Diniyah, Ilmiah, Ukhuwah, dan Amaliyah

Penggunaan ‘Dolanan Mil-milan’ untuk Meningkatkan Pemahaman Operasional Penjumlahan

Tanggal publikasi 10 Juli 2018

Abstraksi

Dunia pendidikan sudah dan semakin maju di sejumlah tempat, tetapi tidak di sejumlah tempat yang lain. Kreatifitas dan inovasi guru dalam pembelajaran semakin dituntut. Abai dalam apa yang menjadi tuntutan dalam dunia pendidikan akan berujung pada ketertinggalan. Pada dasarnya apapun produk kreatif dan inovatif suatu lembaga pendidikan yang mewadahi para guru di dalamnya boleh dilakukan selama hal tersebut positif dan memberikan kemaslahahan. Salah satu dari upaya dimaksud adalah penggunaan media dolanan untuk meningkatkan kemampuan matematik para siswa. Sebagaimana sering dikeluhkan, matematika adalah ikon bagi mata studi yang sulit. Setidaknya ini bagi sementara kalangan. Akan tetapi dolanan tradisional ‘mil-milan’ membuatnya menjadi lebih mudah bagi para siswa.


Latar Belakang

Pendidikan merupakan usaha manusia untuk menyiapkan diri dalam perananya dimasa akan datang. Pendidikan dilakukan tanpa ada batasan usia, ruang dan waktu yang tidak dimulai atau diakhiri di sekolah, tetapi diawali dalam keluarga dilanjutkan dalam lingkungan sekolah dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat, yang hasilnya digunakan untuk membangun kehidupan pribadi, agama, masyarakat, keluarga dan negara.

Merupakan suatu kenyataan bahwa pemerintah dalam hal ini diwakili lembaga yang bertanggung jawab di dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia, akan tetapi pendidikan menjadi tanggung jawab keluarga, sekolah dan masyarakat yang sering disebut dengan Tri Pusat Pendidikan.

 Salah satu keprihatinan yang dilontarkan banyak kalangan adalah mengenai rendahnya mutu pendidikan atau out put yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal. Dalam hal ini yang menjadi kambing hitam adalah guru dan lembaga pendidikan tersebut, orang tua tidak memandang aspek keluarga dan kondisi lingkungannya. Pada hal lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar sangat menentukan terhadap keberhasilan pendidikan.

 Memasuki Semester I Tahun Pelajaran 2015-2016, ketika diadakan Ulangan Tengah Semester di suatu satuan pendidikan (sampel dari Kelas I) mulai tampak timbul suatu masalah. Sewaktu ulangan diselenggarakan pada mata pelajaran Matematika sering terjadi suasana berbeda. Begitu naskah dibagikan, sebagian siswa berteriak-teriak memanggil-manggil ibunya, ada yang garuk-garuk kepala, juga tidak sedikit yang menangis karena merasa tidak bisa mengerjakan. Akhirnya nilai yang diperoleh oleh siswa Kelas I dalam pelajaran matematika khususnya dalam mengoperasionalkan penjumlahan menjadi kurang memuaskan. Nilai dari 37 siswa sebagai berikut: (1) 80-100 nilai amat baik ada 10 siswa =27 %. (2) 55-79 nilai cukup ada 7 siswa =10 %. (3) 0-54 nilai kurang ada 20 siswa =55 %. Dengan kondisi nilai tersebut di atas guru sebagai peneliti merasa pembelajaran matematika di Kelas I kurang berhasil.

Selama ini peneliti sudah menggunakan berbagai macam metode untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, tetapi hasilnya masih belum memuaskan. Agaknya memang strategi / pendekatan-pendekatan saja belum cukup untuk menghasilkan perubahan. Meier (2002:54) mengatakan bahwa belajar adalah berkreasi bukan mengkonsumsi. Pengetahuan bukanlah suatu yang diserap oleh pembelajaran, melainkan sesuatu yang diciptakan oleh pembelajar.

Pembelajaran terjadi ketika seorang guru memadukan pengetahuan dan keterampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Belajar berharfiah adalah menciptakan makna baru, sejauh ini pendidikan kita didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. Kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan strategi belajar baru yang memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar tidak mengharuskan siswa menghafalkan fakta-fakta tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.

Dalam upaya itu siswa perlu guru sebagai pengarah dan pembimbing. Dalam kelas tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuan. Maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi dengan alat bantu yang dikenal siswa di sekitarnya, dari pada memberi informasi. Memang pendidikan siswa Kelas I Sekolah Dasar masih identik dengan dunia bermain, karena siswa Kelas I belum dapat melepas keterkaitannya dengan pendidikan Taman Kanak Kanak sebelumnya, karena itu permainan lingkungan tempat tinggal sangat membantu proses pembelajaran siswa.

Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas peneliti ingin meningkatkan kemampuan siswa Kelas I Sekolah Dasar dalam mengoperasionalkan penjumlahan pada mata pelajaran Matematika dengan bantuan dolanan mil-milan.


Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaat

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka perumusan masalahnya sebagai berikut: Bagaimana dolanan mil-milan mampu meningkatkan kemampuan siswa Kelas I SDN Ngujung II Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro dalam mengoperasionalkan penjumlahan pada mata pelajaran Matematika. Perumusan masalah ini didesain sebagai sebentuk entitas yang diharapkan dapat menjadi arah untuk merumuskan pemecahannya dengan hasil pembuktian bahwa dengan bantuan dolanan mil-milan di sekitar sekolah siswa Kelas I Ngujung II Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro mampu mengoperasionalkan penjumlahan pada mata pelajaran Matematika.

Berpijak dari permasalahan yang diteliti maka tujuan  penelitian ini  adalah: meningkatkan kemampuan belajar siswa dalam mengoperasionalkan penjumlahan dengan bantuan dolanan mil-milan.

Dari hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk berbagai pihak, antara lain:

  1. Siswa
    Mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam mengoperasionalkan penjumlahan pada mata pelajaran Matematika, mempermudah siswa mencari alat bantu pembelajaran dengan dolanan mil-milan di sekitar Sekolah.
  2. Guru sebagai peneliti
    Meningkatkan profesionalisme dalam bidang pendidikan.
  3. Lembaga
    Memberi sumbangan yang berharga bagi lembaga bahwa benda-benda di sekitar kita dapat dijadikan sebagai alat bantu pembelajaran, meringankan beban lembaga karena benda-benda di sekitar kita mudah dicari dan tidak memerlukan beaya yang mahal untuk membelinya.
  4. Orang tua siswa
    Meringankan biaya orang tua siswa karena benda-benda di sekitar sekolah tidak harus dibeli.

Pengertian Dolanan Mil-milan

Mengacu kepada kata dolanan, tidaklah salah jika kita dengan sangat mudah menduga bahwa mil-milan merupakan sejenis permainan. Jenis permainan ini tentu bukan kelasnya game modern yang dikemas untuk dimainkan dengan peralatan elektronik semacam handphone, gadget, komputer dlsb. Lebih tepatnya, dolanan mil-milan termasuk permainan tradisional yang kini semakin jarang (untuk mengatakan tidak pernah) lagi dimainkan anak-anak modern. Atau bukan tidak mungkin para orang tua generasi sekarang bahkan tidak tahu permainan ini.

Peneliti sendiri tidak tahu pasti siapa dan kapan mil-milan ini diciptakan. Di masa usia SD, peneliti bersama dengan kawan-kawan sering memainkannya. Jangankan gadget dan smartphone yang menjadi pegangan anak sekolah sekarang, di masa itu tentu saja anak-anakpun sangat jarang memegang alat main yang dibeli. Hal ini tentu saja tidak lepas dari faktor keterbatasan-keterbatasan yang ada. Namun kondisi demikian justru menjadikan anak-anak masa lalu kemudian lebih aktif menciptakan permainan-permainan dengan bahan seadanya yang ada di sekitar mereka. Termasuk dolanan mil-milan ini.

Permainan mil-milan tebuat dari lidi dipotong-potong menjadi kecil dengan panjang kira-kira 5-10 cm. Ada tiga jenis potongan yang dibuat, berupa potongan lurus, potongan yang ditekuk satu, dan potongan yang ditekuk dua. Perbedaan jenis potongan tersebut bersesuaian dengan perbedaan point. Potongan lurus bernilai satu, yang bertekuk satu bernilai lima, sedangkan yang bertekuk dua bernilai sepuluh point. Seberapa banyak jumlah potongan tidak ditentukan pasti. Namun semakin banyak jumlah potongan akan sangat berpengaruh terhadap tingkat kerumitan permainan yang diselenggarakan.

Lalu bagaimana memainkannya? Dolanan mil-milan biasa dimainkan oleh beberapa anak sekaligus. Permainan ini minimal dimainkan dua anak. Adapun batasan seberapa banyak anak dapat sekaligus ikut terlibat dalam permainan tidak ada batasan.

Giliran atau urut-urutan siapa yang menjadi pemain ditentukan dengan cara icu / pingsut atau hom pimpa. Anak yang menang duluan dalam icu mendapat giliran lebih awal. Urutan berganti seterusnya dan diulang hingga beberapa kali putaran. Jumlah putaran permainan sangat tergantung kesepakatan bersama.

Area permainan biasanya dibatasi pada luasan bujur sangkar. Bisa sebuah ubin / tegel berukuran 20 x 20 cm, atau bisa juga dibuat bujur sangkar pada lapisan keras maupun kertas tebal. Intinya seberapa luas area permainan tidak ada ketentuan baku. Permainan ini memang memiliki banyak sisi fleksibelitas. Mungkin hal ini memang disengaja agar kreativitas dan imajinasi anak-anak tidak terbelenggu, bahkan justru anak-anak dibebaskan untuk menciptakan aturan-aturan bersama yang juga disepakati secara bersama-sama.

Pengertian tentang Kemampuan Operasional Penjumlahan

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, peserta didik dan guru sebagai pendidik dituntut untuk memiliki kemampan yang baik karena antar siswa dan guru sebagai pendidik merupakan suatu satuan interaksi tersendiri.

Menurut WJS Purwodarminto (1988:553), kemampuan berasal dari kata ‘mampu’ yang artinya kuasa (bisa / sanggup) melakukan sesuatu. Dari definisi di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa, kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan untuk melakukan sesuatu kegiatan.

Dalam pengembangan pembelajaran guru harus memiliki kemampuan untuk memilih strategi, metode, alat pembelajaran dan teknik-teknik pembelajaran yang, efektif, efisien sesuai dengan karakteristik siswa. Dalam hal ini sekolah diberi kebebasan untuk memilih strategi, metode dan teknik-teknik pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa, karakteristik mata pelajaran, karakteristik guru dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah.

Dari pendapat di atas alat bantu pembelajaran tidak harus membeli dengan harga-harga yang mahal dan modern, tetapi dapat menggunakan benda-benda disekitar kita.

Sementara itu pengertian mengoperasionalkan berasal dari kata ‘operasi’ yang artinya pelaksanaan rencana yang telah dikembangkan, maka apabila mengoperasionalkan berarti melaksanakan suatu kegiatan yang telah direncanakan (Purwodarminto, 1988:627).

Apabila dikaitkan dengan mengoperasionalkan penjumlahan maka melaksanakan suatu kegiatan menjumlah suatu bilangan. Mengoperasionalkan suatu kegiatan tidaklah mudah. Guru sebagai pendidik harus mampu memilih strategi dan metode yang tepat untuk melaksanakannya.

Cara Memainkan

Adapun cara memainkan dolanan mil-milan tersebut sangat mudah. Anak yang mendapatkan giliran bermain menempatkan semua potongan lidi yang telah dibuat di genggaman tangannya. Genggaman tersebut kemudian disebarkan semerata mungkin di area permainan yang telah disepakati. Tidak boleh ada satupun potongan lidi yang keluar dari area permainan. Jika ada yang keluark area, pemain yang bersangkutan diwajibkan menebar ulang atau bisa juga diberlakukan aturan gugur haknya untuk bermain pada putaran tersebut.

Begitu potongan-potongan lidi tersebar di area permainan, maka potongan-potongan tersebut akan berserakan. Ada yang terpisah dari potongan yang lain, ada yang tumpang tindih, bahkan ada yang saling mengkait satu sama lain. Tugas si pemain adalah mengambil satu per satu potongan lidi dengan syarat pada saat mengambil, menggeser, atau menyentuh suatu potongan lidi tidak boleh menyebabkan potongan yang lain bergerak. Jika sampai terjadi gerakan potongan lain inilah yang diistilahkan sebagai “mil !” Dari sinilah nama permainan ini berasal.


Rancangan Pembelajaran

Dalam penelitian ini guru di kelas sebagai pengajar dan permainan dilakukan seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobyektif mungkin demi kevalidan data.

Penelitian ini akan dihentikan apabila ketuntasan belajar secara kalasikal telah mencapai 85% atau lebih. Jadi dalam penelitian ini, peneliti tidak tergantung pada jumlah siklus yang harus dilalui.

Tempat, waktu dan subyek penelitian

Tempat penelitian adalah di SDN Ngujung II Kecamatan Malo  Kabupaten Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016. Sementara waktu penelitian dilakukan pada bulan Agustus semester ganjil tahun Pelajaran 2015/2016.

Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah siswa-siswi  Kelas I SDN Ngujung II Kecamatan Malo  Kabupaten Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016.

Rancangan Penelitian

Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart  (dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan.

Prosedur Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang diinginkan dalam pembelajaran Matematika khususnya mengopersionalkan penjumlahan bilangan dilakukan dengan teknik observasi, diskusi dan evaluasi hasil belajar yang hasilnya akan dilaksanakan dalam bentuk skor. Sebelum dilaksanakan Pelaksanaan Tindakan Kelas peneliti mengidentifikasi masalah pembelajaran Matematika  Kelas I dilanjutkan dengan upaya pemecahan masalah yang dihadapi guru dan siswa.

Diskusi dilaksanakan bersama pengamat yang membantu pelaksanaan kegiatan penelitian, untuk mencatat semua  kegiatan siswa, kreatifitas siswa, perhatian siswa terhadap pelajaran, penggunaan alat-alat bantu pembelajaran, kedisiplinan siswa, keberanian siswa dalam menyelesaikan masalah, keberanian dalam mengemukakan pendapat, penilaian terhadap siswa. Kegiatan akhir pembelajaran berupa penilaian yang ditentukan dengan skor dengan tujuan untuk mengukur keberhasilan pembelajaran dalam 1 pertemuan.

Dari masing-masing pertemuan kemudian diakumulasikan dalam bentuk urutan data untuk mengetahui sejauh mana perkembangan pembelajaran Matematika dalam setiap pertemuan.

Pelaksanaan Pembelajaran

Tahap-tahap penelitian

Penelitian Tindakan Kelas dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus diawali dengan, perencanaan, penerapan, tindakan dan observasi, serta diakhiri dengan refleksi. Tahap-tahap penelitian dirinci sebagai berikut:

  1. Observasi awal ( pra tindakan )
    Tahap ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh siswa Kelas I yang berkaitan dengan pembelajaran Matematika.
    Kegiatan tersebut diantaranya:
    » Observasi terhadap pembelajaran Matematika Kelas I, buku-buku yang digunakan dan alat-alat bantu pembelajaran yang digunakan.
    » Meneliti siswa-siswa Kelas I secara individual dan mencatat semua kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa.
    » Melakukan diskusi dengan pengamat kemudian menentukaan alat bantu pembelajaran yang tepat, mudah didapat dan tidak mahal.
    » Memilih dan menentukan topik dari pelajaran Matematika Kelas I yang akan digunakan untuk Penelitian Tindakan Kelas.
    » Menentukan waktu pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas.

  2. Tindakan Siklus I

    Perencanaan
    » Menentukan materi pembelajaran penjumlahan bilangan dengan hasil kurang dari 20.
    » Menyusun rencana pembelajaran.
    » Menentukan alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran.
    » Menyusun Lembar Kegiatan Siswa.
    » Melakukan pembelajaran dalam siklus I menjadi 1 pertemuan.
    » Melakukan evaluasi siswa.

    Tindakan
    » Siswa melakukan kegiatan tentang proses penjumlahan bilangan dengan dolanan mil-milan.
    » Siswa mengerjakan LKS secara individual.
    » Peneliti melakukan bimbingan dibantu dua orang pengamat

    Pengamatan
    » 
    Aktivitas dan tingkah laku siswa selama proses pembelajaran dicatat oleh peneliti dan pengamat sebagai bahan diskusi.
    » Pengamat dan peneliti melakukan diskusi bersama untuk melakukan kegiatan selanjutnya.

    Refleksi
    » 
    Catatan dari pengamat / observer dikaji kembali sebagai bahan perbaikan siklus berikutnya.
    » Mengadakan remidial terhadap siswa yang mengalami keterlambatan belajar.

  3. Tindakan Siklus II

    Perencanaan
    » 
    Menentukan rencana pembelajaran untuk siklus II tentang penjumlahan bilangan pada pelajaran Matematika.
    » Menyusun rencana pembelajaran.
    » Menentukan alat bantu pembelajaran.
    » Menyusun Lembar Kegiatan Siswa.
    » Melakukan evaluasi belajar siswa.

    Tindakan
    » 
    Siswa mengerjakan LKS secara individual.
    » Peneliti dibantu pengamat membimbing siswa dalam melakukan pembelajaran.

    Pengamatan
    » 
    Melakukan kegiatan pengamatan selama proses pembelajaran.
    » Mencatat semua kegiatan siswa selama proses pembelajaran.
    » Melakukan diskusi bersama peneliti.

    Refleksi
    » 
    Melakukan kegiatan remidial terhadap siswa yang mengalami keterlambatan belajar.
    » Proses pembelajaran berlangsung aktif.
    » Hasil catatan dikaji kembali sebagai acuan tindakan berikutnya.

Evaluasi Kreatifitas Pembelajaran

  1. Instrumen

    Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

    » Silabus yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar.

    » Rencana Pelajaran Pembelajaran (RPP) yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar.

    » Lembar Kegiatan Siswa yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil eksperimen.

    » Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar, berupa: lembar observasi pembelajaran dengan dolanan mil-milan dan lembar observasi aktivitas siswa dan guru, untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran.

    » Menyususn Tes Formatif. Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tes Formatif ini diberikan setiap akhir putaran.

  2. Analisis data

    Data hasil penelitian yang terkumpul berasal dari data observasi, diskusi dan evaluasi. Tehnik analisis yang digunakan dalam penelitian mengikuti langkah Hopkins (1993:151) dengan tiga tahap analisis yaitu tahap kategorisasi, validasi dan intepretasi data.

  3. Pengecekan keabsahan data 

    Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan memadukan hasil observasi, hasil-hasil catatan dari pengamat beserta evaluasi yang dilakukan. Untuk menjaga keabsahan data perlu dilakukan diskusi-diskusi dengan pengamat sehingga kesimpulan yang diperoleh bisa tepat sesuai dengan hasil penelitian.

  4. Teknik analisis data

    Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
    Analisis ini dengan menggunakan statistik yaitu:

    » Untuk menilai ulangan atau Tes Formatif. Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata Tes Formatif.

    MathML (base64):PG1hdGg+CiAgICA8bXJvdz4KICAgICAgICA8bXJvdz4KICAgICAgICAgICAgPG1pPlI8L21pPgogICAgICAgIDwvbXJvdz4KICAgIDwvbXJvdz4KICAgIDxtbz49PC9tbz4KICAgIDxtZnJhYz4KICAgICAgICA8bXJvdz4KICAgICAgICAgICAgPG1yb3c+CiAgICAgICAgICAgIDwvbXJvdz4KICAgICAgICAgICAgPG1yb3cgc3R5bGU9Im1hcmdpbi10b3A6MXB4OyI+CiAgICAgICAgICAgICAgICA8bXJvdyBtYXRoc2l6ZT0iMjAiPgogICAgICAgICAgICAgICAgICAgIDxtbz4mI3gyMjExOzwvbW8+CiAgICAgICAgICAgICAgICAgICAgPG1yb3cgbWF0aHNpemU9IjQwIj4KICAgICAgICAgICAgICAgICAgICAgICAgPG1pPlg8L21pPgogICAgICAgICAgICAgICAgICAgIDwvbXJvdz4KICAgICAgICAgICAgICAgIDwvbXJvdz4KICAgICAgICAgICAgICAgIDxtcm93PgogICAgICAgICAgICAgICAgPC9tcm93PgogICAgICAgICAgICA8L21yb3c+CiAgICAgICAgPC9tcm93PgogICAgICAgIDxtcm93PgogICAgICAgICAgICA8bXJvdz4KICAgICAgICAgICAgICAgIDxtcm93IG1hdGhzaXplPSIyMCI+CiAgICAgICAgICAgICAgICAgICAgPG1vPiYjeDIyMTE7PC9tbz4KICAgICAgICAgICAgICAgIDwvbXJvdz4KICAgICAgICAgICAgICAgIDxtcm93PgogICAgICAgICAgICAgICAgICAgIDxtcm93PgogICAgICAgICAgICAgICAgICAgICAgICA8bWk+TjwvbWk+CiAgICAgICAgICAgICAgICAgICAgPC9tcm93PgogICAgICAgICAgICAgICAgPC9tcm93PgogICAgICAgICAgICA8L21yb3c+CiAgICAgICAgPC9tcm93PgogICAgPC9tZnJhYz4KPC9tYXRoPg==

    R = Nilai rata-rata tes formatif
    Σ X = Jumlah semua nilai siswa
    Σ N      = Jumlah siswa

    » Untuk ketuntasan belajar. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar Kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus:

Deskripsi Hasil Pembelajaran

Data yang akan disajikan dipaparkan berdasarkan pelaksanaan penelitian dalam siklus yang akan diperinci per pertemuan. Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan dari kegiatan  observasi atau pra tindakan kemudian dilanjutkan pada kegiatan tiap pertemuan dalam siklus-siklus yaitu siklus I dan II.

Paparan data dan temuan penelitian pada  observasi pra tindakan

Kegiatan awal penelitian diawali dengan observasi pada Kelas I SDN Ngujung II pada hari Selasa, Tanggal 28 Juli 2015. Secara kebetulan pada hari  tersebut jam ke I adalah mata pelajaran Matematika. Sebagaimana yang dijelaskan peneliti pada latar belakang dalam penelitian ini bahwa siswa Kelas I banyak yang berteriak-teriak memanggil-manggil ibunya, menangis dan menggaruk-garuk kepala karena mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal. Memang bila dilihat dari latar belakang siswa yang masuk ke SDN Ngujung II sangat heterogen, karena heterogenitas  latar belakang siswa maka heterogen pula kemampuan dalam pola berfikirnya.
Nilai dari hasil pekerjaan siswa tersebut kemudian peneliti ambil datanya untuk dianalisis, kesimpulan yang diperoleh yaitu: Nilai   >  75  sebanyak  4 siswa   =   36 %   dari keseluruhan siswa dan Nilai  < 75  sebanyak  7   siswa  =    64  %  dari keseluruhan siswa.
Peneliti mengambil standar nilai 75 terendah, karena nilai 75 di atas dari nilai cukup untuk suatu keberhasilan pembelajaran. Namun karena siswa Kelas I SDN Ngujung II nilai  > 75  sebanyak 36 % berarti pembelajaran Matematika di Kelas I belum berhasil.
Materi pelajaran Matematika Kelas I tentang bilangan berkisar pada deret hitung 1sampai 20. Kemudian peneliti bersama rekan-rekan yang lain mencoba memecahkan  masalah ini dengan cara memberi soal yang sejenis dengan materi dalam ulangan. Akhirnya ada siswa yang bertanya: “Diapakan  Pak ini ?” atau “Dengan apa Pak ?”.
Apabila diresapi pertanyaan  siswa tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa siswa belum mampu mengoperasionalkan penjumlahan bilangan tanpa alat bantu pembelajaran.
Berangkat dari hasil observasi inilah peneliti bersama rekan-rekan guru berdiskusi bersama dan dicapai suatu kesimpulan bahwa untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengoperasionalkan penjumlahan bilangan memerlukan alat bantu pembelajaran. Alat bantu pembelajaran tidak perlu mahal cukup dengan menggunakan dolanan mil-milan.

Paparan data dan temuan pada kegiatan Siklus I

Sesuai dengan tahap pembelajaran, penjumlahan bilangan dilakukan dalam 2 siklus.

Siklus I

Perencanaan

» Menentukan materi dalam siklus I yaitu penjumlahan bilangan dengan pola mendatar bilangan dengan hasil kurang dari 20.

» Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

» Menetapkan tujuan pembelajaran dalam Siklus I yaitu: siswa dapat membilang dengan bilangan 1 sampai 20 dan siswa dapat mengoperasionalkan penjumlahan bilangan dengan pola mendatar dengan alat bantu dolanan mil-milan di sekitar sekolah.

» Mempersiapkan Lembar Kegiatan Siswa.

» Mempersiapkan perangkat dan alat bantu pembelajaran dolanan mil-milan.

» Mempersiapkan alat evaluasi.

» Mempersiapkan lembar pengantar.

Waktu penelitian Siklus I

Dalam Siklus I, Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan pada hari Senin, Tanggal 3 Agustus  2015 dengan waktu 2 x 35  menit.

Apersepsi dengan alokasi waktu 5 menit diisi dengan kegiatan

  1. Peneliti masuk kelas dengan 1 orang pengamat tepat pukul 07.00 dilanjutkan dengan ucapan salam.
  2. Peneliti mengajak subyek penelitian untuk berdoa bersama-sama.
  3. Peneliti mengabsen subyek penelitian satu persatu.
  4. Peneliti mengulas kembali pelajaran yang lalu dengan mengembangkan pola tanya jawab mengenai penjumlahan bilangan tanpa dolanan mil-milan untuk mengukur sejauh mana penguasaan anak-anak tentang penjumlahan bilangan.

Pelaksanaan proses belajar mengajar dengan alokasi  waktu 35 menit

  1. Peneliti mengajak bersama-sama menghitung dolanan mil-milan yang diberikan oleh peneliti.
  2. Peneliti menjelaskan cara mengoperasionalkan penjumlahan bilangan dengan alat bantu dolanan mil-milan.
  3. Peneliti membimbing siswa bersama-sama tentang penjumlahan bilangan dengan alat bantu benda dolanan mil-milan.
  4. Beberapa siswa diberi kesempaatan mendemonstrasikan penjumlahan bilangan dengan alat bantu dolanan mil-milan di depan kelas diikuti oleh seluruh siswa dalam kelas.
  5. Siswa mengerjakan Lembar Kegiatan Siswa secara individual dengan alokasi waktu 10 menit.
  6. Peneliti berkeliling dengan dibantu pengamat untuk memberi bimbingan siswa dalam mengerjakan LKS secara individual.

Evaluasi  dengan  alokasi waktu 20 menit

  1. Alat evaluasi berupa lembar soal dengan sistim penilaian betul 1 nilai 1, salah 1 nilai kurang 1.
  2. Jumlah soal 10 nomor.
  3. Evaluasi dilaksanakan dengan tujuan untuk mengukur keberhasilan selama proses pembelajaran tentang penjumlahan bilangan dolanan mil-milan.
  4. Hasil evaluasi digunakan sebagai pembanding dengan evaluasi berikutnya untuk mengetahui keberhasilan dan ketuntasan belajar.

Tindakan

  • Siswa melakukan proses penjumlahan bilangan dengan menggunakan dolanan mil-milan .
  • Peneliti melakukan bimbingan untuk mengoperasionalkan penjumlahan bilangan dengan dolanan mil-milan sambil melakukan penilaian proses.
  • Siswa mengerjakan LKS secara individual dengan dolanan mil-milan .
  • Siswa mengerjakan soal evaluasi.

Pengamatan

  • Aktivitas dan tingkah laku siswa selama proses belajar mengajar berlangsung dicatat oleh peneliti dibantu oleh pengamat.
  • Hasil catatan selama pengamatan digunakan sebagai bahan diskusi.
  • Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi Tes Formatif I.

Adapun data hasil penelitian pada Siklus I adalah sebagai berikut :
Nilai Satria 60 (TT/Tidak Tuntas),
nilai Febrian 90 (T/Tuntas),
nilai Teguh Prastyo 75 (T),
nilai Nur Zeva Putra Pratama 70 (TT),
nilai Muhammad Jauhar M I 75 (T),
nilai Sukacung 75 (T),
nilai Listiana 75 (T),
nilai Yana 80 (T),
nilai Lutviana 70 (TT),
nilai Siska Anggraeni 80 (T), dan
nilai Julianan 50 (TT).

Jumlah skor 800,
jumlah skor maksimal ideal 110,
rata-rata skor tercapai 72,7.

Rekapitulasi hasil tes :
Nilai rata-rata Tes Formatif 73,
jumlah siswa yang tuntas belajar 7,
persentase ketuntasan belajar 63,6 %.

Dari data di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan dolanan mil-milan diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 72,7 dan ketuntasan belajar mencapai 63,6% atau ada 7 siswa dari 11 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada Siklus I secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 63,6% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksud dan digunakan guru dengan menerapkan dolanan mil-milan.

Refleksi

  • Catatan dari observer direnungkan dan dikaji kembali untuk bahan perbaikan pada siklus berikutnya.
  • Mengadakan remidial terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar.
  • Semua siswa mampu mengoperasionalkan penjumlahan  bilangan dengan hasil kurang dari 20 melalui alat bantu dolanan mil-milan .
  • Nilai yang diperoleh selama evaluasi oleh siswa telah memenuhi standar terendah > 75 sebagai tolok ukur ketuntasan belajar.

Siklus II

Sebagai mana yang dijelaskan dimuka bahwa siklus II dilaksanakan dalam 1 pertemuan yaitu :

Perencanaan.

–  Menentukan materi pembelajaran tentang penjumlahan dengan pola bersusun, mencari suku yang belum diketahui dan soal cerita dengan menggunakan alat bantu dolanan mil-milan.

–  Format pertanyaan: Andik mempunyai 4 mil-milan berwarna merah, 3 mil-milan berwarna hijau dan 5 mil-milan berwarna biru. Berapakah mil-milan Andik semuanya ?.

–  Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelanjaan.

–  Menetapkan tujuan pembelajaran, yaitu: siswa dapat mengoperasionalkan penjumlahan bilangan dengan pola bersusun dan menyelesaikan soal dalam bentuk mencari suku yang belum diketahui dengan alat bantu dolanan mil-milan.

–  Waktu pelaksanaan penelitian Siklus II pada hari Senin, Tanggal 10Agustus 2015 jam I  dan II dengan alokasi waktu 35 x 2 jam.

–  Menyiapkan alat evaluasi.

–  Mempersiapkan lembar pengamatan.

Pelaksanaan.

Apersepsi dengan alokasi waktu 10 menit digunakan untuk:

a-Mengulas materi penjumlahan secara singkat sambil tanya jawab.

b-Memberi kesempatan kepada siswa untuk tampil di depan kelas menyelesaikan soal yang diberikan oleh peneliti.

Proses belajar mengajar dengan waktu selama 45 menit digunakan untuk:

a-Memperkenalkan kepada siswa tentang penjumlahan  bilangan antara 2 sampai 3 angka dengan pola bersusun.

b-Menjelaskan penjumlahan  bilangan pola bersusun melalui alat bantu dolanan mil-milan.

c-Memberi kesempatan kepada siswa untuk tampil di depan kelas menyelesaikan soal dengan alat bantu dolanan mil-milan.

d-Peneliti dibantu pengamat membimbing siswa satu persatu dalam menyelesaikan Lembar Kegiatan Siswa.

Tindakan.

  • Siswa melakukan penjumlahan bilangan dengan dolanan mil-milan.
  • Siswa mengerjakan LKS di bawah bimbingan peneliti dibantu pengamat.
  • Peneliti dan pengamat mencatat semua tingkah laku / kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
  • Melakukan diskusi bersama-sama membahas temuan.
  • Mengambil kesimpulan bersama-sama.
  • Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi Tes Formatif II.

Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut: Nilai Satria 75 (T/Tuntas), nilai Febrian 100 (T), nilai Teguh Prastyo 80 (T), nilai Nur Zeva Putra Pratama 90 (T), nilai Muhammad Jauhar M I 85 (T), nilai Sukacung 75 (T), nilai Listiana 90 (T), nilai Yana 100 (T), nilai Lutviana 80 (T), nilai Siska Anggraeni 90 (T) dan nilai Julianan 70 (T). Jumlah skor 935, jumlah skor maksimal ideal 1100 dan rata-rata skor tercapai 85. Rekapitulasi hasil tes:

  • Nilai rata-rata Tes Formatif 85, jumlah siswa yang tuntas belajar 10 dan persentase ketuntasan belajar 90,9 %.

Dari data di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 85 dan ketuntasan belajar mencapai 90,9% atau ada 10 siswa dari 11 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah megalami peningkatan dari siklus I.

Refleksi :

–  Dolanan mil-milan sangat membantu proses pembelajaran.

–  Ketuntasan belajar siswa semakin meningkat.

–  Dengan bantuan / bimbingan peneliti dan pengamat siswa yang mengalami keterlambatan berfikir mengalami kemajuan dalam belajar.

–  Melakukan remidial terhadap siswa mengalami keterlambatan belajar.

Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran dolanan mil-milan . Dari data-data yang telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut:

  • Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik, meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar.
  • Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung.
  • Hasil belajar siswa pada Siklus II mencapai ketuntasan.

Pembahasan

Ketuntasan hasil belajar siswa

Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dolanan mil-milan  memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I dan II) yaitu masing-masing 63,6%, dan 90,9%. Pada Siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dolanan mil-milan dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

Kesimpulan

Pada bab ini akan disajikan pembahasan mengenai paparan data temuan penelitian sebelumnya dan dapat disimpulkan:

Penggunaan dolanan mil-milan mampu meningkatkan kemampuan belajar. Hal ini tebukti dari hasil evaluasi pembelajaran dalam Siklus I dengan standar nilai terendah 75, siswa yang memperoleh nilai > 75 sebanyak 7 siswa atau kurang lebih 63,6 % sedangkan hasil evaluasi pada Siklus II dengan standar nilai yang sama, sebanyak 10 siswa memperoleh nilai > 75 atau 90,9 %.

Saran

Dengan mengacu pada temuan dari penelitian tindakan ini disampaikan beberapa saran. Penyampaian saran ini merupakan sumbangan pemikiran bagi peneliti untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran di Kelas I SD, khususnya pembelajaran Matematika. Saran-saran yang dikemukakan sebagai berikut:

  1. Pendidikan yang dilakukan harus berwawasan lingkungan, karena lingkungan banyak menyediakan alat bantu pembelajaran.
  2. Alat bantu pembelajaran tidak harus dibeli dengan harga yang mahal, benda-benda lingkungan sekitar dapat diperoleh dengan mudah dan dikenal oleh siswa.
  3. Hendaknya siswa diberi kesempatan sendiri untuk mencari alat bantu dolanan mil-milan di sekitar sekolah sesuai dengan keinginannya.

Karena alat bantu dolanan mil-milan bersifat hanya sementara ajaklah siswa sekali waktu mengoperasionalkan penjumlahan tanpa alat bantu.

Bibliografi:

Depdikbud, Kurikulum 1994, Tahun 1994.

Hopkins, Teknik Pendidikan, 1993.

Maier, The acelerated learning hand book, 2000

WJS Purwodarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988.

Sugiarti, Penelitian Tindakan Kelas, 1997.