuk tujuan faidah arti.

Perbedaan yang paling mendasar antara shorof dan nahwu yaitu apabila shorof lebih sering diaplikasikan untuk membaca kitab gundul, sedangkan nahwu untuk mengetahui makna dari kitab tersebut. Sehingga antara nahwu dan shorof tidak boleh dipisahkan.

  1. Urgensi Ilmu Nahwu dan Shorof.

Sebagaimana kita telah ketahui bahwa ajaran agama islam itu sumber pokoknya adalah dari Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW, kedua sumber itu menggunakan bahasa arab. Maka setiap orang islam yang bermaksud mempelajari sampai mengerti dan menguasai bahasa arab dengan segala tata bahasanya seperti ilmu nahwu shorof serta kesastraannya yakni : Ma’ani, Bayan, badi’, hal semacam ini memang disebutkan dalam qoidah ushul :

مَا لاَ يُتِمُّ الوَاجِبُ الاَّ بِهِ فَهُوَوَاجِبٌ

Artinya: “ setiap perkara yang tidak sempurna mengerjakan sesuatu maka hal itu wajib pula ”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimakumullah dalam kitabFadhlu Al ‘Arobiyyah berkata,”Sesungguhnya bahasa arab itu  sendiri  merupakan  bagian dari  agama dan mengenalinya adalah sebuah perkara yang fardlu lagi Sesungguhnya memahami al kitab dan as Sunnah adalah wajib,sementara ia  tidak bisa dipahami kecuali dengan bahasa arab.Suatu kewajiban yang tidak bisa terlaksana kecuali dengan suatu hal yang lain,maka perkara itu menjadi wajib hukumnya.”

Dan sebelum belajar bahasa arab yang lain, maka terlebih dahulu harus mempelajari ilmu-ilmu nahwu shorof dulu, karena kedua ilmu ini merupakan sumber pangkal tata bahasa, sebagaimana diketahui oleh sebagian Ulama’:

اِعْلَمُ اَنَّ الصَّزْفَ اُمُّ الْعُلُوْمُ وَالنَّحْوُ اَبُوْهَا

Artinya: “ketahuilah sesungguhnya shorof itu induk segala ilmu dan nahwu adalah bapaknya ”.

Ilmu shorof dikatakan sebagai induk dari segala ilmu, karena ilmu nahwu ini mengatur susunan kata dalam kalimat, sehingga susunan kalimat itu benar dan bisa dipahami oleh orang lain.

Abul Ilmi atau ayahnya ilmu merupakan sebutan yang diberikan ulama untuk Ilmu  nahwu,karena ilmu ini bertujuan menjaga kesalahan lisan dalam mengucapkan kalam Arab,serta sebagai isti’anah (lantaran)didalam memahami Al-Qur’an dan hadist.Ilmu nahwu juga dinamakan ilmu alat karena semua ilmu Agama seperti ilmu fiqih, tauhid dan semua ilmu yang berbahasa Arab akan mudah memahaminya dengan lantaran ilmu nahwu.

Sedangkan ilmu shorof adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang harus diketahui pertama kali oleh para pelajar agama,terutama para pelajar Madrasah dan pondok pesantren karena ilmu shorof merupakan Induk segala ilmu sebab ilmu shorof itu melahirkan bentuk setiap kalimat sedangkan kalimat itu menunjukan bermacam-macam ilmu.Dengan mempelajari ilmu shorof ini bertujuan untuk memahami  dan mengkaji kandungan makna Al-Qur’an dan hadist.

Dalam Nadzam Ajrumiyyah disebutkan;

وَالنَّحْوُ أَوْلَى أَوَّلاً أَنْ يُعْلَمَا × إذِ الْكَلاَمُ دونَهُ لَنْ يُفْهَمَا

"Ilmu nahwu adalah yang lebih utama untuk dipelajari terlebih dahulu.. sebab kalam tanpa ilmu nahwu tak akan bisa dimengerti".

Ilmu nahwu sebagai ilmu alat atau wasilah perantara yang menentukan kefahaman terhadap Nash-nash wahyu Al-Qu'an, AL-Hadits, Atsar Shahabah dan Qaul Ulama'. Memang ilmu nahwu bukanlah dzat ilmu syari'ah, tapi ilmu nahwu merupakan wadahnya ilmu syariah itu sendiri.

Ustadz A.Zakaria dalam kitabnya al muyassar fi ‘ilmi an-Nahwi beliau mengatakan,”Sesungguhnya kebutuhan setiap muslim untuk mengenali kaidah-kaidah bahasa arab adalah sangat mendesak .Sebab ilmu itulah yang menjadi jembatan untuk memahami al qur’an dan as sunnah.Rosulullah SAW pun telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan keduanya dan mengamalkan ajaran yang terkandung didalamnya.Sementara tidak mungkin kita bisa memahami keduanya dengan pemahaman yang sempurna kecuali setelah mengetahui kaidah-kaidah bahasa arab.

Selain daripada itu buah mempelajari ilmu nahwu adalah untuk menjaga lisan dari kekeliruan dalam pengucapan kalimat- kalimat berbahasa arab.Selain itu bahkantujuan utamanya ilmu nahwu menjadi sebab untuk bisa memahami al qur’an dan hadits Nabi SAW dengan pemahaman yang benar .Sementara kita telah mengetahui bahwa Al qur’an dan Sunnah ini merupakan dua sumber utama Syari’at Islam.

Mengetahui ilmu nahwu dan shorof merupakan salah satu syarat untuk berijtihad.Salah seorang ulama’ bermadzhab Hanafi,Al AnShori mengatakan,”Salah satu syarat seorang mujtahid adalah harus   mengerti tashrif,nahwu dan bahasa”.

Penggunaan ilmu nahwu dalam menyusun kalimat jika salah baca maka akan menimbulkan salah makna juga. Kesalahan-kesalahan ini sering terjadi karena literatur-literatur arab itu tidak berharokat yang kita kenal dengan kitab gundul.

Dan perlu kita ketahui bersama bahwa pada dasarnya tulisan berbahasa arab itu tidak menggunakan harokat sebagaimana pada kitab suci Al Qur’an, akan tetapi justru tanpa harokat sebagaimana pada kitab-kitab gundul, surat kabar, majalah dan lain-lainnya semuanya tidak menggunakan harokat, itulah tampaknya yang menjadi kendala paling besar bagi orang-orang non arab untuk dapat memahami teks-teks berbahasa Arab.

Mengingat hal ini apakah orang- orang khususnya yang menganut agama islam akan mengabaikan ilmu-ilmu ini? Padahal nantinya  sebagai orang islam harus mampu dan ahli dalam bidang agama dan ahli dalam bidang Islam. Begitu pula ilmu shorof sangat penting sekali penggunaannya dalam bahasa arab sebagaimana dalam buku Amtsilatut Tashrifiyah” tersebut kita bisamengetahui makna-makna mufrodatnya tak terhingga yang diketahui ; melalui ilmu shorof seperti dibawah ini :
Menghitung حسب – يحسب – حسبا – حِسَا بًا
Menyangka حَسِبَ – يحسب – حُسْبَا نًا
Berketurunan Mulia حِسِبَ – يَحْسُبُ – حُسْبًا
Khutbah خَطَبَ – يَخْطُبُ - حُطْبَةً
Melamar خَطَبَ – يَخْطُبُ - خِطْبَةً
Menjadikan عَا دَ – يَعُوْدُ - عَوْدَةً
Mengembalikan اَعَا دَ – يَعُوْدُ- اِعَا دَةً

Dari sebagian contoh kecil diatas dapat di simpulkan bahwa tanpa mendalami ilmu shorof pasti akan terjadi kesalahan membaca kata-kata dengan kesalahan-kesalahan tersebut, maka juga akan salah dalam memahami makna seperti contoh dalam qur’an surat Al a’raf ayat 62 sebagai berikut :

 ابلّغكم رسلت ربّى وانصح لكم واعلم من الله مالا تعلمون

"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan Aku memberi nasehat kepadamu. dan Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui ". 

Dalam ayat tesebut jika kalimat (اَعْلَمْ) dibaca dan dianggap sebagai isim tafdlil maka maksudnya akan berubah dan menjadi besar. Padahal lafadh tersebut bukan isim tafdlil melainkan fi’il mudhori’ yang artinya dari fi’il mudhori’ adalah : “ saya tahu “ . dengan demikian akan terjadi kesalahan besar. Hal-hal semacam inilah yang menjadikan pentingnya untuk mempelajari ilmu shorof baik yang menjelaskan perubahan Tashrif/perubahan kata-kata, baik secara ishtilahi bagi mujarrod maupun mazid begitu pula tashrif lughowi bagi seluruh sighot yang telah diberi tashrifnya.

Oleh sebab itu para pakar bahasa arab belakangan hanya mengkhususkan pembicaraan ilmu nahwu hanya pada keadaan akhir kata;perubahan akhir kata dan tetapnya akhir kata.sehingga dengan sendirinya materi yang dibicarakan dalam nahwu berbeda dengan ilmu shorof ;yang notabene membahas pembentukan kata.

Dengan demikian apabila ilmu nahwu membicarakan tentang perubahan yang terjadi pada akhir kata dalam bahasa arab,maka ilmu shorof membahas perubahan bentuk dan bangunan kata dari dalam serta pola-pola penyusunannya.Oleh sebab itu kedua ilmu ini memiliki kaitan yang sangat erat.Orang yang mempelajari ilmu nahwu semestinya juga mempelajari ilmu shorof. 

  1.  Peran riil Nahwu dan Shorof dalam menggali  makna serta  solusi memahami teks Arab.

Ilmu Nahwu memiliki orientasi penting yaitu untuk membantu dalam memahami teks-teks arab, menjaga lisan dari kesalahan dalam berbicara, dan khususnya untuk memahami Al-qur’an dan hadits. Sebagaimana dalam Nadzam Ajrumiyyah diatas telah disebutkan;

وَالنَّحْوُ أَوْلَى أَوَّلاً أَنْ يُعْلَمَا × إذِ الْكَلاَمُ دونَهُ لَنْ يُفْهَمَا

 "Ilmu nahwu adalah yang lebih utama untuk dipelajari terlebih dahulu.. sebab kalam tanpa ilmu nahwu tak akan bisa dimengerti".

Terdapat banyak sekali dalam Al-qur’an ayat-ayat yang membutuhkan campur tangan Nahwu didalamnya,diantaranya seperti pada ayat "إذا أراد شيأ أن يقول له كن فيكون" kita dapatkan disana arti dari lafadz "كن فيكون". Apabila kalimat ini kita terjemahkan secara sederhana, “Jadi! Maka jadilah,…; langsung terbayang dalam benak kita bahwa ketika Allah Swt menghendaki sesuatu dan lalu mengatakan “Jadilah! ; maka sesuatu itu dengan serta merta terjadi langsung.

Pemahaman ini tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak tepat apabila kita melihatnya dari sudut yang lebih umum dan hal-hal yang berkaitan dengan sunnatullah. Bahkan makna sepintas itu menggambarkan tidak adanya proses. Padahal ayat itu berada dalam kontek umum dan mencakup semua kejadian termasuk yang ada proses padanya. Itulah rahasia yang terkandung dengan menggunakan "ف" sebagai jawab syarat, bukan dengan kata "يكن" dengan dijadikan berstatus Jazm. Sedangkan relasi antara syarat yakni kata   كن dan jawab syarat yakni "فيكون" mengandung makna kepastian.

Selanjutnya, Ilmu Shorof  juga memiliki orientasi penting  untuk membantu dalam memahami teks-teks arab, menjaga lisan dari kesalahan dalam berbicara, dan khususnya untuk memahami Al-qur’an maupun hadits.Diantaranya ada hadits yang berbicara tentang jimat dan hal-hal yang berbau klenik dan bagaimana hukumnya menurut pandangan Islam. Ada satu hadis Nabi s.a.w. yang berbunyi, "من تعلق تمامة فلا أتمه الله" Kalimat hadis ini bila diterjemahkan  adalah ; “Barangsiapa menggantungkan jimat, maka semoga tidak disempurnakan oleh Allah (hajatnya).…; Secara sederhana, kita memang bisa mengerti makna hadis ini dan apa kandungan yang dimaksud. Namun jika kita memberikan perbandingan dengan terjemahan yang mencermati kaidah ilmu Sharaf, yaitu dasar kita memahami dalam level ini.

Hadits tersebut menggunakan kata ta’allaqa’ yang mengandung beberapa makna selain kata dasarnya. Beberapa makna yang relevan adalah : معانة, والتكلف  طاوعة, دلا لةعلي اتخاذ Makna-makna ini menunjukkan kandungan intransitif. Bisa dilihat terjemahan di atas menggunakan makna transitif yang sebenarnya lebih tepat jika digukana kata ;allaqa. Satu makna yang sedikit mengena dengan terjemahan tersebut adalah makna دلا لةعلي اتخاذ; yakni makna menjadikan sesuatu yang terkandung dalam kata dasar. Misalnya kata   وسادة  adalah bantal, maka توسّده berarti menjadikan sesuatu itu sebagai bantal, atau kata إبنً adalah anak, maka  تينّي  adalah menjadikannya sebagai anak. Jika hadis di atas kita terjemahkan sesuai dengan makna ini, maka secara literal adalah “Barangsiapa menjadikan jimat sebagai gantungan.

Bisa kita lihat sendiri, terjemahan tersebut hanya mengena pada sedikit dari kandungan yang dimaksud. Makna lain yang menurut Penulis lebih tepat adalah مطاوعة yakni jika kita menggantungkan sesuatu, maka sesuatu itu tergantung. Dengan makna ini, hadis di atas tidak sekadar menggantungkan jimat, tetapi siapa saja yang bergantung dengan jimat walau jimat itu sendiri hanya disimpan. Seharusnya kata ta’allaqa dalam hadis itu intransitif, tetapi digunakan secara transitif karena rahasia bahasa tertentu yang menjadi pembahasan level selanjutnya, yaitu level gramatikal.

Maksud hadis tersebut menjadi lebih tegas, bukan jimatnya yang tergantung, tetapi adalah oknum yang tergantung dengan jimat. Dan karena oknum, maka makna menjadi bergantung. Dan karena makna ketergantungan inilah, maka hal itu dilarang karena bagi seorang muslim, prilaku yang benar adalah berusaha dan menyerahkan semuanya yakni bergantung kepada Allah, bukan kepada benda-benda dengan membuatnya sebagai jimat-jimat.

  1.  Ihtitam.

Dari paparan tersebut di atas jelas bahwa ilmu nahwu dan ilmu shorof sangat berkaitan erat dan sangat penting untuk mempelajari bahasa Arab. Ilmu nahwu atau yang diidentikkan dengan ilmu Qowaid sendiri adalah ilmu tentang tata bahasa (kaidah-kaidah) bahasa Arab dan ilmu shorof adalah ilmu yang membahas kata-kata dengan perubahan-perubahannya (tashrif). Sebuah susunan kata-kata dikatakan kalimat sempurna apabila memenuhi dua persyaratan; Pertama, kalimat tersebut terdiri dari dua kata atau lebih. Kedua, susunan kata-kata tersebut dapat dipahami atau mengandung arti yang jelas. Kejelasan arti dari kata-kata tersebut banyak disinggung dalam kajian ilmu shorof, karena perubahan kata-kata tersebut akan sangat berpengaruh pada keshahihan artinya.

Kedua ilmu tersebut merupakan dasar dan alat untuk mengetahui dan menggali serta memperdalam bahasa Arab yang sudah menjadi bahasa internasional kedua setelah bahasa Inggris.Oleh sebab itu tidaklah heran apabila banyak ahli bahasa (linguist) yang mengatakan: الصرف ام العـــــلوم والنحو ابوهــــــا. Artinya: Ilmu shorof itu merupakan ibu dari segala ilmu dan ilmu nahwu (qowaid) merupakan bapaknya.

 Inilah sebuah potret keluarga yang keduanya ada dan berdampingan, saling bahu membahu dan saling melengkapi satu sama lain. Apabila dikonotasikan relasi antara kedua ilmu tersebut seperti dua mata koin yang berdampingan namun tidak dapat dipisahkan, artinya baik shorof maupun nahwu memiliki peranan penting dalam memahami ilmu pengetahuan, karena banyak nash-nash (teks) ilmu pengetahuan yang bersumberkan bahasa Arab, dan semuanya dapat dikaji melalui kajian ilmu shorof dan ilmu nahwu apabila ingin membacanya dan mempelajarinya lebih jauh.

Peran Ilmu Nahwu dan Shorof sangat penting dalam dunia islam. Yaitu membantu memecahkan permasalahan-permasalahan mengenai syari’at-syari’at islam dari segi kebahasaan. Karena semua syari’at islam yang ada, adalah berupa teks-teks yang termaktub dalam buku-buku bernuansakan ‘arabiyah seperti; Al-qur’an, Al-hadist, Bahkan sampai Ijma’ dan Qiyas. Sehingga setiap orang islam yang bermaksud mempelajari sampai mengerti dan menguasai serta memahami islam,apalagi seorang mujtahid terlebih dahulu harus mengenal bahasa Arab beserta gramatikalnya(nahwu).

Bahwa Ilmu Nahwu dan shorof  telah memberikan sumbangan yang sangat besar kepada islam, khususnya dalam menyingkapkan makna-makna yang terkandung dalam rangkaian kata yang penuh makna yaitu Al-qur’an, hadist, dan teks-teks arab lainnya. Kalau setiap hari kita membaca Al-qur’an, membaca buku-buku yang berbahasa arab, mendengarkan pengajian di mana saja, atau apa saja lah yang menggunakan bahasa arab kita akan membutuhkan apa yang disebut dengan Ilmu Nahwu dan shorof. Orang yang sadar akan kebutuhan hidupnya, maka ia akan berupaya untuk mendapatkannya.

Tujuan yang paling utama dalam kita mempelajari Ilmu Nahwu dan shorof  ini adalah untuk sebagai solusi dalam  berupaya menggali dan memahami makna-makna yang terkandung dalam teks-teks Arab,seperti ;Al-qur’an dan Hadis khususnya dan kitab-kitab lain yang berbahasa arab umumnya. Di atas sudah kita ketahui betapa erat sekali hubungan antara teks Al-qur’an dan bahasa arab, kemudian sejarah peletakan Ilmu Nahwu shorof sampai pada Nahwu shorof sebagai solusi untuk memahami Al-qur’an dan Hadits. Dari sini penulis sangat berharap sekali akan tumbuhnya kecintaan kita dalam mempelajari Ilmu Nahwu dan shorof.  

 

 

Penulis adalah

Dosen STAI Al Muhammad Cepu

 

 

 

 

Bibliografi:

KH.Moch Anwar, Revisi Ilmu shorof Terjemahan Matan Kailani dan Nadhom al Maqshud berikut penjelasannya(Bandung;sinar baru algsindo,2000).

Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Al- Qawa’id al Assasiyat li al-Lughat al-Arabiyah, (Bairut : Dar al-Kutub aal-Ilmiyah, t.th).

Muhammad bin ‘Ali As Shobban, Hasyi’ah As-Shobban (Haromain).

Ibnu Wahid Alfat, Reaktualisasi Fan Nahwu, genesa product,

  1. Moch Anwar, Ilmu shorof Terjemahan matan kailani dan nadhom al maqshud berikut penjelasannya(Bandung;sinar baru algsindo,1987).

Ahmad Sunarto,Kaidah kaidah Bahasa Arab Terjemah Qowa’idul Lughoh (Surabaya,Al Hidayah,1990.

Muhammad, Abdul Karim al As’ad, al Washith fi Tarikh al Nahwi al ‘Araby,Daru al Shawaf: 1992.

Rusydi Ahmad Thu’aimah dan Muhammad al sayyid Manna, Tadris al ‘Arabiyah fi al Ta;limi al ‘Amm, Nadhoriyyat wa Tajarib, (Cairo, Dar al Fikr al ‘Araby, cet. I, 2000)

Zaidan, Jirji, Tarikh Tamaddun al Islami II, Beirut.

Hasan, Tamman, al Ushul, Dirosah Epistemolojiyyah li al Fikri al Lughowi ‘inda al ‘Arab, al Nahwu  Fiqhu al Lughah al Balaghah, Cairo:Alam al kutub,2000Muhammad bin ‘Ali As Shobban, Hasyi’ah As-Shobban (Haromain).

Rusydi Ahmad Thu’aimah, Ta’limu al lughatu al ‘arabiyah, manahijihi wa asalibihi, (Rabath: Isesco, 1989).

Fathi Ali Yunus dkk, Asasiyyatu al ta’limi al lughah al ‘arabiyah wa al tarbiyatu al diniyah, (Cairo: Daru al-Tsaqafah )

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik perkenalan awal, cet.I Jakarta: Rineka Cipta, 1995

Ade Kosasih, dalam Tesisnya yang berjudul : Ilmu-ilmu bahasa Arab dan perkembangannya pada zaman Dinasti Abbasiyah I.

Zain, Syeikh ‘Athif, al ‘I’rab fi al Qur'an al karim, Libanon : Daaru al Kitab , 1985.

http://cupiicupii.blogspot.co.id/2013/04/penerapan-disiplin-ilmu-nahwu-dan.html.

DR.Rachmat Syafie’i,MA,Ilmu Ushul Fiqh,Bandung,CV.Pustaka Setia,1998.

Fadhlu al-'Arabiyyah, oleh Syaikh Muhammad bin Sa’id Ruslan, hal.71.

M.Sholihuddin Shofwan,Pengantar Memahami al-Jurumiyah. (Surabaya: Darul Hikmah, 2007)

H.M.Abdul Manaf Hamid,Pengantar Ilmu Shorof Istilahi Lughowi.(Surabaya: PP. Fathul Mubtadiin, 1993).

Al-Muyassar fi 'llmi an-Nahwi ,oleh Ustadz  Aceng Zakariya Akhmad kurkhi,  Cet.23, 2005.

Tuhfatus Saniyah, oleh Syaikh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Maktabah Sunnah.

At-Ta'tiqat at-Jatiyyah ‘Ala Syarh Al Muqoddimah Al Aajurumiyyah, Abu Anas Asyraf   bin Yusuf bin Hasan,Darul ‘aqidah Mesir.

Depag RI Al qur’an dan terjemahnya;Yayasan penyelenggara penterjemahan/pentafsiran Al-Qur’an,Jakarta,1971.

Mu'jam al-Mushthalahat an-Nahwiyah wa ash-Shorfiyah, hal.217-218.

Ad-Dalilila Qawa'id al-Lughah alArabiyah, oleh Dr. Hasan Nuruddin, hal. 17-18

http://musyarrof.blogspot.co.id/2008/09/urgensi-nahwu-sebagai-gramatical-of.html.