Diniyah, Ilmiah, Ukhuwah, dan Amaliyah

Karakteristik Bahasa Arab dan Perkembangannya di Indonesia

Tanggal publikasi 30 September 2018
Abstraksi Setiap bahasa memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda dengan bahasa lain yang membedakan setiap Bahasa menjadi unik dan memiliki ciri khas. Kemudian dari kekhususannya ini menjadikan Bahasa Arab sebuah bahasa yang fleksibel, mempunyai elastisitas yang tinggi, maka dalam  menjalankan dan mempertahankan fungsinya sebagai bahasa komunikasi, sarana dalam penyampaian tujuan agama, pencatatan berbagai ilmu pengetahuan, telah mampu disampaikan dengan mudah dan benar. Fakta dan data menunjukkan Bahasa Arab sudah mulai dikenal sejak masuknya Islam ke wilayah tanah air nusantara. Bagi bangsa Indonesia khususnya umat Islam Bahasa Arab bukanlah bahasa asing karena muatannya menyatu dengan kebutuhan umat Islam, sayangnya sikap dan pandangan sebagian kaum muslim Indonesia masih beranggapan, Bahasa Arab hanyalah bahasa agama, sehingga perkembangan Bahasa Arab terbatas di lingkungan kaum muslimin yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan agama. Hanya lingkungan kecil yang menyadari betapa Bahasa Arab -selain sebagai bahasa agama- merupakan bahasa Ilmu pengetahuan dan sain yang berhasil melahirkan karya-karya besar ulama di berbagai bidang ilmu pengetahuan, filsafat, sejarah, dan sastra. Karena itu tidaklah berlebihan bila dikatakan, Bahasa Arab merupakan peletak dasar bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan modern yang berkembang cepat dewasa ini. A.Muqoddimah. Bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau berkomunikasi berupa lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia, untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan seseorang. Bahasa terdiri atas kumpulan kata yang apabila di gabungkan akan memiliki makna tersendiri.  Bahasa diciptakan sebagai alat komunikasi universal yang diharapkan dapat dimengerti oleh setiap manusia untuk melakukan suatu interaksi sosial dengan manusia lainnya. Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri, percakapan (perkataan) yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun, baik budinya, menunjukkan bangsa, budi bahasa atau perangai serta tutur kata menunjukkan sifat dan tabiat seseorang dimana baik buruk kelakuan menunjukkan tinggi rendah asal atau keturunan (Departemen Pendidikan Nasional, 2005, hlm:88). Bahasa Arab merupakan Bahasa Semit Tengah yang merupakan rumpun dari Bahasa Semit, dan berkerabat dengan bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Neo Arami. Bahasa Arab memiliki lebih banyak penutur daripada bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semit. Ia dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang sebagai bahasa pertama, yang mana sebagian besar tinggal di Timur Tengah dan Afrika Utara. Bahasa ini adalah bahasa resmi dari 25 negara, dan merupakan bahasa peribadatan dalam agama Islam karena merupakan bahasa yang dipakai oleh Al-Qur'an. Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa Intenasional yang digunakan  oleh ummat manusia untuk berkomunikasi antar satu sama lain, di dalam buku The arabic language dinyatakan bahwa Bahasa Arab telah digunakan oleh lebih dari 150 juta orang sebagai bahasa ibu atau bahasa sehari-hari mereka, dan tidak ada bukti dokumentasi yang  menyatakan bahwa Bahasa Arab adalah bahasa tertua apabila dibanding dengan bahasa lainnya, namun juga tidak dapat dipastikan bahwa Bahasa Arab jauh lebih muda dibanding bahasa lainnya. Pada dasarnya Bahasa Arab memiliki ciri khas dan memiliki keunikan tersendiri sesuai karakteristik Bahasa tersebut. Perkembangan Bahasa Arab terutama di Timur tengah tidaklah bisa lepas dari perbincangan tentang perkembangan Islam sebagai agama mayoritas masyarakat Arab, oleh karena itu penulis akan membahas karakteristik dan perkembangan Bahasa Arab sejalan dengan perkembangan Bahasa Arab di Indonesia sampai pada saat ini. Pengetahuan tentang perkembangan studi Bahasa Arab di timur tengah diharapkan dapat menjadi gambaran bahwasanya Bahasa Arab adalah bahasa yang terus berkembang di seluruh penjuru dunia. Bagi bangsa Indonesia khususnya umat Islam Bahasa Arab bukanlah bahasa asing karena memang sebuah kebutuhan umat Islam, sayangnya sikap dan pandangan sebagian kaum muslim Indonesia masih beranggapan, Bahasa Arab hanyalah bahasa agama, sehingga perkembangan Bahasa Arab terbatas di lingkungan kaum muslimin yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan agama saja. B.Karakteristik Bahasa Arab. Secara etimologi, karakteristik berasal dari akar kata bahasa Inggris yaitu character yang berarti watak, sifat, ciri (John M .Echols dan Hasan Shadily,2006;107). Kata characteristic berarti sifat yang khas atau ciri khas sesuatu. Achmad Maulana mengartikan karakteristik dengan ciri khas, bentuk-bentuk watak dan tabiat individu, corak tingkah laku atau tanda khusus (Ahmad Maulana,dkk,2004:202). Dalam istilah Bahasa Arab kata karakteristik dikenal dengan خصائص sebagai bentuk jamak dari خصوصيـة yang diartikan dengan kekhususan atau keistimewaan. Secara umum bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau berkomunikasi berupa lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia, untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan seseorang. Bahasa terdiri atas kumpulan kata yang apabila di gabungkan akan memiliki makna tersendiri.  Bahasa diciptakan sebagai alat komunikasi universal yang diharapkan dapat dimengerti oleh setiap manusia untuk melakukan suatu interaksi sosial dengan manusia lainnya. Bahasa Arab merupakan Bahasa resmi bangsa Arab. Selain menjadi Bahasa orang muslim di seluruh penjuru dunia, Bahasa Arab digunakan sebagai Bahasa Al-qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam. Setiap Bahasa memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda dengan Bahasa lain yang membedakan setiap Bahasa menjadi unik dan memiliki ciri khas. Bahasa Arab memiliki struktur tata bahasa yang sangat unik, ia mampu mengungkapkan suatu masalah dengan sangat jelas dan dengan kata-kata yang sangat hemat, pembentukan frasa, kalimat, dan kata-katanya sangat teliti. Kata-katanya disusun berdasarkan konsep kata dasar, kata kerja biasa tersusun dari tiga atau empat konsonan huruf misalnya K-T-B (kataba, dia menulis), kata kerja dasar ini bisa ditashrif (diubah-ubah) sebagaimana kata kerja dalam bahasa lain, kata kerja ini juga bisa digunakan bersama sejumlah tenses, modus, dan infleksi yang tidak kita temukan dalam bahasa lainnya. Kata dasar, etimologi, makna asli, serta kata jadian merupakan esensi Bahasa Arab, dengan semua itulah berbagai konsep, obyek, dan pemikiran dapat dilukiskan dengan kata-kata, kata-kata baru tidak harus dipinjam dari bahasa lain, bila para pakar pandai mencari kata-kata baru untuk memperkaya Bahasa Arab maka seluruh manusia akan mahir berbahasa Arab. Dengan demikian Bahasa Arab sangat cocok untuk menjelaskan berbagai peraturan serta konsep, terutama karena Bahasa Arab tidak terpengaruh oleh berlalunya waktu, di sinilah pentingnya upaya pelestarian Bahasa Arab di tengah-tengah umat Islam. Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas Bahasa Arab yang merupakan kelebihan dan tidak ada pada bahasa lainnya, diantaranya yaitu (Umi Mahmudah dan Abdul Wahab Rosyidi,2008:7): 1.Jumlah huruf sebanyak 28 huruf dengan makharij al-huruf (tempat keluarnya huruf) yang tidak ada dalam bahasa lainnya. 2.I’rab yakni sesuatu yang mewajibkan keberadaan akhir kata pada keadaan tertentu, baik itu rafa’, nashab, jar, maupun jazm yang terdapat pada isim (kata benda), dan juga pada fi’il (kata kerja). 3.Ilmu ‘arudi (ilmu notasi syi’ir) yang mana dengan ilmu ini menjadikan syi’ir berkembang dengan perkembangan sempurna. 4.Bahasa ‘ammiyah dan fush-ha, bahasa ‘ammiyah digunakan dalam berinteraksi jual beli atau berkomunikasi dalam situasi non formal, sedangkan bahasa fush-ha adalah bahasa sastra dan pembelajaran, serta bahasa resmi yang digunakan dalam percetakan. 5.Adanya huruf dhad yang tidak ada pada bahasa lainnya. 6.Kata kerja dan gramatikal yang digunakan selalu berubah sesuai dengan subjek yang yang menghubungkan dengan kata kerja tersebut. 7.Tidak adanya kata yang bersyakal  dengan syakal yang sulit dibaca. 8.Tidak adanya kata yang mempertemukan dua huruf mati secara langsung. 9.Sedikit sekali kata-kata yang terdiri dari dua huruf (al-alfadz al-tsuna’iyyah), kebanyakan tiga huruf kemudian ketambahan lagi 1, 2, 3, atau 4 huruf. 10.Tidak adanya empat huruf yang berharakat secara terus menerus, di samping aspek-aspek lain yang termasuk dalam ranah deep structure (al-bina’, al-dahily) baik segi fonologi, dan kamus. Predikasi dalam Bahasa Arab cukup dengan mengadakan hubungan mentalistik, antara musnad dan musnad iaih tanpa memerlukan keterusterangan dengan hubungan ini, baik secara lisan maupun tulisan. Sementara itu, predikasi mentalistik ini tidak cukup dalam bahasa Indo-Eropa, itulah fiil kainunah dalam istilah mereka. Dalam bahasa-bahasa itu mereka menamakannya robithoh (konektor), copule dalam bahasa Perancis, dan kopula dalam bahasa Inggris yang berfungsi menghubungkan musnad dan musnad ilaih baik dalam kalimat positif maupun negatif. (Usman Amin,1965;20).Barangkali kegoncangan ini dalam bahasa-bahasa barat modern merupakan salah satu penyebab yang menjadi kebiasaan orang-orang barat, yaitu mereka mencari bukti kesaksian luar indrawi bagi setiap masalah mentalistik yang mengandung shidq (kebenaran) atau kidzib (kebohongan) sebagaimana pendapat para ahli mantik Bahasa Arab. Bahasa Arab memiliki karakteristik yang unik dan universal. Dikatakan unik karena Bahasa Arab memiliki ciri khas yang membedakannya dengan bahasa lainnya, sedangkan universal berarti adanya kesamaan nilai antara Bahasa Arab dengan bahasa lainnya. Adapun beberapa ciri-ciri khusus Bahasa Arab yang dianggap unik dan tidak dimiliki bahasa-bahasa lain di dunia, terutama bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut (Moh.Matsna,1998:3-11): 1.Aspek Bunyi. Bahasa pada hakekatnya adanya bunyi, yaitu berupa gelombang udara yang keluar dari paru-paru melalui pipa suara dan melintasi organ-organ speech atau alat bunyi. Bahasa Arab, sebagai salah satu rumpun bahasa Semit, memiliki ciri-ciri khusus dalam aspek bunyi yang tidak dimiliki bahasa lain. Ciri-ciri khusus itu adalah: a.Vokal panjang dianggap sebagai fonem (أُو ، ِي ، أَ ). b.Bunyi tenggorokan (أصوات الحلق), yaitu ح dan ع. c.Bunyi tebal ( أصوات مطبقة), yaitu ض , ص , ط dan ظ . d.Tekanan bunyi dalam kata atau stress (النبر ). e.Bunyi bilabial dental (شفوى أسنـانى ), yaitu ف Bila dibandingkan dengan bahasa Indonesia atau bahasa-bhasa daerah yang banyak digunakan di seluruh pelosok tanah air Indonesia, ciri-ciri di atas menjadi sangat diferensiatif. 2.Aspek Kalimat I’rob. Bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki sistem i’râb terlengkap yang mungkin tidak dimiliki oleh bahasa lain. I’râb adalah perubahan bunyi akhir kata, baik berupa harakat atau pun berupa huruf sesuai dengan jabatan atau kedudukan kata dalam suatu kalimat. I’râb berfungsi untuk membedakan antara jabatan suatu kata dengan kata yang lain yang sekaligus dapat merubah pengertian kalimat tersebut. Contoh: (alangkah baiknya si Khalidما أحسنَ خالداً ), (apa yang baik pada si Khalid ما أحسنُ خالدٍ), (apa yang diperbuat baik oleh si Khalid ما أحسنَ خالدٌ). Jumlah Fi’liyyah dan Jumlah Ismiyyah. Komponen kalimat dalam bahasa apapun pada dasarnya sama, yaitu subyek, predikat dan obyek. Namun, yang berbeda antara satu bahasa dengan bahasa lainnya adalah struktur atau susunan (تركيب) kalimat itu. Pola kalimat sederhana dalam Bahasa Arab adalah: (اسم + اسم) dan (فعل + اسم). Muthâbaqah (Kesesuaian). Ciri yang sangat menonjol dalam susunan kalimat Bahasa Arab adalah diharuskannya muthâbaqah atau persesuaian antara beberapa bentuk kalimat. Misalnya harus ada Muthâbaqah antara mubtada’ dan khabar dalam hal ‘adad (mufrad, mutsannâ dan jama’) dan dalam jenis (mudzakkar dan muannats), harus ada Muthâbaqah antara maushûf dan shifat dalam hal ‘adad, jenis, i’râb (rafa’, nashb, jar), dan nakirah serta ma’rifah-nya. Begitu juga harus ada Muthâbaqah antara hâl dan shâhib al-hâl dalam ‘adad dan jenisnya. C.Perkembangan Bahasa Arab di Indonesia. Sejarah perkembangan Bahasa Arab di Indonesia dimulai sejak masyarakat Indonesia mulai memeluk Islam. Dalam hal ini Bahasa Arab dipelajari semata-mata sebagai alat untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuan Islam, baik disurau, masjid, pondok pesantren, maupun madrasah-madrasah. Sejak zaman penjajahan Belanda, banyak sekali mahasiswa Indonesia yang melanjutkan di beberapa perguruan tinggi di Timur Tengah. Mereka pada umumnya, mempelajari Bahasa Arab bukan semata-mata sebagai alat, melainkan sebagai tujuan. Karena itu, setelah studi mereka berhasil, banyak diantara mereka yang tergolong ahli Bahasa Arab dan mampu menggunakan Bahasa Arab secara aktif karena menguasai empat segi kemahiran bahasa : menyimak (mendengar), berbicara, dan menulis. Setelah mereka pulang ke tanah air, mereka mengusahakan pembaharuan metode untuk pengajaran Bahasa Arab. Dengan metode tersebut, mereka berhasil menumbuhkan pengertian bahwa Bahasa Arab (Fusha) perlu- untuk tidak menyebut harus- dipelajari juga sebagai tujuan, yakni untuk membentuk ahli-ahli Bahasa Arab dan menghasilkan alumni yang mampu menggunakan Bahasa Arab secara aktif sebagai alt komunikasi untuk berbagai keperluan. Setelah pengertian dan kesadaran tersebut meluas, para ahli Bahasa Arab di Indonesia terdorong untuk segera mengajarkan Bahasa Arab untuk melalui metode yang waktu itu dianggap terbaru dan paling sesuai agar Bahasa Arab dipelajari juga sebagai tujuan (baca: sebagai kebutuhan), selain sebagai alat. Pengertian Bahasa Arab dengan metode dan untuk tujuan tersebut sudah mulai dilaksanakan dibeberapa madrasah, baik di Sumatra- seperti madrasah at Thawalib-dan di Jawa- seperti pondok Darussalam Gontor (Ponorogo). Pengajaran Bahasa Arab (Fusha) yang dipelajari di Indonesia dimaksudkan untuk mencapai dua tujuan. Pertama, Sebagai alat untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuan Islam seperti di madrasah-madrasah (negeri atau swasta), pondok pesantren, dan Perguruan Tinggi Agama Islam (negeri atau swasta). Kedua, sebagai tujuan, yaitu membentuk tenaga-tenaga ahli Bahasa Arab atau untuk menghasilakan alumni yang mampu menggunakan Bahasa Arab secara aktif sebagai alat komunikasi untuk berbagai keperluan.(Ahmad Izzan,2009: 43-44). D.Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia. Secara umum, penerapan metode pembelajaran Bahasa Arab yang dikembangkan dipesantren- pesantren dan lembaga pendidikan, termasuk Perguruan Tinggi Islam masih menitikberatkan pada metode gramatika – terjamah. Ini terbukti dari ciri-ciri khusus yang telah dikembangkan, sebagai berikut: 1.Pemberian keterangan kaidah-kaidah tata bahasa oleh para pengajar dan penghafalan kaidah-kaidah tersebut oleh para pelajar. 2.Penghafalan kata-kata tertentu yang kemudian dirangkaikan menurut kaidah-kaidah tata bahasa yang berlaku. 3.Kegiatan kegiatan menerjemahkan kata demi kata, dan kalimat demi kalimat dari Bahasa Arab ke bahasa pelajar dan sangat kurang sebaliknya yakni dari bahasa pelajar ke dalam Bahasa Arab. 4.Latihan untuk kemahiran menggunakan bahasa secara lisan sangat kurang, kalaupun diberikan, frekuensinya hanyalah sesekali dengan cara-cara yang membosankan karena tidak ada variasi. 5.kurang menggunakan alat peraga atau alat bantu yang dapat didengar-dilihat (audio-visual aids). Gambar yang digunakan bersifat ilustrasi dari pada untuk pengajaran. Keadaan ini menunjukkan, lulusan lembaga-lembaga pendidikan agama itu masih produk pengajaran Bahasa Arab yang didasarkan atas informating approach dan metode gramatika tarjamah. Padahal approach dan metode terhadap kurikulum bersifat disintegrasi, yakni tidak mempunyai hubungan yang erat antara pelajaran Bahasa Arab dengan mata ajar lainnya. Mata ajar Bahasa Arab dipecah-pecah secara tajam dalam bagian yang terpisah-pisah, sedangkan kemahiran bahasa tidak diberikan. Dengan perkataan lain, pelajaran Bahasa Arab disampaikan lebih bersifat teoritis karena lebih mengutamakan pembentukan ahli ilmu bahasa, bukan pembentukan manusia yang mampu berbahasa (Ahmad Izzan,2009:112-114). E.Permasalahan Pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia. Pembelajaran Bahasa Arab bagi non Arab merupakan satu hal yang tidak bisa dihindari, karena urgensi Bahasa Arab bagi masyarakat dunia saat ini cukup tinggi baik bagi muslim ataupun non muslim. Hal ini ditandai dengan banyaknya lembaga-lembaga pembelajaran Bahasa Arab diberbagai Negara antara lain: Lembaga Radio Mesir, Universitas Amerika di Mesir, Institut Kajian Keislaman di Madrid Spanyol, Markaz Khurtum di Sudan,LIPIA di Jakarta, Yayasan al-Khoir milik Emirat Arab yang tersebar di Indonesia masing-masing di Surabaya, Bandung, Makasar, Malang, Solo, dan di pondok Pesantren yang tersebar di Indonesia ( Syuhadak,2006). Permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia seperti bahasa asing lainnya, meliputi dua hal; permasalahan kebahasaan dan nonkebahasaan. Permasalahan non kebahasaan ada yang bersifat sosiologis, psikologis, metodologis dan sebagainya. Adapun permasalahan kebahasaan beerkaitan dengan unsure-unsur bahasa: tata bunyi, kosa kata tata kalimat, makna dan tulisan. 1.Permasalahan kebahasaan. Problematika linguistik(kebahasaan) adalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran yang diakibatkan oleh karakteristik bahasa Arab itu sendiri sebagai bahasa Asing. Problema yang datang dari pengajar adalah kurangnya profesionalisme dalam mengajar dan keterbatasannya komponen-komponen yang akan terlaksananya proses pembelajaran Bahasa Arab baik dari segi tujuan, bahan pelajaran (materi), kegiatan belajar mengajar, metode, alat, sumber pelajaran, dan alat evaluasi (Jamaluddin,2003:38). Sedangkan problematika yang muncul dari siswa dalam belajar Bahasa Arab adalah pengalaman dasar latarbelakang sekolah, penguasaan mufradhat (pembendaharaan kata), dan akibat faktor lingkungan keluarga akibatnya mereka mengalami kesulitan untuk memahami bacaan-bacaan serta tidak mampu menguasai Bahasa Arab secara utuh baik dalam gramatika maupun komunikasinya. Problematika linguistik itu diantaranya: a.Tata Bunyi / Phonetik. Tata bunyi / phonetik dalam Bahasa Arab ini memiliki sifatyang berbeda dan bermacam dalam cara pengucapannya, masing-masing mempunyai kareteristik tersendiri seperti tata bunyi huruf halqiyah / tenggorokan, sifat tata bunyi antara dua mulut, tata bunyi ke hidung, tata bunyi huruf yang berdekatan dalam cara pengucapannya. Susah dalam pengucapannya. Dan termasuk problematika Tata bunyi ini diantaranya: bahwa beberapa fonem Indonesia tidak ada padanannya dalam Bahasa Arab, seperti bunyi P, G, dan NG, sehingga bunyi P diucapkan orang Arab dengan bunyi B, seperti kata Jepang mnjadi Yaban, Spanyol menjadi Asbania, Kampar menjadi Kambar, bunyi G menjadi Ghin atau Jim, seperti kata Garut menjadi huruf nun dan jim atau nun dan ghin, seperti kata Inggris menjadi Jarut, bunyi NG diucapkan dengan dan seterusnya. Sebenarnya pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia sudah berlangsung berabad- abad lamanya, akan tetapi aspek tata bunyi sebagai dasar untuk mencapai kemahiran menyimak dan berbicara kurang mendapat perhatian. Hal ini disebabkan karena pertama, tujuan pembelajaran Bahasa Arab hanya diarahkan agar pelajarmampu memahami bahasa tulisan yang terdapat dalam buku-buku berbahasa Arab. Kedua, pengertian hakekat bahasa lebih banyak didasarkan atas dasar metode gramatika-terjamahan. Dengan sendirinya gambaran danpengertian bahasa atas metode ini tidak lengkap dan utuh, karena mengandung tekanan bahwa bahasa itu padadasarnya adalah ujaran. Memang perlu diketahui bahwa diberbagai pesantren, masjid, bahkan di rumah-rumah dalam rangka mengajarkan al-Qur‟an telah diajarkan tata bunyi bahasa yang disebut makharijul huruf dalam ilmu tajwid. Akan tetapi ilmu tersebut menitik beratkan perhatian hanya untuk kepentingan kemahiran membaca al-Qur‟an, bukan untuk tujuan membina dan mengembangkan kemahiran menggunakan Bahasa Arab. Jadi selama ini tata bunyi kurang diperhatikan dalam mempelajari bahasa Arab. Akibatnya seorang yang sudah lama mempelajari Bahasa Arab masih juga kurang baik dalam pengucapan kata-kata atau kurang cepat memahami kata-kata yang diucapkan orang lain. Akibatnya selanjutnya masih terdapat kesalahan menulis ketika pelajaran didiktekan baik pelajaran Bahasa Arab atau pelajaran- pelajaran lain yang bersangkut paut dengan bahasaArab. b.Kosa Kata. Faktor menguntungkan bagi para pelajar Bahasa Arab dan bagi guru Bahasa Arab di Indonesia adalah segi kosa kata atau perbendaharaan kata karena sudah banyak sekali kata Arab yang masuk ke dalam bahasaIndonesia atau bahasa daerah. Namun demikian, perpindahan kata-kata dari bahasa asing ke dalam bahasa siswa dapat menimbulkan persoalan-persoalan sebagai berikut: a. Pergeseran arti, seperti kata masyarakat yang berasal dari kata musyarakah, dalam Bahasa Arab arti masyarakat yaitu keikutsertaan, partisipasi, kebersamaan, diartikan dengan, begitu juga dengan kata dewan yang berasal dari kata dawan dan seterusnya, b. Lafadznya berubah dari bunyi aslinya seperti berkat dari kata khabar dan seterusnya, c. Lafadznya tetap tetapi artinya berubah, seperti kata kalimah yang berarti susunan kata-kata yang bisa memberikan pengertian, sedangkan arti Bahasa Arab adalah kata- kata.(Acep Hermawan,2011:10). c.Tulisan. Problem dalam tulisan ini, disebabkan karena tulisan Arab berbeda sama sekali dengan bahasa (tulisan latin). Oleh karena itu, tidak mengherankan meskipun sudah duduk di perguruan tinggi, masih ada juga yang membuat kesalahan dalam menulis Arab baik mengenai pelajaran bahasa maupun ayat-ayat al-Qur‟an dan Hadits, baik pada buku catatan ataupun dalam karangan-karangan ilmiah. Adapun problematika dalam tulisan diantaranya: -Sistem penulisan Arab yang dimulai dari kanan ke kiri, dimana, kemampuannya tidak dimiliki oleh kebanyakan orang, dibanding dengan system penulisan latin. -Satu huruf memiliki banyak bentuk yang berbeda tergantung letak huruf itu sendiri dalam kata, ada yang diawal, ditengah, dan diakhir kata. Tentunya berbeda dalam penulisannya, ditambah lagi dengan ragam tulisannya, ada yang harus disambung dan dipisah. -Huruf-huruf yang berdekatan dan menyerupai. -Tidak ada kesesuaian antara tulisan dan pengucapannya. Ada sebagian yang ditulis tetapi tidak diucapkan, seperti: Alif sesudah waw jama’ah atau sebaliknya, diucapkan tetapi tidak ditulis. -Letak Penulisan Hamzah yang bermacam-macam. Ada yang terletak diawal kalimat, ditengah, dan diakhir kalimat atau ditulis pada alif, pada ya, pada waw atau ditulis secara tersendiri. -Penulisan Alif al-Maqsurah, perbedaannya dengan ya. Khususnya, ketika ya ditulis tanpa titik. d.Morfologi. Morfologi adalah studi tentang pola suatu kata yang terdiri dari beberapa perubahan shighat / bentuk kata, menurut sistem yang ada pada morfologi tersebut. Beberapa hal penting problematika morfologi ini diantaranya: -Banyaknya bab dan topik sharf, dimana setiap bab dan topik itu mempunyai kaidah- kaidah tertentu yang terkadang menyita waktu dan menyulitkan. -Integrasi antara bab sharf dan Nahwu, karena terdapat hubungan antara keduanya al- Astrabadi mengemukakan: “Ketahuilah bahwa Tashrif adalah bagian dari Nahwu”. Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa tidak ada batasan jelas antara bab sharf dan bab nahwu, kajian sharf terkadang masuk pada kajian Nahwu,dan begitu sebaliknya,seperti fiil-fiil yang menashabkan 2 maf‟ul masuk dalam objek kajian Nahwu, sedangkan disisi lain masuk dalam objek kajian Sharf. hal ini menimbulkan keraguan dan kebingungan bagi yang mempelajarinya. -Gabungan Sima’ dan Qiyas pada sebagian bab sharf, seperti: satu fiil mempunyai 2 masdar. -Kesulitan dalam tata bunyi/phonetik, berpengaruh kepada kesulitan memahami morfologi/sharf. e.Sintaksis / Gramatikal. Ketika Sharf memperhatikan perubahan pola kalimat, maka nahwu sangat memperhatikan hubungan antara unsur-unsur jumlah seperti hubungannya dengan tekhnik Tarakib sesudah memahami tata bunyi denganbaik, tidak mungkin bisa memahami sebuah kata, apabila tdak memahami tata bunyi sebelumnya,yang pada akhirnya akan memahami sebuah pola kalimat. Problematika sintaksis ini tidak seberat problematika morfologi. Beberapa problematika sintaksis, diantaranya: -Perbedaan pola jumlah dalam Bahasa Arab dari pola jumlah yang dipelajari peserta didik dalam pembelajaran bahasa asing lainnya. -I‟rab atau ciri-ciri i‟rab yang tidak ditemui dalam bahasa-bahasa asing lainnya, memberikan kesan sulit dalam memahami Bahasa Arab. -Perbedaan susunan kalimat dengan bahasa lainnya. f.Semantik. Beberapa problema semantik diantaranya: -Makna kalimat yang bermacam-macam dengan dilalah yang beraneka ragam. -Banyaknya kata-kata Arab memiliki kelebihan-kelebihan makna dan karakteristik tertentu. -Dilalah suatu kalimat berkaitan dengan morfologi dan sintaksis. 2.Permasalahan Non-kebahasaan. Di antara persoalan nonkebahasaan yang sangat penting dan perlu diungkapkan adalah yang bersifat politis, psikologi, dan metodologis. Kesemuanya akan dibahas berikut ini: a.Posisi marjinal Bahasa Arab. Dalam dokumen Politik Bahasa Nasional (PBN) tahun 1975 (masa orde baru), Bahasa Arab sama sekali tidak disebut. Dalam rumusan mengenai bahasa asing, tertulis “Di dalam hubungannya dengan bahasa Indonesia, seperti bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, dan bahasa lainnya kecuali bahasa Indoonesia dan bahasa daerah serta bahasa melayu, berkedudukan sebagai bahasa Asing. Kedudukan ini didasarkan atas kenyataan bahwa bahasa asing tertentu itu diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan pada tingkat tertentu…” Kedudukan Bahasa Arab sebagai bahasa asing dapat disimpulkan secara implicit dari frasa “dan bahasa lainnya.” Ditinjau dari fungsinya, bahas asing adalah sebagaI: 1) Alat penghubung antar bangsa. 2) alat pembantu pengembangan bahaasa Indonesia, dan 3) Alat pemanfaatan iptek untuk pembangunan Nasional. Fungsi Bahasa Arab seperti telah dipaparkan sebelumnya sudah cukup menjadi alasan untuk tidak memarjinalkannya dalam politik bahasa nasional. Kenyataan seperti itu tampaknya telah mulai disadari sejak bergulirnya masa reformasi. Karena itu, di antara rumusan hasil seminar “Politik Bahasa Nasional” pada tahun 1999 adalah bahwa Bahasa Arab telah didudukkan sebagai bahas asing kedua setelah bahasa Inggris. Di samping berkedudukan sebagai bahasa asing, juga dinyatakan sebagai bahasa agama dan budaya Islam. b.Rendahnya motivasi dan minat kepada Bahasa Arab. Rendahnya minat dan motivasi belajar Bahasa Arab bisa disebabkan oleh beberapa factor. Antara lain rendahnya penghargaan kepada Bahasa Arab yang menurut effendy, disebabkan oleh banyak hal, baik yang objektif maupun yang subjektif, misalnya: -Pengaruh bawah sadar sebagian orang Indonesia (termasuk yang muslim) yang merasa rendah diri dengan segala sesuatu yang berbau Islam dan Arab serta mengagungkan segala sesuatu yang berasal dari Barat. -Sikap Islamophobia, yaitu perasaan cemas dan tidak suka terhadap kemajuan Islam dan umat Islam, termasuk Bahasa Arab karena Bahasa Arab dipandang identik dengan Islam. -Terbatasnya pengetahuan dan wawasan karena kurangnya informasi yang disampaikan kepada khalayak mengenai kedudukan dan fungsi Bahasa Arab. -Kemanfaatan Bahasa Arab dari tinjauan praktis pragmatis memang rendah dibandingkan dengan bahasa asing lain terutama Bahasa Inggris. Kalau memang demikian adanya, antusiasme belajar Bahasa Arab sebagai alat perlu kiranya untuk ditingkatkan. Hal ini bisa dicapai melalui dua cara: langsung dan tidak langsung. -Cara langsung adalah dengan memanfaatkan jasa para Ulama’ untuk menjelaskan arti penting Bahasa Arab dalam upaya mempelajari agama Islam, bekerja di negara Arab dan sebagainya. -Cara tidak langsung. Artinya, ikut serta bersama dai dan ulama menyemarakkan dakwah, mencarikan peluang kerja di Negara Arab, atau memanfaatkan pejabat dan pengusaha untuk menarik investasi dari Negara-negara Arab. Semakin semarak Bahasa Arab dipelajari sebagai alat, maka semakin semarak pula Bahasa Arab dipelajari sebagai tujuan dan sebaliknya. 3.Permasalahan Metodologis. a.Rendahnya keahlian guru Bahasa Arab. Keahlian (professionalism) adalah kualitas dan tindak-tanduk yang merupakan ciri sesuatu profesi atau orang yang berkeahlian. Adapun profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan) tertentu. Guru yang berkeahlian adalah guru yang memiliki kualifikasi pendidikan keguruan yang sesuai dengan bidangnya dan menunjukkan kualitas dan tindak-tanduk yang sesuai dengan tuntunan keahliannya tersebut. Guru Bahasa Arab yang professional harus memiliki kualifikasi sebagai berikut. -Berlatar belakang pendidikan keguruan Bahasa Arab. -Memiliki pengetahuan yang memadai tentang Bahasa Arab dan mahir berbahasa Arab. -Memiliki pengetahuan tentangproses belajar-mengajar Bahasa Arab dan mampu menerapkannya dalam pembelajaran. -Memiliki semangat dan kesadaran untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesinya sesuai dengan perkembangan zaman. b.Kurang tepatnya pendekatan. Kalau kita telusuri perkembangan pembelajaran Bahasa Arab terutama yang brkaitan dengan metode dan pendekatan yang digunakan, mulai dari pengaruh barat di dalam dunia Islam umumnya dan dunia Arab khususnya , haruslah diakui bahwa tidak mudah memperoleh refrensi mengenai perkembangan metode pembelajaran Bahasa Arab yang bersifat spesifik (khas Bahasa Arab). c.Ketidaktegasan dalam sumber seleksi materi. Bahasa Arab fusha dalam perkembangannya mengalami pergolakan-pergolakan, terutama sekali dari pengumulannya dengan Bahasa Arab ‘ammiyah sampai munculnya Bahasa Arab tengah yang kemudian dinamakan Bahasa Arab modern. Kemunculannya ini dapat meredam pergolakan kebahasaan di kalangan Bahasa Arab sendiri. Tetapi pergolakan tetap berlaku di kalangan muslimin dengan motif belajar Bahasa Arab yang telah disebutkan di depan. Yang mengharuskan mereka menguasai dua Bahasa Arab, klasik dan modern. Walhasil, tujuan pengajaran Bahasa Arab memiliki dua arah: Bahasa Arab sebagai tujuan (memahami kemahiran berbahasa) dan Bahasa Arab sebagai alat untuk menguasai pengetahuan lain dengan menggunakan wahana Bahasa Arab. Di samping itu, jenis bahasa yang dipelajari meliputi dua bahasa: klasik dan modern. Penggabungan ini di satu sisi memiliki kelebihan, karena dapat memberdayakan kompetensi peserta didik secara komprehensif. Namun di sisi lain, melahirkan ketidakmenentuan, karena keterbatasan sel-sel otak peserta didik untuk mengakomodasi keduanya secara bersamaan. Tuntutan materi yang serba meliputi dan metodologi yang tentu saja bervariasi untuk sebagian kalangan dipandang melahirkan kegamangan antara keinginan untuk mempertahankan yang lama dan menggunakan yang baru. d.Ketidakpaduan Kurikulum. Perlu diingat bahwasannya Bahasa Arab sebenarnya telah diajarkan oleh lembaga pendidikan Islam, pada umumnya sejak usia taman kanak-kanak walaupun masih sederhana. Tujuan utamanya adalah untuk membaca Al-Qur’an. Ada pula yang sudah mengenalkan kosa kata Arab. Pembelajaran Bahasa Arab secara resmi dimulai sejak anak berada di madrasah tsanawiyah atau sederajat di lembaga pendidikan Islam. Bahasa Arab diposisikan sebagai mata pelajaran wajib. Di sekolah menengah atas di lembaga pendidikan umum, pelajaran Bahasa Arab masuk dalam bahasa pilihan. Sekali lagi, Bahasa Arab diajarkan sejak SLTP sampai perguruan tinggi. Tapi entah mengapa antara kurikulum SLTP/SLTA dengan kurikulum Bahasa Arab di perguruan tinggi tidak terpadu jika dilihat dari penjenjangan yang baik. Mata pelajaran Bahasa Arab (dengan memakai all in one system secara murni) yang diajarkan selama enam tahun, dengan minimal dua jam pelajaran seminggu (setara dengan paling kurang 20 sks dalam enam tahun), diulang lagi pelajarannya di perguruan tinggi, semisal fakultas tarbiyah UIN Sunan Kalijaga dengan bobot delapan sks (bandingkan dengan pembelajaran mata kuliah qiro’ah yang hanya berbobot delapan sks). Kalau saja tidak ada pengulangan seperti itu atau dengan kata lain adanya keterpaduan kurikulum Bahasa Arab, maka keadaannya akan lain. Lembaga pendidikan akan dapat berbuat lebih banyak dengan adanya waktu yang tersedia (Nazri Syakur,2010:57-69). F.Ihtitam. Bahasa Arab merupakan bahasa yang istimewa di dunia ini seperti yang kita ketahui bahwasanya Bahasa Arab tidak hanya merupakan bahasa peradaban, melainkan juga sebagai bahasa persatuan umat Islam di dunia. Bahasa Arab merupakan bahasa al-Qur’an (firman Allah atau kitab pedoman umat Islam) yang memiliki sastra sangat mengagungkan manusia dan manusia tidak mampu menandingi, hal ini berdampak pada kemunculan superioritas sastra dan filsafat bahkan pada sains seperti ilmu matematika, kedokteran, ilmu bumi, serta tata Bahasa Arab pada masa kejayaan Islam setelahnya. Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas Bahasa Arab yang merupakan kelebihan dan tidak ada pada bahasa lainnya, diantaranya yaitu: -Jumlah huruf sebanyak 28 huruf dengan makharij al-huruf (tempat keluarnya huruf) yang tidak ada dalam bahasa lainnya. -I’rab yakni sesuatu yang mewajibkan keberadaan akhir kata pada keadaan tertentu, baik  itu rafa’, nashab, jar, maupun jazm yang terdapat pada isim (kata benda), dan juga pada fi’il (kata kerja). -Ilmu ‘arudi (ilmu notasi syi’ir) yang mana dengan ilmu ini menjadikan syi’ir berkembang dengan perkembangan sempurna. -Bahasa ‘ammiyah dan fush-ha, bahasa ‘ammiyah digunakan dalam berinteraksi jual beli atau berkomunikasi dalam situasi non formal, sedangkan bahasa fush-ha adalah bahasa sastra dan pembelajaran, serta bahasa resmi yang digunakan dalam percetakan. -Adanya huruf dhad yang tidak ada pada bahasa lainnya. -Kata kerja dan gramatikal yang digunakan selalu berubah sesuai dengan subjek yang yang menghubungkan dengan kata kerja tersebut. -Tidak adanya kata yang bersyakal  dengan syakal yang sulit dibaca. -Tidak adanya kata yang mempertemukan dua huruf mati secara langsung. -Sedikit sekali kata-kata yang terdiri dari dua huruf (al-alfadz al-tsuna’iyyah), kebanyakan tiga huruf kemudian ketambahan lagi 1, 2, 3, atau 4 huruf. Sejarah perkembangan Bahasa Arab di Indonesia dimulai sejak masyarakat Indonesia mulai memeluk Islam. Dalam hal ini Bahasa Arab dipelajari semata-mata sebagai alat untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuan Islam. Selain itu banyak sekali mahasiswa Indonesia yang melanjutkan di beberapa perguruan tinggi di Timur Tengah, mereka mempelajari Bahasa Arab sebagai tujuan. Metode pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia yang dikembangkan dipesantren- pesantren dan lembaga pendidikan, termasuk Perguruan Tinggi Islam secara umum masih menitikberatkan pada metode gramatika – terjamah. Permasalahan pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia adalah unsur-unsur yang menjadi penghambat terlaksananya keberhasilan pembelajaran Bahasa Arab, problematika ini diantaranya: problematika linguistik yaitu problematikaphonetik/tata bunyi, kosa kata, tulisan, morfologi, sintaksis, dan semantik. Dan Problematika non linguistik, diantaranya dari unsur guru/pendidik, peserta didik, materi ajar dan media/sarana prasarana, serta sosiokulturalyang bebeda antara Indonesia dan Arab, tentunya mempunyai kondisi sosial yang berbeda yang kan menjadiproblem dalam pembelajaran Bahasa Arab. Mempelajari dan memahami pengetahuan dan ajaran Islam, yang dengannya seseorang akan menjadikannya sebagai way of life, dari sumber aslinya tidak mungkin terjadi kecuali dengan Bahasa Arab, meskipun dalam tingkat minimal. Dengan demikian dapat dikatakan, Bahasa Arab sebagai bahasa agama Islam. Sedemikian erat dan tak terpisahkan hubungan antara Islam dan Bahasa Arab, peranan Bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan menjadi terdesak sehingga kurang dapat perhatian. Karena itu, peringatan terutama kepada pengajar Bahasa Arab “ bangkitkan minat dan gairah belajar untuk mempelajari Bahasa Arab” hendaknya terus disosialisasikan dan dijelaskan. Penjelasan itu harus memuat sejarah perkembangan dan peranan Bahasa Arab terhadap ilmu pengetahuan dunia karena Bahasa Arab telah memberi sumbangan besar dan memegang peranan sangat penting dalam percaturan ilmu pengetahuan dunia. Penulis adalah Dosen STAI Al Muhammad Cepu Blora Bibliografi: Amin Usman, Falsafah Al-Lughoh Al-‘arabiyah, Bandung: PSIBA Press, 1965 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia,Edisi Ketiga, Jakarta: Balai Pustaka. Hermawan, A, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2011. Izzan, Ahmad, Metodologi Penbelajaran Bahasa Arab, Bandung: Humaniora, 2009. Jamaluddin, Problematika Pembelajaran Bahasa dan Sastra, Yogyakarta: Adi Cita karya Nusa, 2003. Machmudah Umi, Abdul Wahab Rosyidi, Active Learning dalam Pembelajaran Bahasa Arab, Malang: UIN Malang Press, 2008, cet.1. Matsna Moh, Karakteristik dan Problematika Bahasa Arab, Jurnal Arabia Vol. I Nomor 1, April-September 1998, Depok: Prodi Arab Fakultas Sastra UI, 1998. Maulana, Ahmad dkk, Kamus Ilmiah Populer, Yogyakarta: Absolut, 2004. M.Echols, John dan Shadily, Hassan. Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia, 2006. Syakur, Nazri, Revolusi Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta: BiPA, 2010. Syuhada, Pembelajaran Bahasa Arab Bagi Muslim Indonesia,Naskah Pidato Ilmiyah Pada Rapat Terbuka Senat UIN Malang, 2006.