Diniyah, Ilmiah, Ukhuwah, dan Amaliyah

Deradikalisasi Ideologi Gerakan Islam Transnasional Radikal

Tanggal publikasi 21 Oktober 2018

Deradikalisasi Ideologi

Gerakan Islam Transnasional Radikal

Oleh : M. Syaihul Anwari, M. MPd

 

  1. Pendahuluan

Siapa yang mengira jika peristiwa11 September yang meruntuhkan WorldTrade Center di Amerika Serikat, ternyatamemicu kegaduhan di Indonesia?Radikalisme di kalangan para Islamis,tumpah ruah seperti laron-laron yangterbang dan hinggap di sembarang tempat. Al-Qaedah yang kerapkalidianggap sebagai pihak yang palingbertanggungjawab atas peristiwa ini,

telah menebar ideologi kekerasan yangkonon katanya demi memperjuangkanagama (Paul Kalmonick, 2012; Lihat jugaRohan Gunaratna, dalam Cornelia Beyerdan Michael Bauer, (eds.), 2009). PecahlahBom Bali pada 12 Oktober 2002, oleh parateroris atas namajihad fi sabilillah (KumarRamakrishna dan See Seng Tan, 2003).Lebih dari sepuluh tahun kemudian,aksi-aksi radikal tetap marak di Indonesiameskipun dalam skala yang lebih kecil.Misalnya, bom kecil yang meledak diVihara Ekayana Graha, Kebon Jeruk,Jakarta Barat pada 4 Agustus 2013 (Metro TV, diakses Tanggal 1 September 2013).Lagi-lagi Islam sebagai agama, turutdipersalahkan oleh banyak pihak.Secarakritis, pihak yang paling berdosa adalahmedia-media yang sengaja memungutuntung, dari hujatan-hujatan terhadapIslam pasca 11/9 (Ervand Abrahamian,2003: 529-544).

Islam segaja diidentikkandengan kekerasan, intimidasi, teror dansegala hal lain yang berbau tribalismedehumanistik. Tentu saja hal inimendapatkan serangan balik yang tajam,dari mereka yang lebih jernih memandang Islam sebagai agama.Komentar yanglebih obyektif datang dari Graham E.20 Syamsul Arifin & Hasnan BachtiarHARMONI September - Desember 2013Fuller. Mantan petinggi intelijen negaraAmerika Serikat ini mengungkapkanbahwa, secara historis justru malapetakayang lebih dasyat akan terjadi bila tidakada Islam dan pekerja sosial sepertiNabi Muhammad. Pasti perbudakan,pelanggaran hak asasi dan keadilan sosialtidak pernah diperjuangkan di sepanjangsejarah Arab-Islam (Graham E. Fuller,2010).

Seiring dengan keyakinanakademik ini, sarjana terkemuka AmerikaSerikat, John L. Esposito (2002), merilissebuah buku tentang agama Islam, yangmengandung substansi yang lebih sejuk,damai dan humanis, yang bertajuk “WhatEveryone Needs to Know About Islam:Answers to Frequently Asked Questionsfrom One of America’s Leading Esperts”.Tujuan utama dari penulisan buku initentu saja untuk memperkenalkan wajahlain dari Islam, di samping juga mencoba meredam merebaknya paham radikalismedi pelbagai belahan dunia. Darikalangan Islam sendiri, Tariq Ramadanmenerbitkan “Western Muslims andthe Future of Islam” (2004). Guru besarstudi Islam dari Universitas Oxford inimenjelaskan bahwa, “jihad” sebenarnyatidak seperti yang dipikirkan oleh parapihak yang memiliki prasangka negatif,sejak di dalam alam bawah sadarnya.Doktrin kesungguhan dalam Islamtersebut, bersifat mulia dan mengandungnilai universal yang sangat menghargaiharkat dan martabat umat manusia (TariqRamadan, 2004: 113-115).

Ikhtiar yang serupa, juga senantiasadigalakkan di Indonesia.Sejak tahun 80-an, cendekiawan Nurcholish Madjid danAbdurrahman Wahid memperkenalkanwacana tentang Islam yang berwajahIndonesia.Kebhinekaan, toleransi dannir-kekerasan adalah konsepsi yangdielaborasi dengan pelbagai doktrin dasar Islam yang fundamental (NurcholishMadjid, 1987; Abdurrahman Wahid,1989: 83).Karya-karya dari masa kini,juga lahir dari para intelektual sepertiDenny J.A. dan Guntur Romli.Bila Dennymenggagas “Menjadi Indonesia TanpaDiskriminasi”, maka Guntur merilis“Islam Tanpa Diskriminasi”.Gagasan“Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi”adalah gerakan moral-intelektual yangdimotori oleh Denny JA dalam rangkamewujudkan Indonesia yang lebih damai.Gagasan ini belum menjadi sebuahbuku yang dipublikasikan di hadapanpublik.Sementara gagasan “Islam TanpaDiskriminasi” telah diajukan oleh GunturRomli.Bayangkan, betapa baiknya bilamelakukan kolaborasi gagasan di antaradua tesis mutakhir tersebut.Lebih dari itu, Ahmad NajibBurhani dengan sangat percaya dirimempopulerkan gagasan Islam moderatIndonesia di hadapan dunia.Suatugagasan tentang moderatisme Islamyang lebih beradab, dari pada konstruksiyang berkembang di Amerika Serikat(Ahmad Najib Burhani, 2012: 564-581).

Sedekah intelektual yang dilakukannya,secara diskursif bertujuan untuk meraih

kesadaran publik bahwa, sebenarnyadengan terus membicarakan persoalanini, sama halnya dengan melakukanupaya “de-transnasionalisasi” ideologiideologiIslam transnasional (AhmadNajib Burhani, 2012: 578) termasukterhadap mereka yang tergolong sebagaikategori radikal. Setimbang dengan hal

ini maka, pribumisasi Islam sama halnyadengan deradikalisasi Islam.Dalam praktik kehidupan beragama,sesungguhnya para pemimpin organisasiterbesar di Indonesia, seperti Nahdhatul‘Ulama dan Muhammadiyah, senantiasaberkampanye tentang pentingnya Islamyang cinta damai. Terlepas dari perbedaanstrategi dalam rangka melaksanakan“deradikalisasi”, antara Said Agil Siradjdan Din Syamsuddin, telah bekerjakeras secara bersama-sama untukmembangun masyarakat Islam Indonesiayang jauh dari sentimen ideologi IslamBasis Nilai-nilai Perdamaian: Sebuah Antitesis Radikalisme Agama di Kalangan Mahasiswa 21Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 12 No. 3radikal. Melalui salah satu wawancaratelevisi swasta, Agil Siradj dengan tegasmengklaim bahwa, “Tidak seorang pun,teroris itu berasal dari pesantren NU!”(Said Agil Siradj, 2012).

Namun sampaidi sini, apakah cukup pelbagai ikhtiarini untuk merubah Islam radikal menjaditoleran?Tentu tidak.Faktanya, radikalisme danterorisme masih saja bermunculanbelakangan ini.Beberapa mediamasa dan elektronik, kerapkali genapdengan pemberitaan tentang terorisme.Sementara itu mengenai radikalisme,saat ini tidak hanya dilakukan oleh para pemain lama seperti Majelis MujahidinIndonesia (MMI), Front Pembela Islam(FPI), Jama’ah Islamiyah (JI) dan LaskarJihad, tetapi ide-ide brutal dan kekerasantelah merebak di banyak sekali komunitasMuslim di pejuru Nusantara. Limabelas tahun terakhir, sejak bergulirnyaReformasi 1998, tindakan intoleransi,kekerasan dan konflik atas nama agamameningkat tajam. Secara aktual, telahterjadi pelbagai aksi perjuangan atasnama agama namun mencoreng martabatkemanusiaan di beberapa kota di negeriini. Transito-Mataram, Sampang-Maduradan Cikeusik-Banten adalah namanamadaerah yang pernah disinggahiperkembangan radikalisme keagamaandi Indonesia.Lalu bagaimana cara menggiringkesuksesan deradikalisasi ini? Dengankata lain, bagaimana membawa wajah keagamaan di Indonesia, menuju kepadakehidupan yang lebih beradab, yanglebih menghargai harkat dan martabatkemanusiaan? Di titik inilah pentingnyamenguji pelbagai catatan mengenai ideide,strategi dan praktik deradikalisasiyang selama ini sudah dilakukan.Kendatidemikian, hal ini adalah pembicaraanyang melampaui upaya-upaya formilderadikalisasi yang sudah dilakukan pemerintah.Karena itu, hal ini merupakanpembicaraan lebih lanjut yang berbasispada pengembangan deradikalisasi oleh actor masyarakat sipil, melalui kerjakerjasosial, keagamaan dan kebudayaan.Tulisan ini tidak akan membahas danmengevaluasi pelbagai program kontraterorismeoleh aktor Detasmen 88. Semoga dari hasil telaah ini, pada akhirnya nantiakan membawa kepada jalan alternative masalah deradikalisasi.

  1. Konsep Deradikalisasi

Deradikalisasi adalah upayauntuk membendung laju radikalisme.Radikalisme ini perlu dibendung, karenagerakan dan pemikiran individu maupunkelompok yang berorientasi padaaktivitas radikal, seperti yang mengarahpada kekerasan, peperangan dan teror,yang sangat berbahaya bagi umatmanusia. Divisi kontra-terorisme PBBberpendapat bahwa, “Deradicalization,therefore, is the process of abandoning anextremist worldview and concluding thatit is not acceptable to use violence to effect

social change.” (United Nations Counter-Terrorism Implementation Task Force, 2008: 5).Kendati demikian, pengertianini dibedakan dengan istilah kontraradikalisasi,karena sifatnya yang inginmemperluas bidang garapan, termasukmencegah timbulnya radikalisasi dikalangan kaum muda yang rentanterjaring sebagai anggota gerakan radikal(Ibid).

Namun yang perlu diperjelas,siapa yang dimaksud dengan radikalisini?Apa pula yang dimaksud denganradikalisme Islam? Dalam konteksIslam, diskusi ini sangat berhubungandoktrin fundamental yang dianut olehpemeluknya, bahkan menjadi ideology yang berdiri kokoh.Meskipun demikian,fundamentalisme belum tentu mengarahkepada radikalisme.Ada beberapa istilahyang sering disematkan kepada parapemeluk Islam, yang oleh Oliver Roydisebut “terlalu” Islami (Oliver Roy,22 Syamsul Arifin & Hasnan BachtiarHARMONI September - Desember 20131994: 2-4).

Istilah-istilah tersebut antaralain: Islamisme atau Fundamentalisme,Revivalisme, Radikalisme dan secarakhusus, juga muncul istilah Salafisme dan Wahabisme, serta beberapa sarjanayang lain menyebut pula istilah IslamTransnasional.Fundamentalisme adalahgerakan politik keagamaan kekinianyang berupaya untuk kembali kepadadasar-dasar kitab suci dan menafsirkankembali fondasi-fondasi tersebut, untukditerapkan pada kehidupan sosial danpolitik. (Roxane L. Euben, 2002: 42).Karena teks-teks kitab suci merupakantempat kembali segala aktivitaskehidupan, maka istilah ini sebenarnyajuga sepadan dengan tekstualisme,skripturalisme dan puritanisme.SyamsulArifin menandai bahwa, konsekuensi daripaham ini adalah adanya keinginan yangkuat untuk menerapkan syariat Islamdan mendirikan negara Islam (SyamsulArifin, 2010: 41-51).

Ikhwanul Muslimin,Hizbut Tahrid, Jama’ati Islami dan IslamicSalvation Front (FIS) adalah representasidari Islam fundamentalis tersebut.Namun, keterikatan terhadap teks ini,tidak selalu menempuh perjuanganmelalui jalan politik.Muhammadiyahdan Persatuan Islam, bisa menjadi contohfundamentalisme non-politik.Revivalisme tidak jauh berbedadengan fundamentalisme. Fazlur Rahmanmenandaskan bahwa, revivalisme adalahbentuk kebangkitan Islam, dalam rangkamerespon segala bentuk imperialism Barat dan kritik internal di kalangan umatsendiri, yang dianggap tidak berdayamelakukan perubahan menuju kepadakondisi yang lebih baik (Fazlur Rahman,2003). Ibn Taimiyah dan muridnya, Ibn al-Qayyim adalah tokoh-tokoh penting, yangbisa menjadi rujukan gerakan revivalismeIslam.Imdadun Rahmat menyebutbahwa, Khomeini, Hasan al-Banna, al-Maududi dan Sayyid Qutb juga termasuksebagai para tokoh revivalis.Dari sini,dapat dimengerti bahwa sesungguhnyarevivalisme adalah salah satu bentukatau varian dari fundamentalisme Islam.Hal ini, bisa berorientasi pada perubahansosial umat, namun tidak berjuangmelalui jalur politik kenegaraan sepertiyang dicontohkan Rahman, bisa pulaberorientasi politik praktis seperti yangdiungkapkan Rahmat.Sementara itu Salafisme danWahabisme adalah kategori lain darifundamentalisme Islam, mungkinjuga boleh disebut sebagai salah satubentuk revivalisme Islam, bila merujukpada pengertian Rahman. Wahabismeadalah ideologi Islam, yang berbasispada pemikiran Muhammad bin Abdal-Wahhab yang berorientasi padapemurnian Islam atau puritanisme.Wahabisme memperjuangkan adanyadoktrin fundamental agama yang murnidari segala bentuk paham lain. Dengandemikian, berarti mengidamkan zamankeemasan di mana komunitas Islam(romantisme), memiliki pemikiran yangpaling otentik sebagaimana halnya masagenerasi awal (salaf) agama tersebut.Atas alasan inilah, maka Wahabismejuga disebut dengan istilah Salafisme(Anthony Bubalo dan Greg Fealy,2005: 9-15).Namun, Natana J. De-LongBas menyatakan bahwa tidak semuaWahabi atau Salafi selalu identik denganradikalisme (Natana J. De-Long Bas, 2004:268).

Tentu saja temuan ini, tidak hendakmembantah temuan-temuan para sarjanasebelumnya, tetapi mengoreksi danmelengkapi.Fundamentalisme, Revivalisme,Wahabisme dan Salafisme ini terkaiterat dengan konsep Islam Transnasional.Peter Mandaville mengatakan bahwaterdapat dua tipe Islam, sehingga layakdisebut transnasional.Pertama, merekamerupakan kelompok dan gerakan Islam;sementara yang kedua, adalah pemikirandan ideologi. Peredaran keduanya, telahmenembus batas-batas teritorial dan

Basis Nilai-nilai Perdamaian: Sebuah Antitesis Radikalisme Agama di Kalangan Mahasiswa 23Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 12 No. 3konstitusional suatu negara. Dengan katalain, karena keberadaannya ada di pelbagaibelahan dunia, maka disebut sebagaiIslam transnasional (Peter Mandaville,2009: 11). “Jihad” dan “jihad global”, serta“khilafah global” merupakan wacanawacanayang berkembang di sekitar IslamTransnasional tersebut.Namun, kategoritransnasional ini pun, belum tentumembawa kepada radikalisme.Azyumardi Azra menegaskanbahwa, yang dimaksud denganradikalisme Islam adalah, ide-ide,pemikiran, ideologi dan gerakanIslam, yang mengarah kepada aktivitasintimidasi, kekerasan dan teror, baikkarena doktrin keagamaan, membeladiri, maupun bentuk respon terhadaplawan politik yang ditunjuknya. Biasanya mereka, berbasis pada alasan perlawananterbuka terhadap kebijakan politikdan ekonomi imperialisme Barat, serta dominasi dan hegemoni kebudayaan yangmerugikan kaum Muslim (AzyumardiAzra, 2005: 11-15).

Islam transnasionalyang radikal ini, diwakili oleh Jama’ahIslamiyah (JI) yang pernah terlibat dengan aksi aksi terorisme di Indonesiadan Laskar Jihad yang berperang atasnama agama di Ambon dan Poso.Pengertian yang dapat digarisbawahidi sini adalah bahwa, radikalismeIslam memiliki doktrin dan ajaran,yang dianggap sebagai keyakinan ataubagian ketentuan yang harus dipenuhisebagai hamba yang beriman.Denganberlandaskan pada doktrin keselamatandan teologi yang mereka yakini, merekaberusaha memperjuangkannya dalamseluruh aspek kehidupan, sekalipunbersifat dehumanistik.Iman, tauhiddan akidah yang harus diperjuangkanadalah, melawan segala musuh-musuh Islam, yaitu orang orang kafir (AntonyBubalo dan Greg Fealy, 2005: 15-27).

Dengan menimbang pengertian inimaka, deradikalisasi adalah upaya untukmenghilangkan dimensi radikal di dalam doktrin dan keyakinan mereka. Seorangteoretisi deradikalisasi, Angel Rabasaberkomentar bahwa:“Islamist deradicalization is thereforedefined as the process of rejectingthis creed, especially its beliefs in thepermissibility of using violence againstcivilians, the excommunication ofMuslims who do not adhere to theradicals’ views (takfir), and oppositionto democracy and concepts of civilliberties as currently understood indemocratic societies.” (Angel Rabasadkk., 2010: 3).

Konsekuensinya, programderadikalisasi terhadap para Islamis jauhlebih berat, karena mereka menjalankansegala bentuk radikalisme, dengananggapan, bahwa hal itu merupakankewajiban agama.Sekarang, bagaimanacaranya untuk membuat supayamenghilangkan segala bentuk dan doktrin radikalisme, sekaligus tanpameninggalkan iman mereka? (AngelRabasa dkk., 2010: 4-5). Bila Rahman danAzra berpandangan bahwa perjuanganIslam radikal semata-mata karenabentuk perlawanan yang dimotivasioleh doktrin teologis, maka untukmeredam radikalisme yang dimiliki,bisa melalui pemenuhan kebutuhan,sebelum penderitaan yang merekarasakan sebelumnya.Keinginannya harusdidengarkan, kesejahteraannya harusdijamin, segala hak-hak kemanusiaandan keadilan sosial harus diwujudkan.Gordon Clubb berkomentar bahwa, “Amilitant will refrain from terrorism only ifthe expected utility of moderation exceeds theutility of extremism” (Gordon Clubb, 2009).Hal yang menarik untuk dinegosiasikan.

  1. Ideologi sebagai Masalah Abadi

Fenomena munculnya Islam radikaltidak bisa dilepaskan dari persoalanideologi.Hal yang paling mudah untukmengidentifikasi adanya ideologi ini24 Syamsul Arifin & Hasnan BachtiarHARMONI September - Desember 2013adalah pola pikir utopis.Utopia terjadiketika kehendak alam pikir yang ideal,tidak terwujud dalam kenyataan yangsebenarnya. Merujuk pada konsep yangdimiliki Karl Mannheim, ia berpendapatbahwa, “A state of mind is utopian when itis incongruous with the state of reality withinwhich it occurs… Only those orientationstranscending reality will be referred to byus as utopian which, when they pass overinto conduct, tend to shatter, either partiallyor wholly, the order of things prevailingat the time” (Karl Mannheim, 1991: 52).

Demikianlah Mannheim mendiskusikanbahwa, realitas adalah faktor yangpenting, untuk mengidentifikasi mentaldan pemikiran seseorang atau kelompoktertentu, agar layak disebut sebagai

utopis.Utopia yang dimiliki olehkomunitas Islam yang sedang tidakberdaya, di tengah pelbagai tekanan,menyebabkan ia mengembalikan segalasesuatunya pada agama. Agama diyakinisebagai substansi abadi yang tidak lekangoleh zaman.Segala kesukaran yangberhubungan dengan ruang dan waktu,secara ideal tidak berlaku bagi agama.Mereka berpikir bahwa, dengan agamaakan mengalahkan segala yang dianggapsebagai musuh. Proses inilah di manaideologi terbentuk. Iman terhadap Tuhanyang Maha Absolut, hari akhirat, surge dan neraka, atau pendek kata, tentang sejarah keselamatan (the salvation history),tidak dapat dipungkiri bila berpotensimenjadikan ideologi sebagai masalahabadi. Ideologi “agama”, adalah masalahyang akan selalu ada di setiap zaman.Secara lebih jauh, pada akhirnya kondisidan situasi yang berat, di kemudianhari memberikan motivasi khusussehingga tema-tema seperti “jihad” dan“peperangan” muncul sebagai diskursusideologis.

Dari sini, thesis NurcholishMadjid mengenai kehidupan beragamadi masa depan, patut diperhitungkan.Ia menjelaskan bahwa, agama dankeberagamaan harus menjadi refleksi

bersama, agar supaya segala hasilperhitungan kritis yang diupayakanmampu menjadi nasehat bagi masingmasingpribadi yang meyakini kebenaranagama, maupun umat beragama itusendiri. Mengenai radikalisme yang ada,ia mencoba memikirkan perenunganyang diajukan oleh A.N. Wilson melalui

novelnya yang berjudul “AgainstReligion: Why We Should Live WithoutIt” (1991). Ia sampai pada kesimpulanbahwa, bukan sekedar umat beragamayang bisa dipersalahkan karena duniaini penuh dengan tindak laku yang antikemanusiaan, tetapi juga agama itusendiri, mengandung potensi negative yang diluar dugaan (Nurcholish Madjid,1991).Di samping itu, hasil penelitianAnthony Bubalo dan Greg Fealy jugasangat penting dipertimbangkan, karenasedemikian detil mencermati mereka yang disebut Islam radikal. Keduanyamenjelaskan bahwa, karena tekanan yang hebat secara psikologis, ekonomi,politik, sosial dan budaya, muncullahkeberanian dari individu atau kelompok yang mencoba menampilkan “protes”terhadap struktur kuasa atau para pihakyang menjadikan mereka menjadi korban.Sebagai gambaran riil dari persoalan ini,Mohammed Abd el-Salaam Faraj, pelakupembunuhan presiden Anwar Sadat(1981) dianggap sebagai representasi darieksistensi Islam radikal. Secara dramatisbahkan, melalui penerbitan rahasia yangberjudul al-Farida al-Ghaiba (pengabaiantanggungjawab), Faraj berhasilmengartikulasikan segala legitimasiteologis atas apa yang telah ia kerjakandengan penuh kebanggaan, walaupunberbuah hukuman mati (Anthony Bubalodan Greg Fealy, 2005: 19-20).Hal ini benar-benar menarik.Merujuk kepada penerbitan akademikoleh David C. Rapoport yang berjudulBasis Nilai-nilai Perdamaian: Sebuah Antitesis Radikalisme Agama di Kalangan Mahasiswa 25Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 12 No. 3“Sacred Terror: A Contemporary Examplefrom Islam” (1998), ia mengatakanbahwa, segala klaim Faraj secara dramatistelah memberi efek yang luar biasa padakebangkitan agama di Mesir (David C.Rapoport, 1998: 103 130). Dalam suratnya,Faraj menyampaikan:

“Para pemimpin pada eraini telah murtad dari Islam.Mereka dibesarkan berdasarkanimperialism, menjadi pendukungPerang Salib, Komunis atauZionis. Mereka tidak menjalankanajaran Islam yang mana pun…meskipun mereka shalat, puasadan menyatakan diri Muslim.Adalah aturan Islam yang jelasjelasmengatakan bahwa hukumanbagi orang murtad akan lebih beratdaripada orang yang sejak semulasudah kafir… Orang murtad harusdibunuh meskipun ia tidak mampuberperang. Orang kafir yang tidakberperang tidak boleh dibunuh.”(Ibid).

Ada pelajaran penting dari kejadianini bahwa sesungguhnya agama benarbenardiidamkan oleh banyak orang,ketika dihadapkan dengan persoalanpersoalansosial kemanusiaan dankeadilan yang tidak pernah terpenuhioleh pelbagai sebab, termasuk kezalimanpenguasa. Dengan begitu, di tengahkecaman dan kritik terhadap penerbitan“The Clash of Civilization” (Lihat,Samuel Huntington, 1996) sebenarnyaterdapat sisi positif dari pertarungandiskursif mengenai benturan peradaban,antara Timur dan Barat atau Islam danKristen. Paling tidak, sisi baik itu adalahmeningkatkan daya tawar terhadapagama-agama, termasuk Islam, untukdikaji dan dianut secara lebih baik.Dalam konteks Indonesia sendiri,seperti yang sudah dicatat oleh EkoPrasetyo, bahwa Imam Samuderasebagai terpidana terorisme menuliskancurahan hatinya mengenai “ideologi”yang diyakininya. Ia yakin bahwa aksiteror tersebut merupakan kebenaranyang akan mengantarkan kepada rahmatTuhan. Dalam pernyataannya, “Abi beradadi jalan yang haq. Biarkan Abi terluka di matasejarah, di mata manusia yang tidak mengertiakan hakikat sebuah perjuangan di jalanAllah. Ikhlas dan bersabarlah di jalan Allah.”(Eko Prasetyo, 2003: 298). Apa yangdiungkapkan Imam Samudra ini samapersis dengan apa yang telah dilakukanoleh Faraj. Dengan kata lain, sebenarnyamelampaui persoalan teroterial dansosiologis, hal ini mengandung sebuahpelajaran bahwa ide-ide kebangkitanIslam dalam bentuknya yang radikal,merupakan hal yang bisa lahir di manasaja dan kapan saja.

Dengan demikian, memahamibahwa masalah ideologi keagamaanyang radikal ini berpotensi abadi, kiranyaperlu mempertimbangkan peluangderadikalisasi yang ditangani oleh actor masyarakat sipil, termasuk di kalangankaum beragama itu sendiri. Denganmengajukan ide-ide alternatif di luarkekerasan, pemberontakan, peperangandan terorisme, akan memberikanharapan untuk penghayatan agama yanglebih baik. Memang merubah perspektifradikal menuju pandangan yang lebihlunak, diperlukan usaha yang sungguhsungguhdan kreativitas, termasukgagasan-gagasan yang belum pernahdipikirkan para ahli sebelumnya.

 

Ideologi Islam Transnasional Radikal

Pasca Reformasi

Azyumardi Azra menjelaskanbahwa koneksi Islam Transnasionaldari Timur Tengah, sebenarnya telah

terbangun sejak lama. Memperbincangkanpersoalan ini, sama halnya denganberdiskusi persoalan sejarah Islam diNusantara. Tipologi Islam Asia Tenggara,Indonesia dan Malaysia yang cenderungskripturalis-ortodoks, berasal dari para26 Syamsul Arifin & Hasnan BachtiarHARMONI September - Desember 2013sarjana yang pernah belajar ke Haramain(Mekkah dan Madinah) dan kemudianmemperkenalkan ajaran yang dianggaplebih otentik di tempat asal merekamasing-masing.Atas upaya ini, orientasisyariah lebih mengemuka dari pada ajaranpanteistik dan yang lebih bernafas mistik.Di Jawa misalnya, Islam yang membaurdengan ajaran Hindu atau Budha dapatdirasakan keberadaannya.Tentu sajaajaran tersebut dianggap tidak sesuaidengan Islam dari tempat kelahirannya.Kampanye untuk memperkenalkan Islamyang lebih mengapresiasi keaslian ini,terjadi sejak abad ke 16 (Azyumardi Azra,2005: 11-15).

Pada abad ke 19-20, haji orangorangIndonesia, memberikan peranpenting dalam memperkenalkan ideology Wahabisme. Lahirlah Muhammadiyahpada 1912, al-Irsyad pada 1913 dan Persispada 1920an. Namun dari sini, kendatibeberapa organisasi Islam tersebut dikenalpuritan dan skripturalis, masih sukarkiranya untuk mengidentifikasi merekasebagai bagian dari Islam Transnasional.Mungkin, persebaran Wahabismemenuju seluruh belahan dunia belumterlalu masif.Atau bahkan, ideologi Islamglobal belum pernah digagas, kecualisejak munculnya ide Pan-Islamisme ataukebangkitan Islam diseluruh negeri.Pada 1980an melalui tangan parapemikir seperti Abu al-A’la al-Maududi, Sayyid Qutb dan Taqiyuddin al-Nabhanidan gerakan Islam Timur Tengah sepertiIkhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dansejenisnya yang berkembang di pelbagaitempat, ide-ide penegakan syariat Islam dan pendirian negara Islam, bahkankhilafah global telah berkembang. Di saatyang sama, para pemikir Muslim yangmemiliki pemikiran lain seperti FalurRahman, Ismail al-Faruqi, Syed Naquib al-Attas, Seyyed Hossein Nasr dan yanglain, juga mulai bermunculan.Rahmat menandaskan bahwa,transmisi Islam Transnasional diIndonesia juga disebabkan olehsuperioritas Islam Timur Tengah.Sepertiterjadi gerakan dari pusat ke pinggiran.Konsep ini mirip seperti tentang adanyahigh tradition dan low tradition. Karenaitulah maka, Timur Tengah, Arabdianggap lebih Islami ketimbang negaranegaralain yang tidak memiliki riwayatsejarah kelahiran agama Muhammadtersebut. “Maka tidak mengada-ada jikadikatakan telah muncul ‘Islam Global’yang memiliki karakter Timur Tengah.”(Imdadun Rahmat, 77-79).

 

Kesimpulan

Fenomena Islam TransnasionalRadikal, terorisme, kontra-terorismedan deradikalisasi bukanlah sekedarpersoalan bagaimana membuat individuatau kelompok agar memiliki pemikiranatau ideologi keagamaan yang lebihlunak dan tidak menggunakan cara-carakekerasan dan teror dalam beragama.Namun, persoalan ini menjangkau seluruhpersoalan mengenai krisis kemanusiaan,keadilan sosial dan peradaban.Ideologikeagamaan yang berpotensi menjadimasalah abadi dalam kaitannya denganradikalisme keagamaan, sesungguhnyalahir karena krisis kemanusiaan tersebut.Maka, meninjau ulang pemikiranderadikalisasi dan memberikan jalanalternatif melalui pembangunan agama,sosial, ekonomi, politik dan kebudayaanoleh aktor-aktor masyarakat sipil,sebenarnya patut diperhitungkan.

Reformasi agama dan keberagamaanyang memperjuangkan hak asasi manusia,kesetaraan, kebebasan, pluralisme dankeadilan sosial, adalah praksis dari hasilpembaruan deradikalisasi.Di samping itu,menghidupkan kembali nilai-nilai hidupdi masing-masing tempat kita berasaldan berpijak, juga merupakan pelajaranpenting mengenai deradikalisasi. Seiringdengan ini semua, pemerintahan yang

bersih, penegakan hukum dan keadilan,serta jaminan kesejahteraan, keamanan dan demokrasi, juga menjadi kunci suksesderadikalisasi.

 

Daftar Pustaka

Abdurrahman, Moeslim, 2009. Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan: Menuju Demokrasi dan

Kesadaran Bernegara. Yogyakarta: Kanisius.

Abrahamian, Ervand, 2003. “The US media, Huntington and September 11,” Third World

Quarterly, Vol. 24, No. 3.

Ahnaf, Muhammad Iqbal, 2006. “Fundamentalism as a Resistant Enemy,” The Image of

the Other as Enemy (Bangkok: Asian Muslim Action Network and Silkworm.

Arifin, Syamsul, 2010. Ideologi dan Praksis Gerakan Sosial Kaum Fundamentalis.Malang:

UMM Press.

Azyumardi Azra, 2005. Islam in Southeast Asia: Tolerance and Radicalism. Melbourne: The

Centre for the Study of Contemporary Islam, the University of Melbourne.

Bas, Natana J. De-Long, 2004. Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad. New

York: I.B. Tauris.

Basis Nilai-nilai Perdamaian: Sebuah Antitesis Radikalisme Agama di Kalangan Mahasiswa 35

Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 12 No. 3

Bubalo, Anthony dan Greg Fealy, 2005.Joining the Caravan? The Middle East, Islamism and

Indonesia. New South Wales: Lowy Institute for International Policy.

Burhani, Ahmad Najib, 2012. “Al-Tawassut wa-l I’tidal: The NU and Moderatism in

Indonesian Islam,” Asian Journal of Social Science, 40.

Chua, Amy, 2003. World on Fire: How Exporting Free Market Democracy Breeds Ethics Hatred

and Global Instability. New York: Doubleday.

Clubb, Gordon, 2009. “Re-Evaluating the Disengagement Process: The Case of Fatah,”

Perspectives on Terrorism, Vol. 3, No. 3.

Esposito, John L., 2002. Unholy War: Terror in the Name of Islam. New York: Oxford

University Press.